Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
Bisnis.com, JAKARTA — Sepuluh emiten batu bara berkapitalisasi pasar terbesar mencatatkan kenaikan laba bersih pada semester I/2026. AADI memimpin dengan laba Rp8,48 triliun, disusul BYAN yang membukukan keuntungan Rp7,34 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan semester I/2026, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) menjadi emiten dengan laba bersih terbesar di antara kelompok tersebut. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk AADI mencapai US$473,77 juta atau sekitar Rp8,48 triliun dengan asumsi kurs Rp17.899 per dolar AS.
Capaian tersebut meningkat 10,52% dibandingkan dengan laba pada semester I/2025 sebesar US$428,68 juta. Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan pendapatan usaha AADI yang naik 6,13% secara tahunan menjadi US$2,55 miliar.
Di posisi kedua terdapat PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) dengan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekitar Rp7,34 triliun. Laba BYAN tumbuh 17,47% secara tahunan pada semester I/2026.
Selanjutnya, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$309,36 juta atau sekitar Rp5,54 triliun. Realisasi tersebut melonjak 76,83% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
AADI dan BYAN di Puncak
Jika diurutkan berdasarkan nominal laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, AADI dan BYAN menjadi dua emiten batu bara dengan perolehan laba terbesar pada semester I/2026.
Besarnya laba AADI juga tercermin dari pendapatan usaha perseroan yang mencapai US$2,55 miliar atau sekitar Rp45,58 triliun pada semester I/2026. Bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara menjadi kontributor utama pendapatan perseroan.
Sementara itu, BYAN mencatatkan pendapatan sekitar Rp31,15 triliun pada periode yang sama. Posisi berikutnya ditempati ADRO dengan pendapatan sekitar Rp17,89 triliun dan laba Rp5,54 triliun.
ADRO menjadi salah satu emiten yang mencatat pertumbuhan laba cukup tinggi. Kenaikan laba tersebut ditopang pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 16,51% menjadi US$999,24 juta, sementara beban pokok pendapatan hanya meningkat tipis.
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) menempati posisi berikutnya dengan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekitar US$174,18 juta atau Rp3,12 triliun. Laba tersebut meningkat 23,97% secara tahunan.
Pendapatan ADMR mencapai US$583,88 juta atau sekitar Rp10,45 triliun, tumbuh 31,52% dibandingkan dengan semester I/2025.
Di posisi kelima terdapat PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dengan laba bersih sekitar Rp2,65 triliun. Kinerja emiten batu bara pelat merah tersebut mencatat lonjakan 218,10% dibandingkan dengan laba pada semester I/2025.
Pertumbuhan laba PTBA jauh melampaui pertumbuhan pendapatannya. Pendapatan usaha PTBA naik 7,73% menjadi Rp22,03 triliun, tetapi laba bersih melonjak lebih dari dua kali lipat.
PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) berada di posisi berikutnya dengan laba bersih sekitar Rp1,9 triliun. Laba perseroan tumbuh 16,51% secara tahunan pada semester I/2026.
Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$58,85 juta atau sekitar Rp1,05 triliun. Capaian tersebut melonjak 188,40% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan laba BUMI juga dibarengi pertumbuhan pendapatan. Pendapatan perseroan naik 27,85% menjadi US$866,75 juta pada semester I/2026.
PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) berada pada kelompok bawah berdasarkan nominal laba. Namun, keduanya memiliki karakteristik pertumbuhan yang berbeda.
DEWA membukukan pertumbuhan laba sekitar 89,01%, sedangkan CUAN mencatat lonjakan laba paling tinggi di antara 10 emiten tersebut.
CUAN Cetak Lonjakan Laba 918%
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) menjadi emiten dengan pertumbuhan laba bersih paling tinggi dalam daftar tersebut.
Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk CUAN melonjak sekitar 918% menjadi US$19,78 juta atau sekitar Rp354 miliar pada semester I/2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba CUAN tercatat sekitar US$1,94 juta.
Lonjakan laba tersebut terjadi seiring dengan pertumbuhan pendapatan yang mencapai 59,29% menjadi US$736,11 juta atau sekitar Rp13,18 triliun.
Dengan demikian, CUAN memang bukan emiten dengan laba nominal terbesar, tetapi menjadi perusahaan dengan pertumbuhan laba paling tinggi dalam kelompok 10 emiten batu bara tersebut.
Di sisi lain, PT Indika Energy Tbk. (INDY) membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sekitar US$10,20 juta atau Rp182 miliar. Angka tersebut meningkat 354,30% dibandingkan dengan semester I/2025. /Dyah Ayu Kusuma Wardhani.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada