TEMPO
Published at
Danantara Gandeng Perusahaan AS untuk Hidupkan DME Batu Bara
BADAN Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia menggandeng perusahaan energi asal Amerika Serikat, Latitude Energy Holdings Inc., untuk mengembangkan proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Kerja sama ini menandai upaya terbaru pemerintah menghidupkan kembali proyek hilirisasi batu bara yang sempat terhenti setelah investor sebelumnya mengundurkan diri.
Latitude Energy akan menjajaki pengembangan proyek gasifikasi batu bara di Indonesia menggunakan teknologi Transport Integrated Gasification (TRIG) melalui nota kesepahaman yang diteken kedua perusahaan. Teknologi tersebut diklaim mampu mengubah batu bara menjadi gas sintetis yang selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai produk, termasuk DME sebagai substitusi liquefied petroleum gas (LPG).
Chief Executive Officer PT Danantara Development Management Fund Sigit P. Santosa mengatakan kerja sama tersebut sejalan dengan strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi melalui pemanfaatan batu bara berkalori rendah.
"Sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan sumber daya batu baranya melalui teknologi konversi canggih yang dapat mendukung kebutuhan energi dalam negeri," kata Sigit dalam keterangan tertulis, dikutip Ahad, 12 Juli 2026.
Dalam kerja sama tersebut, Latitude Energy menawarkan dukungan teknis, manajemen, dan investasi untuk membangun platform gasifikasi batu bara yang dapat dikembangkan dalam skala besar.
Sementara itu, Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta Joy M. Sakurai mengatakan teknologi energi dari Amerika Serikat berpotensi mendukung ketahanan energi dan pengembangan industri Indonesia sekaligus memperkuat hubungan investasi kedua negara.
Kerja sama ini menjadi langkah lanjutan pemerintah setelah pada Maret 2025 memutuskan menghidupkan kembali proyek DME. Saat itu, Ketua Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional Bahlil Lahadalia mengatakan Danantara akan menjadi salah satu sumber pendanaan proyek pengolahan batu bara menjadi DME yang akan dikembangkan di Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
Proyek DME pertama kali digagas pada 2018 melalui kerja sama PT Bukit Asam Tbk, PT Pertamina (Persero), dan Air Products and Chemicals Inc. dari Amerika Serikat. Proyek senilai sekitar US$ 15 miliar itu ditargetkan menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun untuk mengurangi impor LPG.
Namun, rencana tersebut terhenti setelah Air Products mengundurkan diri pada 2023. Saat itu, PT Bukit Asam tidak menjelaskan alasan hengkangnya perusahaan asal Amerika Serikat tersebut.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa sebelumnya menilai biaya produksi DME berbahan baku batu bara masih terlalu tinggi untuk bersaing dengan LPG.
Menurut Fabby, agar harga DME kompetitif, harga batu bara harus berada di kisaran US$ 15-20 per ton. Sementara biaya produksi batu bara PT Bukit Asam berada di sekitar US$ 45 per ton. Setelah memperhitungkan margin, biaya bahan bakunya mencapai sekitar US$ 55 per ton, jauh di atas tingkat yang dinilai ekonomis.
Kajian Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) pada 2020 juga memperkirakan proyek gasifikasi batu bara menjadi DME berpotensi merugi sekitar US$ 377 juta dari sisi biaya operasional dan pembiayaan. Angka tersebut jauh lebih besar dibanding potensi penghematan impor LPG yang saat itu diperkirakan hanya sekitar US$ 19 juta.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at