KONTAN
Published at
APBI Buka Suara Ada Potensi Kenaikan Biaya Operasional Akibat Mandatori Biodiesel B50
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) angkat bicara mengenai mandatori pencampuran bahan bakar nabati jenis biodiesel 50% (B50) di sektor industri.
Pelaku usaha menilai kebijakan ini berpotensi mengerek beban pengeluaran perusahaan pertambangan, baik dari pos pengadaan bahan bakar maupun pemeliharaan armada operasional.
Direktur Eksekutif APBI, Gita Mahyarani menjelaskan, dampak komersial dari kebijakan baru ini belum dapat disamaratakan bagi seluruh korporasi pertambangan nasional. Pasalnya, struktur pasokan dan logistik energi di setiap wilayah kerja memiliki karakteristik serta tantangan yang berbeda-beda.
"Kami belum dapat menyampaikan satu angka selisih yang berlaku secara umum, karena harga bahan bakar yang diterima perusahaan dipengaruhi oleh pemasok, lokasi tambang, volume pembelian, biaya distribusi, dan skema kontrak masing-masing," kata Gita kepada Kontan.co.id, Jumat (10/7/2026).
Gita menambahkan, komponen pembentuk harga bahan bakar nabati cair ini cukup kompleks dan tidak hanya bergantung pada harga bahan baku utama di pasar domestik. Oleh sebab itu, pelaku usaha masih mencermati formula baku pengadaan komoditas energi hijau tersebut di tingkat riil.
"Selain itu, perlu dibedakan antara harga indeks biodiesel sebagai komponen pencampur dan harga akhir B50 yang diterima pengguna. Pemerintah sendiri menyampaikan bahwa mekanisme penetapan harga B50 tetap mengikuti mekanisme yang selama ini berlaku untuk B40," terangnya.
Gita menyatakan, hingga kini simulasi total beban baru yang harus ditanggung emiten tambang sepanjang tahun buku 2026 masih bergerak dinamis. Namun, selain harga beli bahan bakar, perusahaan juga harus bersiap mengalokasikan modal ekstra untuk mengantisipasi risiko penurunan performa mesin.
"Dampaknya terhadap biaya operasional belum dapat digeneralisasi karena penerapan B50 masih dalam masa transisi. Tapi memang berpotensi meningkatkan biaya operasional tambang, baik dari sisi harga bahan bakar maupun kemungkinan tambahan biaya teknis, seperti perawatan alat berat, penggantian filter, penanganan penyimpanan, dan penyesuaian sistem bahan bakar," pungkasnya.
Source:
Other Article
Liputan 6
Published at
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Published at
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Published at
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Published at
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Published at