Bisnis Indonesia

Published at

Angin Segar Batu Bara Nasional

Peluang windfall batu bara nasional muncul seiring dengan potensi gas-to-coal switching di tengah menipisnya cadangan gas Eropa, meski pelaku industri menilai tambahan permintaan dari Benua Biru belum akan menjadi sumber pertumbuhan utama ekspor batu bara Indonesia. Hingga kini, pasar Asia, terutama Cina dan India, masih menjadi tujuan utama.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani mengatakan, kenaikan harga gas memang dapat mendorong pembangkit listrik di Eropa yang masih memiliki fleksibilitas untuk beralih dari gas ke batu bara.

“Bisa jadi [membuka peluang pasar batu bara Indonesia], tapi tidak akan terlalu besar. Saat krisis energi 2022, ekspor batu bara Indonesia ke Eropa pun hanya sekitar 6 juta ton, dan makin ke sini juga terus menyesuaikan turun,” kata Gita kepada Bisnis, Rabu (2/9).

Menurut dia, peluang ekspor batu bara Indonesia ke Eropa saat ini tetap terbuka, tetapi skalanya masih terbatas. Ekspor batu bara Indonesia ke kawasan tersebut tercatat hanya sekitar 1,5 juta—2 juta ton pada 2025.

Selain itu, Eropa juga masih memiliki sejumlah alternatif sumber pasokan batu bara, terutama dari Kolombia, Amerika Serikat (AS), dan Australia.

“Jadi peluangnya ada, tetapi lebih sebagai tambahan demand jangka pendek, bukan sumber pertumbuhan utama ekspor Indonesia,” ujarnya.

Untuk diketahui, tingkat penyimpanan gas Uni Eropa dikabarkan berada di sekitar 63% pada pekan terakhir Agustus 2026, jauh di bawah rata-rata sekitar 80%.

Kondisi tersebut membuat Eropa menghadapi risiko kenaikan harga gas meskipun belum diperkirakan mengalami kekurangan gas secara fisik. Harga gas acuan Eropa bahkan telah menembus lebih dari 68 euro per megawatt-hour (MWh) dalam beberapa pekan terakhir, lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan awal tahun.

Analis Goldman Sachs pun memperkirakan harga gas acuan Eropa dapat menembus lebih dari 100 euro per MWh apabila pasokan gas dari Timur Tengah masih terganggu.

Tekanan pasokan paling terasa di Eropa Barat. Di Jerman, yang memiliki kapasitas penyimpanan gas terbesar di Eropa, tingkat keterisian cadangannya hanya sekitar 50%. Sementara itu, cadangan gas Belgia dan Belanda masing-masing berada di sekitar 51% dan 45%.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan keekonomian penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik yang masih memiliki kemampuan untuk melakukan substitusi bahan bakar.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bhaktiar mengatakan bahwa tambahan permintaan dari Eropa dapat menjadi penopang harga batu bara Indonesia, terutama apabila harga gas tetap tinggi dan musim dingin berlangsung lebih berat.

“Tentu ada peluang juga untuk Indonesia, karena tambahan permintaan Eropa bisa menjadi penopang harga batu bara Indonesia. Akan tetapi, sepertinya enggak akan besar dampaknya, karena pasar utama Indonesia tetap Cina dan India,” jelas Bisman.

Menurut dia, krisis gas Eropa lebih tepat dipandang sebagai katalis terhadap harga batu bara daripada faktor yang mampu membalikkan tren penurunan konsumsi batu bara secara struktural.

Jika musim dingin berlangsung ekstrem dan gangguan pasokan gas berlanjut, tekanan kenaikan harga batu bara berpotensi makin kuat. Sebaliknya, dampaknya akan terbatas apabila pasokan gas kembali normal dan cuaca Eropa relatif moderat.

Bisman menyarankan pemerintah dan pelaku usaha untuk memanfaatkan pe­luang kenaikan permintaan untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global, sekaligus menjaga kepastian pasokan.

Secara terpisah, pengamat ekonomi Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita mengatakan, transmisi dari krisis gas Eropa ke pasar batu bara sangat mungkin terjadi apabila harga gas tetap tinggi saat memasuki musim dingin.

Menurut dia, pembangkit listrik yang secara teknis masih dapat melakukan switching akan memiliki insentif untuk kembali menggunakan batu bara ketika biaya pembangkitan berbasis gas meningkat.

TIDAK BESAR

Akan tetapi, ruang untuk gas-to-coal switching di Eropa tidak lagi sebesar saat krisis energi sebelumnya. Kapasitas pembangkit listrik berbasis batu bara yang telah dipensiunkan, kebijakan dekarbonisasi, harga karbon dalam EU Emissions Trading System (EU ETS), serta keterbatasan kontrak dan infrastruktur impor batu bara menjadi pembatas.

“Jadi, kenaikan permintaan batu bara Eropa kemungkinan lebih bersifat marginal dan opportunistic, bukan pembalikan permanen tren transisi energi,” kata Ronny.

Bagi Indonesia, dia menilai peluang tersebut tetap positif, khususnya untuk batu bara termal. Indonesia memiliki posisi sebagai salah satu pemasok utama batu bara termal dunia, dengan karakteristik produk yang dapat masuk ke berbagai pasar.

Namun, peluang Indonesia tidak hanya berasal dari tambahan volume ekspor langsung ke Eropa. Perubahan arus perdagangan batu bara global juga berpotensi memberikan keuntungan.

Jika Eropa menyerap lebih banyak batu bara dari pasar seaborne, kargo yang sebelumnya menuju Asia berpotensi bergeser. Perubahan tersebut dapat memicu repricing dan mengubah arus perdagangan global, sehingga Indonesia dapat memperoleh manfaat dari kenaik­an harga maupun perubahan trade flow.

“Seberapa besar? Saya melihat peluangnya cukup positif dalam jangka pendek sampai menengah, tetapi sifatnya hanya windfall opportunity, bukan perubahan struktural,” imbuh Ronny.

Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu menangkap momentum tersebut tanpa mendorong peningkatan produksi secara berlebihan.

Ronny menilai momentum tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, memper­kuat price discovery, dan meningkatkan value capture di dalam negeri.

Langkah tersebut menjadi makin relevan seiring dengan upaya pemerintah membangun bursa komoditas yang diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pembentukan harga komoditas strategis, sehingga tidak sekadar menjadi price taker.

“Intinya, krisis gas Eropa memang bisa menjadi katalis positif bagi batu bara Indonesia, but not a kind of renaissance batu bara. Ini lebih merupakan peluang siklus akibat shock geopolitik dan energi,” tutur Ronny.

Source:

Other Article

Liputan 6

Published at

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Published at

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Published at

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Published at

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Published at

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by

Secretariat's Address.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Secretariat's Email.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Website created by