CNBC INDONESIA
Published at
China Tiba-Tiba Bawa Petaka, Harga Batu Bara Dunia Ambruk
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara dunia melemah sepanjang pekan kedua Juli 2026 dipengaruhi permintaan China, importir utama batu bara dunia, yang turun.
Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara acuan Newcastle kontrak pengiriman September melemah 2,2% menjadi US$128.75 per ton pada perdagangan sesi terakhir, Jumat (10/7/2026). Pelemahan ini memberatkan kinerja mingguan batu bara hingga ditutup turun 0,19% dari pekan sebelumnya.
Turunnya harga batu bara dunia sepanjang pekan dihantui oleh melemahnya permintaan dari China. Negara tersebut selama ini menjadi penopang utama harga batu bara di kawasan.
Pelemahan yang awalnya hanya terjadi di pasar domestik China kini telah menyebar ke pasar batu bara laut (seaborne), sehingga menyeret turun harga batu bara acuan Newcastle Australia, harga FOB Indonesia, hingga harga batu bara impor di India.
Kondisi pasar kini berbalik dibandingkan Mei hingga awal Juni, ketika kekhawatiran terhadap pasokan, ketidakpastian ekspor Indonesia, dan permintaan musiman sempat menopang harga.
Kini, stok batu bara pembangkit listrik di Asia berada pada level yang nyaman, aktivitas industri melemah, pasokan batu bara domestik di China dan India melimpah, serta datangnya musim hujan di India membuat aktivitas pembelian semakin berkurang.
Pasar batu bara domestik China melemah cepat dalam dua pekan terakhir, menghilangkan salah satu faktor utama yang menopang harga batu bara Asia.
Kekhawatiran mengenai inspeksi tambang, gangguan pasokan, serta keterbatasan ekspor Indonesia mulai mereda. Sebaliknya, pasar kini dihadapkan pada kondisi persediaan yang meningkat dan konsumsi yang melambat.
Pembangkit listrik di China memiliki stok yang mencukupi. Persediaan di pelabuhan-pelabuhan utara terus bertambah, terminal di China Selatan hampir penuh, sementara kapal pengangkut batu bara impor mulai mengalami keterlambatan bongkar muat.
Curah hujan yang tinggi meningkatkan produksi listrik tenaga air sehingga mengurangi konsumsi batu bara. Di sisi lain, konsumen industri seperti pabrik semen dan produsen bahan kimia hanya membeli batu bara sesuai kebutuhan jangka pendek.
Harga batu bara di mulut tambang turun sekitar 5-20 yuan per ton di sejumlah wilayah produksi karena pembeli mulai lebih berhati-hati.
Tarif angkutan batu bara domestik juga turun tajam. Tarif pengiriman dari Qinhuangdao ke Shanghai merosot dari US$7,09 per ton pada pertengahan Juni menjadi hanya US$3,12 per ton pada awal Juli, mencerminkan perlambatan distribusi batu bara di pesisir China.
Meskipun demikian, harga batu bara tidak tenggelam lebih jauh karena adanya ekspektasi harga batu bara metalurgi stabil hingga 2031 dan ekspor meningkat
Menurut laporan prospek kuartalan Kementerian Industri, Sains, dan Sumber Daya Australia, Australia tetap menjadi eksportir batu bara metalurgi terbesar di dunia pada 2025-2026 dengan ekspor mencapai 147 juta metrik ton, di mana lebih dari 95% produksinya dikirim ke pasar luar negeri.
Harga batu bara metalurgi diperkirakan relatif stabil secara riil hingga 2031.
Sementara itu, volume ekspor diproyeksikan meningkat seiring bertambahnya produksi dari tambang-tambang utama. Namun, pendapatan ekspor diperkirakan menurun secara bertahap selama periode tersebut meski harga tetap relatif stabil.
Laporan itu juga mencatat konflik di Timur Tengah hanya berdampak terbatas terhadap pasokan batu bara metalurgi. Namun, kenaikan biaya asuransi, pengiriman, dan solar telah meningkatkan biaya perdagangan.
Impor batu bara metalurgi global melalui jalur laut tetap berada di kisaran 25-30 juta metrik ton per bulan. Produksi baja dengan basic oxygen furnace (BOF) masih mendominasi, meski penggunaan electric arc furnace (EAF) terus meningkat sejak 2020.
Rute pelayaran yang lebih panjang, terutama antara kawasan Atlantik dan Asia, membuat biaya pengiriman meningkat sehingga meningkatkan daya saing relatif pemasok Australia.
Meski perlambatan ekonomi global akibat konflik Timur Tengah dapat memengaruhi permintaan, Australia memperkirakan perdagangan batu bara metalurgi global akan tetap stabil selama tidak terjadi gangguan tambahan.
India dan Asia Tenggara diperkirakan menjadi sumber utama pertumbuhan permintaan karena produksi baja secara bertahap bergeser dari China.
Di sisi lain, meningkatnya penggunaan teknologi EAF diperkirakan akan mengurangi porsi produksi baja berbasis BOF yang lebih intensif menggunakan batu bara, sehingga membatasi pertumbuhan permintaan batu bara metalurgi dalam jangka panjang.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at