Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Tayang pada

Teknologi BCF Ubah Sampah, Sisa Batubara, dan Limbah Industri Jadi Bahan Bakar Alternatif

Jakarta - Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi Biomass Coal Fuel (BCF) untuk memanfaatkan sampah kota, limbah industri, dan sisa batu bara sebagai bahan bakar alternatif. Dikembangkan melalui serangkaian riset sejak 2015, teknologi ini memasuki tahap komersialisasi pada 2022 dan telah dimanfaatkan di sejumlah wilayah untuk mendukung efisiensi energi industri sekaligus meningkatkan nilai guna limbah.

Paparan mengenai pengembangan teknologi BCF tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Anggoro Tri Mursito, dalam kegiatan verifikasi lapangan calon penerima tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya BRIN Tahun 2026, di Gedung B.J Habibie, Jakarta, Senin (26/10). Dalam paparannya, ia menjelaskan perjalanan riset BCF, mulai dari pengembangan teknologi pengolahan limbah hingga pemanfaatannya sebagai bahan bakar alternatif di sejumlah industri.

Pengembangan BCF berawal dari riset penanganan limbah pertambangan batu bara pada 2015. Pada 2016, penelitian berlanjut pada pemanfaatan batu bara berperingkat rendah (low grade), kemudian dilanjutkan dengan pengembangan formulasi dan pengujian teknologi.

Selanjutnya, pada 2018, tim mulai memanfaatkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dalam formulasi BCF.

Tahapan pengembangan selanjutnya mencakup pengujian formulasi skala laboratorium dan pilot, persiapan produksi pada 2020, serta penjaminan produksi pada 2021. Pada tahap tersebut, tim mengembangkan prototipe, menguji karakteristik bahan bakar, dan menyesuaikan spesifikasinya dengan kebutuhan peralatan industri.

Teknologi BCF kemudian memasuki tahap komersialisasi pada 2022 dan telah dilisensikan untuk pemanfaatan industri. “Jadi cukup panjang riset kami dari mulai awal sampai akhir dan sampai sekarang ini sudah tahun kelima dilisensi teknologi ini,” ujar Anggoro.

Pengembangan BCF dilatarbelakangi peluang pemanfaatan batu bara kualitas rendah dan berbagai material yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dalam paparannya, Anggoro menyebutkan sumber daya batu bara Indonesia mencapai sekitar 32 milliar ton, dengan lebih dari 81 persen berkualitas rendah. Selain itu, proses pembakaran batu bara menghasilkan sisa material yang tidak terbakar sempurna atau unburnt coral.

Di sisi lain, sampah domestik dan taman kota serta produk samping pengolahan air limbah industri juga berpotensi dimanfaatkan sebgai bahan baku. Melalui teknologi BCF, material tersebut dikombinasikan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai substitusi sebagian batu bara pada boiler dan gasifier industri.

“Jadi, ini semua harapannya menjadi bahan bakar, menjadi energi, sehingga ini biayanya dapat tereduksi atau berkurang, menjadi bahan bakar alternatif. Dan harapannya ke depan ini menjadi manufaktur yang hijau,” jelas Anggoro.

Dalam proses pembuatannya, sampah kota terlebih dahulu dipilah untuk memisahkan material yang masih dapat didaur ulang dari bahan yang dapat diolah lebih lanjut. Biomassa yang terpilih kemudian difermentasi menggunakan bakteri selama sekitar tiga hingga lima hari, dicacah, dan dikeringkan. Selanjutnya, biomassa diformulasikan bersama unburnt coral dan bio-sludge atau lumpur biologis dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dengan perbandingan tertentu.

Bakteri yang dikembangkan juga memiliki fungsi untuk membantu mengurangi kandungan sulfur pada batu bara dan mengeringkan material. Pemanfaatannya tidak hanya ditujukan pada sampah kota, tetapi juga dapat diterapkan pada batu bara berkadar sulfur tinggi serta material basah yang menimbulkan bau.

“Bakteri ini adalah bakteri pendesulfurisasi atau pengurang sulfur dan juga pengering,” ungkapnya.

BCF dikembangkan dalam beberapa bentuk, antara lain briket dan pelet. Berdasarkan pemaparan Anggoro, produk tersebut memiliki nilai kalor di atas 3.000 kilokalori dan kandungan sulfur kurang dari 1 persen, sehingga memenuhi spesifikasi minimum yang dijelaskan untuk pemanfaatannya. BCF dapat digunakan dalam bentuk briket atau dicampurkan langsung dengan batu bara, sesuai kebutuhan dan karakteristik peralatan industri.

Pemaparan teknologi ini telah dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Bandung Raya, Serang, dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Kapasitas Pengolahan di Bandung Raya dan Serang dilaporkan mencapai sekitar 10–15 ton per hari, sedangkan di Pangkep mencapai 50–60 ton per hari. Di Pangkep, BCF dimanfaatkan oleh PT Semen Tonasa sebagai bahan bakar kalsiner.

Selain di industri semen, BCF juga dimanfaatkan oleh sejumlah industri lain sebagai bahan bakar alternatif, baik dalam bentuk briket maupun melalui pencampuran langsung dengan batu bara. Pemanfaatan ini membantu mengurangi penggunaan batu bara sekaligus meningkatkan efisiensi energi.

Dalam penerapannya, teknologi BCF dilaporkan mampu menurunkan konsumsi batu bara dengan rata-rata 10 persen, mengurangi emisi SOx dan NOx sekitar 5 persen, serta meningkatkan efisiensi termal hingga 10 persen. Selama sekitar lima tahun, pemanfaatan teknologi ini juga telah mengolah lebih dari 2.000 ton sampah kota dan taman serta 460 ton bio-sludge.

Dari sisi ekonomi, salah satu industri pengguna melaporkan penghematan biaya hingga Rp400 juta per bulan untuk satu boiler, melalui pengolahan dan pemanfaatan produk samping serta BCF dalam mendukung efisiensi energi dan pemanfaatan limbah secara berkelanjutan.

Artikel Lainnya

Liputan 6

Tayang pada

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Tayang pada

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh