Bloomberg Technoz
Published at
Begini Proses China Ubah Batu Bara Jadi Plastik Rendah Emisi
Bloomberg Technoz, Jakarta - Ilmuwan China berhasil menciptakan katalis yang mampu mengubah batu bara, biomassa, dan bahan sintetis lainnya menjadi bahan dasar plastik tanpa bergantung pada minyak bumi.
Inovasi ini dinilai sebagai langkah besar menuju produksi kimia yang lebih berkelanjutan, seperti laporan South China Morning Post, dikutip Selasa (7/4/2026).
Menurut laporan yang sama, tim peneliti itu mengembangkan katalis berbasis besi berbentuk nanopartikel yang mampu mengubah gas sintesis (syngas) menjadi olefin, senyawa hidrokarbon penting untuk industri plastik dan kimia.
Olefin sendiri merupakan bahan dasar untuk berbagai produk seperti plastik, deterjen, perekat, pelarut, hingga karet sintetis. Selama ini, produksi olefin sangat bergantung pada minyak bumi dan proses bersuhu tinggi yang menghasilkan limbah karbon cukup besar.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menggabungkan dua reaksi kimia yang sebelumnya memiliki keterbatasan, sehingga menghasilkan proses yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Mereka menyebut inovasi ini sebagai terobosan penting dalam efisiensi penggunaan hidrogen.
“Studi ini merupakan terobosan besar dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan atom hidrogen untuk konversi gas sintesis (syngas)," tulis laporan tersebut.
Teknologi ini memungkinkan produksi bahan kimia penting tanpa ketergantungan pada minyak bumi, sekaligus berpotensi menekan emisi karbon dan limbah industri.
Terobosan ini juga sejalan dengan strategi China yang semakin gencar memanfaatkan cadangan batu bara domestik untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak. Selain lebih murah, pendekatan ini juga memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Dalam laporan lainnya, seperti dikutip dari Engineering Institute of Technology (EIT), perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Honeywell, menghadirkan inovasi yang memungkinkan batu bara diolah menjadi bahan baku plastik.
Untuk mendukung pengembangan ini, Honeywell bahkan telah membuka fasilitas baru di wilayah sekitar Shanghai, China. Dalam pernyataannya, Honeywell menekankan pentingnya inovasi dalam memanfaatkan bahan baku alternatif.
“Menggunakan bahan baku ini dengan cara yang paling hemat biaya membutuhkan teknologi inovatif yang telah terbukti,” ujar pihak perusahaan.
Proses konversi tersebut berlangsung dalam dua tahap utama. Pertama, batu bara atau gas alam diubah menjadi metanol. Kemudian, metanol tersebut diproses menggunakan teknologi MTO untuk menghasilkan olefin, yang selanjutnya dapat diolah menjadi plastik.
Presiden dan CEO divisi Performance Materials and Technologies Honeywell, Rajeev Gautam, menjelaskan bahwa teknologi ini sangat strategis bagi negara seperti China.
“MTO adalah teknologi yang inovatif dan terbukti yang memungkinkan negara-negara seperti China yang kaya akan batu bara, tetapi harus mengimpor minyak bumi, untuk membuat plastik,” ujarnya.
Sejak diperkenalkan pada 2013, teknologi ini semakin mendapat perhatian seiring meningkatnya permintaan global terhadap etilena dan propilena, yang tumbuh sekitar 4%-5% setiap tahun. Honeywell juga mencatat telah melisensikan delapan unit MTO di China dalam tiga tahun terakhir.
Dengan investasi besar yang diperkirakan mencapai US$100 miliar dalam pengolahan batu bara menjadi bahan kimia, China berpotensi memperkuat posisinya sebagai pemain utama industri plastik dunia.
Selain itu, Honeywell mengklaim proses ini turut memperhatikan aspek lingkungan, termasuk penggunaan bahan baku lokal dan sistem pengolahan air limbah tanpa pembuangan.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at