LISTRIK INDONESIA

Published at

Begini Proses Batu Bara Diubah Menjadi Metanol

Listrik Indonesia | Di tengah upaya mendorong hilirisasi sumber daya alam, batu bara tidak lagi dipandang hanya sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Berbagai penelitian menunjukkan komoditas ini dapat diolah menjadi metanol, bahan baku strategis bagi industri kimia sekaligus alternatif bahan bakar yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.Majalah

Mengutip buku ilmiah Natural Gas, Coal, Carbon Dioxide, and Biomass as Methanol Feedstocks yang diterbitkan Elsevier (2025), teknologi coal-to-methanol (CTM) merupakan proses konversi batu bara menjadi gas sintetis (syngas) yang selanjutnya diolah menjadi metanol melalui reaksi katalitik. Teknologi ini dinilai telah berkembang matang dan menjadi salah satu jalur utama produksi metanol di negara-negara yang memiliki cadangan batu bara besar.

Proses tersebut diawali dengan gasifikasi batu bara untuk menghasilkan campuran karbon monoksida (CO) dan hidrogen (H₂). Setelah melalui tahap pemurnian dan penyesuaian komposisi gas, syngas kemudian dikonversi menjadi metanol menggunakan katalis berbasis tembaga pada tekanan dan temperatur tertentu.

Mengutip laporan Non-Fuel Uses of Coal yang diterbitkan International Energy Agency (IEA) Clean Coal Centre, metanol merupakan salah satu produk hilir batu bara yang memiliki prospek pasar besar. Selain dimanfaatkan sebagai bahan bakar, metanol menjadi bahan baku berbagai industri, mulai dari formaldehida, asam asetat, resin, hingga plastik.

Dalam laporan tersebut, IEA juga menyebutkan bahwa perkembangan teknologi gasifikasi modern telah membuat produksi metanol dari batu bara layak diterapkan secara komersial. Saat ini, Tiongkok menjadi negara dengan kapasitas produksi coal-to-methanol terbesar di dunia berkat dukungan cadangan batu bara yang melimpah serta investasi pada teknologi gasifikasi.

Meski demikian, berbagai penelitian mengingatkan bahwa teknologi ini masih menghadapi tantangan besar dari sisi lingkungan. Mengutip hasil penelitian Life Cycle Assessment for Coal-Based Methanol Production in China yang diterbitkan oleh Technical University of Denmark (DTU), produksi metanol berbasis batu bara menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi dibandingkan metanol berbasis gas alam apabila tidak dilengkapi teknologi pengurangan emisi.

Karena itu, arah penelitian global kini berfokus pada pengembangan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Energies mengusulkan integrasi teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) pada fasilitas coal-to-methanol. Menurut penelitian tersebut, penerapan CCUS mampu menurunkan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan karbon selama proses produksi metanol.

Selain CCUS, berbagai peneliti juga mengembangkan konsep co-gasification atau gasifikasi bersama antara batu bara dan biomassa. Mengutip hasil penelitian di jurnal Applied Energy, pendekatan ini berpotensi menekan emisi karbon sekaligus mempertahankan efisiensi produksi metanol.

Perkembangan riset juga mengarah pada pemanfaatan hidrogen hijau sebagai bahan baku tambahan dalam proses sintesis metanol. Sejumlah studi terbaru menunjukkan kombinasi batu bara, biomassa, hidrogen hijau, dan teknologi penangkapan karbon dapat menghasilkan metanol dengan jejak emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan teknologi coal-to-methanol konvensional.

Bagi Indonesia yang memiliki cadangan batu bara melimpah, hasil berbagai penelitian tersebut membuka peluang hilirisasi yang lebih luas. Dibanding hanya menjual batu bara sebagai komoditas mentah atau menggunakannya sebagai bahan bakar pembangkit, konversi menjadi metanol dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat industri petrokimia nasional.

Namun demikian, para peneliti menegaskan bahwa masa depan industri coal-to-methanol tidak hanya ditentukan oleh aspek ekonomi. Keberhasilannya juga bergantung pada kemampuan industri menekan emisi karbon melalui penerapan teknologi gasifikasi yang lebih efisien, integrasi CCUS, serta pemanfaatan energi rendah karbon agar tetap sejalan dengan target transisi energi global.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Published at

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by