KOMPAS
Published at
Ekspor Batu Bara AS ke Indonesia Melonjak 158 Persen
JAKARTA, KOMPAS.com – Amerika Serikat (AS) mencatatkan kenaikan ekspor batu bara pada kuartal I 2026.
Di tengah penurunan konsumsi domestik, pengiriman batu bara ke pasar internasional mencapai 23,69 juta short ton (MMst), naik 0,9 persen dibandingkan kuartal IV 2025 yang sebesar 23,47 juta short ton.
Berdasarkan Quarterly Coal Report yang dirilis US Energy Information Administration (EIA), rata-rata harga ekspor batu bara AS pada periode Januari-Maret 2026 mencapai 114,22 dollar AS per short ton.
Seluruh data untuk 2025 dan 2026 masih bersifat sementara (preliminary).
Kawasan Asia masih menjadi pasar utama batu bara AS. India tetap menjadi tujuan ekspor terbesar, sementara Indonesia mencatatkan lonjakan impor paling signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Asia masih menjadi pasar utama
Data EIA menunjukkan, ekspor batu bara AS ke kawasan Asia mencapai 13,08 juta short ton pada kuartal I 2026. Angka tersebut meningkat 5,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 12,39 juta short ton.
Dengan volume tersebut, lebih dari separuh ekspor batu bara AS sepanjang kuartal pertama tahun ini dikirim ke negara-negara Asia.
Kawasan ini menjadi tujuan terbesar dibandingkan Eropa, Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara, maupun Australia dan Oseania.
Selain menjadi pasar terbesar, Asia juga menjadi kawasan dengan sejumlah negara yang mencatatkan kenaikan impor batu bara dari AS, termasuk Indonesia, Korea Selatan, Singapura, Vietnam, dan India.
India tetap menjadi pembeli terbesar
India mempertahankan posisinya sebagai tujuan utama ekspor batu bara AS. Perbesar
Sepanjang Januari-Maret 2026, ekspor batu bara AS ke India mencapai 7,46 juta short ton. Volume tersebut meningkat 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 7,18 juta short ton.
Jumlah tersebut juga jauh melampaui negara tujuan lainnya. Dari total ekspor batu bara AS ke Asia yang mencapai 13,08 juta short ton, lebih dari separuhnya dikirim ke India.
Di bawah India, Korea Selatan menerima 1,66 juta short ton batu bara AS atau meningkat 84,5 persen dibandingkan kuartal I 2025.
Sementara itu, Jepang menjadi tujuan berikutnya dengan volume 1,48 juta short ton. Berbeda dengan India dan Korea Selatan, ekspor ke Jepang justru turun 19,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ekspor batu bara AS ke Indonesia melonjak lebih dari 150 persen
Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan impor batu bara AS paling tinggi.
Pada kuartal I 2026, ekspor batu bara AS ke Indonesia mencapai 1,74 juta short ton. Jumlah tersebut melonjak 158,4 persen dibandingkan kuartal I 2025 yang sebesar 673.608 short ton.
Bahkan dibandingkan kuartal IV 2025, ekspor batu bara AS ke Indonesia juga meningkat dari 1,32 juta short ton menjadi 1,74 juta short ton.
Dengan volume tersebut, Indonesia menjadi tujuan ekspor terbesar kedua di Asia setelah India, sekaligus masuk tiga besar negara tujuan ekspor batu bara AS secara global pada kuartal pertama tahun ini.
Selain Indonesia, negara-negara Asia lainnya yang menjadi tujuan ekspor batu bara AS antara lain Malaysia sebanyak 164.361 short ton, Pakistan 132.311 short ton, Singapura 197.569 short ton, Vietnam 174.680 short ton, China 67.431 short ton, Thailand 1.864 short ton, serta Uni Emirat Arab sebanyak 90 short ton.
Eropa masih menjadi pasar terbesar kedua
Di luar Asia, Eropa tetap menjadi kawasan tujuan ekspor terbesar kedua bagi batu bara AS.
Sepanjang kuartal I 2026, ekspor ke kawasan tersebut mencapai 5,63 juta short ton. Namun, jumlah itu turun 10,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 6,27 juta short ton.
Belanda menjadi tujuan utama ekspor batu bara AS di kawasan Eropa dengan volume mencapai 2,25 juta short ton.
Setelah itu disusul Turki sebanyak 689.701 short ton, Ukraina 511.320 short ton, Perancis 360.730 short ton, Jerman 352.919 short ton, Polandia 305.771 short ton, Italia 297.270 short ton, serta Spanyol 245.350 short ton.
Sementara itu, ekspor ke Inggris mencapai 35.759 short ton atau turun 47,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Brasil mendominasi pasar Amerika Selatan
Amerika Selatan menjadi tujuan ekspor berikutnya dengan total pengiriman mencapai 2,18 juta short ton atau naik 9,6 persen dibandingkan kuartal I 2025.
Sebagian besar ekspor ke kawasan tersebut ditujukan ke Brasil yang mengimpor 2,04 juta short ton batu bara AS.
Argentina menjadi tujuan terbesar berikutnya dengan volume 132.035 short ton, sedangkan Chile menerima 128 short ton.
Di kawasan Afrika, ekspor batu bara AS mencapai 2,26 juta short ton. Maroko menjadi tujuan utama dengan volume 1,44 juta short ton, disusul Mesir sebanyak 764.807 short ton dan Togo sebesar 50.520 short ton.
Adapun ekspor ke Amerika Utara tercatat 537.633 short ton atau turun 38,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagian besar pengiriman ditujukan ke Kanada sebanyak 387.335 short ton.
AS masih mengimpor batu bara
Di sisi lain, Amerika Serikat juga masih melakukan impor batu bara meski merupakan salah satu eksportir dunia.
Pada kuartal I 2026, impor batu bara AS mencapai sekitar 0,7 juta short ton. Sebanyak 68,5 persen impor berasal dari Kolombia, sedangkan 17,5 persen berasal dari Kanada.
Rata-rata harga impor batu bara AS selama periode Januari-Maret 2026 mencapai 134,74 dollar AS per short ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga ekspornya yang sebesar 114,22 dollar AS per short ton.
Berdasarkan jenisnya, ekspor batu bara termal (steam coal) mencapai 10,4 juta short ton atau naik 1,9 persen dibandingkan kuartal IV 2025.
Sementara ekspor batu bara metalurgi (metallurgical coal) mencapai 13,3 juta short ton atau meningkat tipis 0,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Konsumsi batu bara domestik AS menurun
Berbeda dengan kinerja ekspor, konsumsi batu bara di dalam negeri AS justru mengalami penurunan.
EIA mencatat konsumsi batu bara AS pada kuartal I 2026 sebesar 105 juta short ton. Angka tersebut turun 2,9 persen dibandingkan kuartal IV 2025 yang mencapai 108,2 juta short ton.
Jika dibandingkan dengan kuartal I 2025 yang mencapai 118,5 juta short ton, konsumsi batu bara AS turun lebih dalam, yakni sebesar 11,4 persen.
Sektor pembangkit listrik masih menjadi pengguna batu bara terbesar dengan kontribusi sekitar 91,7 persen terhadap total konsumsi batu bara AS selama kuartal pertama tahun ini.
Seiring penurunan konsumsi, stok batu bara AS justru meningkat. Pada akhir kuartal I 2026, stok batu bara mencapai 137,7 juta short ton, naik 1,1 persen dibandingkan posisi akhir kuartal IV 2025 yang sebesar 136,2 juta short ton.
Di sektor pembangkit listrik, stok batu bara bertambah menjadi 110,9 juta short ton dari sebelumnya 109,5 juta short ton pada akhir 2025.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at