BISNIS INDONESIA
Published at
Berburu Saham Batu Bara Mercy Harga Bajaj PTBA, ITMG, BUMI Cs
Bisnis.com, JAKARTA – Rapor saham-saham batu bara Indonesia mulai dari PTBA, ITMG, hingga BUMI bervariasi pada periode berjalan 2026.
Sampai dengan Rabu (29/7/2026), sejumlah saham batu bara mampu mencetak return positif dengan mencetak kenaikan harga untuk periode berjalan 2026.
Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) misalnya mencetak kenaikan 11,35% untuk periode berjalan 2026. Sementara itu, saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) menguat tipis 0,4% sepanjang periode yang sama.
Sebaliknya, koreksi cukup dalam dialami oleh saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) untuk periode year-to-date (ytd) 2026. Harga saham per lembar tercatat telah mengalami koreksi 61,67% tahun ini.
Dari sisi valuasi, saham ITMG masih dibanderol dengan valuasi mercy harga bajaj ala Lo Kheng Hong alias masih memiliki nilai PER rendah. Data menunjukkan saham ITMG memiliki PER 8,52 kali hingga Rabu (29/7/2026).
Sementara itu, saham PTBA tercatat memiliki nilai PER yang juga masuk kategori mercy harga bajaj sebesar 8,04 kali. Sedangkan, saham BUMI saat ini memiliki nilai PER 37,40 kali.
Sebagai catatan, indikator ini memang bukan satu-satunya pisau analisis yang digunakan untuk menentukan mahal atau murahnya valuasi suatu saham. Namun, pendekatan ini kerap disebut investor kawakan seperti Lo Kheng Hong (LKH) sebagai cara paling sederhana dan menyebutnya sebagai saham mercy harga bajaj.
Kalangan analis juga memiliki beragam pandangan untuk prospek emiten batu bara Indonesia.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap, Fadhlan Banny, dan Ahnaf Yassar dalam risetnya menjelaskan bahwa saham-saham berbasis komoditas mulai pulih dari posisi terendahnya didorong oleh serangkaian perkembangan kebijakan pemerintah yang mendukung emiten eksportir.
Di sektor batu bara, kejelasan mekanisme ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) telah memberikan ketenangan bagi pelaku pasar.
"Berdasarkan diskusi terbaru kami dengan DSI, skema ekspor terpusat Indonesia kini berkembang menjauh dari model yang sebelumnya dikhawatirkan pasar sebagai state trading hub atau pusat perdagangan negara. DSI secara tegas membantah akan beroperasi sebagai merchant trader penuh," ujar analis dikutip Jumat (24/7/2026).
Selain itu, PT DSI juga menegaskan bahwa harga komoditas tidak akan ditentukan negara, melainkan tetap mengikuti mekanisme harga acuan dengan rentang toleransi yang telah ditetapkan.
Sentimen positif lainnya adalah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang sedang mempertimbangkan revisi mekanisme harga domestic market obligation (DMO) batu bara untuk PLN, serta membuka kemungkinan kenaikan kuota produksi dalam RKAB 2026.
Berdasarkan regulasi yang sedang berlaku sekarang, batas harga DMO untuk batu bara sektor kelistrikan ditetapkan senilai US$70 per ton, sedangkan ke sektor industri seperti semen dan pupuk sebesar US$90/ton. Ketentuan tersebut tidak berubah sejak 2018.
"Bagi perusahaan tambang mineral, revisi volume produksi RKAB diperkirakan memberikan dampak yang beragam. Emiten yang paling diuntungkan adalah perusahaan yang selama ini menghadapi keterbatasan pasokan bahan baku untuk kebutuhan smelter mereka," ujar analis.
Dengan adanya sentimen positif dari arah kebijakan pemerintah ini, Samuel Sekuritas menyematkan rating overweight terhadap saham-saham emiten batu bara. Rating tersebut lebih baik dibandingkan dengan saham komoditas lainnya seperti nikel dan CPO-hilir yang mendapat rating netral.
Faktor Penggerak Saham BUMI
Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menjelaskan kenaikan harga saham BUMI dalam sepekan terakhir lebih merupakan hasil dari kombinasi berbagai sentimen.
Sentimen tersebut seperti makro yang membaik, rebound IHSG, rotasi dana ke sektor energi, stabilisasi harga batu bara, technical breakout, peningkatan volume transaksi, dan membaiknya persepsi terhadap fundamental perusahaan.
“Tidak ada satu katalis tunggal yang sepenuhnya menjelaskan lonjakan tersebut,” ucap Edwin, Kamis (23/7/2026).
Untuk prospek ke depan, dia memperkirakan arah pergerakan BUMI akan sangat dipengaruhi oleh harga batu bara global, permintaan dari China dan India, kebijakan suku bunga The Fed, arus dana asing ke pasar Indonesia, serta kemampuan manajemen menjaga perbaikan kinerja operasional dan neraca keuangan.
Dia menuturkan selama faktor-faktor tersebut tetap mendukung, BUMI masih memiliki peluang melanjutkan tren positif.
Namun, mengingat volatilitas saham BUMI yang tinggi, Edwin mengingatkan investor tetap perlu disiplin memperhatikan manajemen risiko dan tidak hanya mengandalkan momentum kenaikan harga dalam jangka pendek.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at