KONTAN
Published at
January 12, 2026 at 12:00 AM
Dipengaruhi Permintaan China, Simak Rekomendasi Saham Emiten Batubara Pilihan Analis
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emiten sektor batubara mencatat penurunan kinerja sepanjang Januari – September 2025. Permintaan China hingga harga komoditas menjadi sejumlah faktor yang dapat memperbaiki kinerja sektor ini ke depannya.
Inav Haria Chandra, Analis Sinarmas Sekuritas menilai bahwa permintaan batubara termal China mendekati puncak struktural, dengan kemungkinan mencapai puncaknya sebelum tahun 2030.
Meskipun kekhawatiran keamanan energi terus mendorong peningkatan produksi batubara dan persediaan yang mencapai rekor tertinggi hingga tahun 2025, dinamika permintaan yang mendasarinya menunjukkan lintasan yang melambat.
“Pangsa batubara dalam bauran energi telah terus menurun, dan kami memperkirakan akan turun di bawah 50% pada akhir dekade ini seiring dengan peningkatan penyebaran energi terbarukan,” ujar Inav dalam risetnya pada 7 Januari 2026.
Inav mencatat panduan Rencana Lima Tahun yang direvisi oleh pemerintah China memperkenalkan lebih banyak fleksibilitas dengan menyatakan bahwa mereka bertujuan untuk "mencari puncak" dalam penggunaan batubara dan minyak selama tahun 2026–2030.
Ini menggantikan komitmen sebelumnya untuk "mengurangi secara bertahap".
Inav menafsirkan hal tersebut sebagai kalibrasi ulang kebijakan pergeseran jalur dekarbonisasi. Meskipun pembakaran batubara jangka pendek mungkin berlanjut, Ia percaya permintaan sektor energi telah memasuki fase pertumbuhan yang menurun.
“Dengan latar belakang ini, kami melihat potensi kenaikan yang terbatas untuk harga batubara yang diangkut melalui laut dalam jangka panjang, dan memandang hambatan struktural akan terus membatasi valuasi produsen batubara murni,” kata Inav.
Inav percaya revisi produksi Indonesia tahun 2026 akan bertindak sebagai penstabil harga di tengah melemahnya permintaan impor Tiongkok, memperkuat tesis batas bawah harga di level US$ 100/ton – US$ 110/ton.
Pada level ini, sekitar 10% dari produsen global, termasuk 74% pasokan Rusia, beroperasi di bawah biaya tunai, meningkatkan kemungkinan pemotongan pasokan di masa mendatang.
“Meskipun disiplin sisi pasokan ini membantu menahan risiko penurunan, kami melihat tekanan yang meningkat pada kualitas pendapatan,” terang Inav.
Inav melihat volume ekspor Indonesia yang berkurang dan alokasi Domestic Market Obligation (DMO) yang lebih tinggi kemungkinan akan mengurangi harga jual rata – rata (ASP) dan menekan margin, terutama untuk produsen dengan paparan yang lebih besar terhadap batubara berkualitas tinggi, yang lebih bergantung pada melemahnya pasar pengiriman laut.
Para penambang ini menghadapi risiko penurunan yang sangat besar karena ASP mereka lebih sensitif terhadap pergeseran harga dan memiliki perlindungan terbatas dari penetapan harga domestik yang diatur.
“Secara keseluruhan, meskipun harga mungkin tetap stabil, profitabilitas sektor dapat tetap terhambat secara struktural karena margin yang tertekan dan kualitas campuran yang memburuk,” jelas Inav.
Rizal Rafly, Analis Ajaib Sekuritas Asia Fundamental memproyeksikan permintaan batubara domestik tetap stabil.
Penggunaan batubara diproyeksikan sekitar 200 metric ton (Mt) –230 Mt pada tahun 2026 dibandingkan 233 Mt pada tahun 2024 dan sekitar 220 Mt pada tahun 2025, yang memicu perdebatan tentang peningkatan 25% DMO, karena produksi 750 Mt akan mengurangi volume DMO menjadi 188 Mt, di bawah kebutuhan sekitar 230 Mt.
Secara keseluruhan, pajak ekspor, disiplin produksi, dan potensi pengetatan DMO akan mendefinisikan kembali lanskap batubara Indonesia tahun 2026 dan kekuatan penetapan harganya di pasar di mana India dan Asia Tenggara mencakup sekitar 35% dari permintaan.
“Kami memperkirakan harga batubara akan stabil atau secara bertahap pulih menuju kisaran US$ 120/ton – US$ 125/ton pada tahun 2026, didukung oleh pengetatan pasokan dan permintaan impor yang kuat secara struktural dari India dan Asia Tenggara,” ucap Rizal dalam risetnya pada 12 Desember 2025.
Analis Philip Sekuritas Indonesia, Helen mengatakan beberapa faktor kunci yang mempengaruhi kinerja emiten batubara antara lain paparan penjualan batubara yang signifikan terhadap pasar domestik dan rasio pembayaran dividen yang tinggi.
Adapun risiko potensial meliputi fluktuasi harga batubara dan kebijakan iklim yang terus berkembang.
Inav merekomendasikan Buy saham PT Indika Energi Tbk (INDY) dengan target harga Rp 3.300 per saham. Rizal merekomendasikan Buy saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan target harga Rp 24.300 per saham. Sedangkan Helen merekomendasikan Hold saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 2.400 per saham.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at