Bisnis Indonesia
Published at
Bahlil: Ekspor Batu Bara Turun tetapi PNBP Naik jadi Rp127,74 Triliun
Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia melaporkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) telah mencapai Rp127,74 triliun hingga Oktober 2026, atau 98,42% dari target APBN sebesar Rp133,63 triliun. Capaian tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meskipun volume ekspor batu bara mengalami penurunan.
Bahlil menyampaikan laporan tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih di Halaman Tengah Istana Merdeka, Jumat (23/10/2026).
“Realisasi sampai dengan Januari—Oktober sekarang, Bapak Presiden, kami laporkan sudah mencapai Rp127,74 triliun, atau sudah mencapai 98,42%,” kata Bahlil, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Dia membandingkan capaian tersebut dengan realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp94,98 triliun. Bahlil menyatakan pemerintah menargetkan penerimaan dari sektor tersebut dapat mencapai Rp165 triliun hingga akhir tahun.
“Target kita nanti untuk membantu menteri keuangan dalam rangka menambal defisit terhadap subsidi BBM, itu kita akan mencapai Rp165 triliun. Jadi, surplus sekitar Rp30 triliun lebih,” ujarnya.
Namun, Bahlil tidak merinci komponen penerimaan yang menjadi dasar proyeksi Rp165 triliun maupun mekanisme penggunaannya untuk membantu pembiayaan subsidi BBM.
Volume Ekspor Batu Bara Menurun
Bahlil melaporkan volume ekspor batu bara Indonesia pada Januari–September 2026 mencapai 343 juta, turun sekitar 30 juta dibandingkan dengan 374 juta pada periode yang sama tahun lalu. Satuan volume tersebut tidak disebutkan secara eksplisit dalam laporannya.
Meski volume ekspor terkoreksi, nilai ekspor justru meningkat. Bahlil menyebut nilai ekspor batu bara pada Januari–September 2025 mencapai US$21 miliar, sedangkan pada periode yang sama tahun ini telah mencapai US$23,71 miliar.
“Jadi, barang produksi turun, pendapatan naik,” kata Bahlil.
Kenaikan nilai ekspor di tengah penurunan volume tersebut menunjukkan bahwa nilai penerimaan ekspor tidak bergerak searah dengan jumlah komoditas yang dikirim. Namun, laporan tersebut belum merinci pengaruh harga batu bara, perubahan kualitas komoditas, maupun komposisi pasar tujuan terhadap kenaikan nilai ekspor.
Ekspor Nikel Ikut Meningkat
Selain batu bara, Bahlil melaporkan peningkatan nilai ekspor nikel Indonesia. Hingga Agustus 2026, nilai ekspor nikel mencapai US$24,55 miliar, naik dibandingkan dengan US$21,22 miliar pada Januari–Agustus 2025.
Dengan demikian, nilai ekspor nikel meningkat sekitar US$3,33 miliar atau 15,7% secara tahunan berdasarkan angka yang disampaikan Bahlil.
“Kami laporkan juga terkait dengan ekspor nikel. Nah, sampai dengan Agustus itu kita sudah melakukan ekspor kurang lebih sekitar US$24,55 miliar. Kalau Januari–Agustus 2025 itu US$21,22 miliar,” ujar Bahlil.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Published at
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at