Bisnis.com
Tayang pada
Ramalan Nasib Bukit Asam (PTBA) di Tengah Evaluasi RKAB Batu Bara 2027
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) diketahui tengah mengevaluasi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) produksi batu bara periode 2027 yang disampaikan perusahaan tambang.
Evaluasi RKAB batu bara 2027 tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, terutama upaya menjaga stabilitas harga batu bara serta memastikan keberlangsungan pasokan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik.
Di tengah evaluasi RKAB batu bara tersebut, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) mencatatkan lonjakan pertumbuhan laba bersih sampai kuartal III/2026, yakni menjadi sebesar Rp4,41 triliun sampai akhir September 2026.
Sejalan dengan itu, PTBA mencatatkan pendapatan sebesar Rp35,2 triliun sampai akhir kuartal III/2026, naik 12,36% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari sebelumnya sebesar Rp31,3 triliun.
Direktur PTBA, Bambang Ismawan menjelaskan di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III/2026.
Menurut Bambang, pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin.
“Ke depan, Perseroan akan terus memperkuat efisiensi di seluruh rantai bisnis, mengoptimalkan peluang pasar domestik dan ekspor, serta memastikan pengembangan infrastruktur logistik dapat segera berjalan agar mendukung pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Bambang, Kamis (29/10/2026).
Sebagai gambaran, pertumbuhan pendapatan PTBA sepanjang Januari—September 2026 terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 18% secara tahunan, sejalan dengan penguatan harga batu bara global yang tecermin dari kenaikan indeks Newcastle dan ICI-3 masing-masing sebesar 25% dan 26% secara tahunan.
Penguatan harga jual tersebut mampu mengimbangi penurunan volume penjualan sebesar 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi komposisi penjualan, pasar domestik berkontribusi sebesar 52% terhadap total volume penjualan, sementara pasar ekspor menyumbang 48%, dengan lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA meliputi Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.
Adapun, secara operasional sampai akhir September 2026, PTBA mencatatkan volume produksi sebesar 34,4 juta ton, kemudian volume penjualan mencapai 32,23 juta ton, dan volume angkutan mencapai 27,07 juta ton. Lalu stripping ratio PTBA mencapai 5,59 kali.
Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno menyampaikan bahwa ke depannya PTBA akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, serta percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis.
Sejalan dengan itu, PTBA juga terus mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi yang berkelanjutan.
“Berbagai langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat daya saing perseroan sekaligus menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan,” ucap Eko.
Untuk diketahui, Kementerian ESDM telah memulai proses evaluasi RKAB produksi batu bara periode 2027 yang diajukan masing-masing perusahaan tambang. “RKAB kami sudah meminta bapak-ibu semua terkait dengan perencanaan produksi. Saat ini sedang kami evaluasi, tentunya terkait dengan penetapan produksi tersebut,” kata Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Ditjen Minerba Kementerian ESDM Asep Kurnia Permana dalam Minerba Convex 2026 di Jakarta, dikutip Rabu (4/11/2026).
Menurut Asep, pengaturan produksi melalui RKAB menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mengendalikan pasokan batu bara di pasar sehingga harga komoditas tersebut tetap terjaga.
Dia menuturkan, pemerintah melihat harga batu bara saat ini masih berada pada level yang cukup baik. Kondisi tersebut perlu dijaga melalui pengelolaan produksi yang mempertimbangkan keseimbangan pasokan dan permintaan.
Asep menjelaskan, evaluasi RKAB tidak hanya mempertimbangkan rencana produksi perusahaan, tetapi juga mencakup perencanaan pemasaran batu bara, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun pasar ekspor.
Dalam aspek pemasaran domestik, perusahaan perlu memperhitungkan pemenuhan kewajiban pasokan batu bara dalam negeri (domestic market obligation/DMO), khususnya untuk mendukung kebutuhan sektor kelistrikan.
Lebih lanjut, Asep mengatakan, pemerintah menargetkan proses evaluasi RKAB 2027 yang diajukan dapat terbit setelah tenggat pengajuan ditutup pada 15 November 2026.
Katalis Saham PTBA dari Harga Batu Bara
Adapun, Analis Phintraco Sekuritas Vinna N. Rachmawati dalam risetnya menjelaskan bahwa perbaikan kinerja PTBA pada 9 bulan 2026 terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 18% YoY, didukung penguatan harga batu bara global, dengan indeks Newcastle dan ICI-3 masing-masing meningkat 25% dan 26% YoY
Vinna juga mencatat kendati produksi turun 4,1% YoY menjadi 34,41 juta ton pada 9 bulan 2026, PTBA mencatatkan pemulihan kuat secara kuartalan, dengan produksi kuartal III/2026 meningkat 16,6% QoQ menjadi 14,96 juta ton.
Dalam risetnya, Vinna juga menuturkan PTBA mempertahankan target tahun penuh 2026 berupa produksi batu bara sebesar 49,55 juta ton, penjualan sebesar 49,51 juta ton, dan volume angkutan sebesar 41,00 juta ton.
“Inisiatif pertumbuhan perseroan mencakup proyek jalur kereta api Tanjung Enim–Keramasan, yang telah mencapai progres penyelesaian 93,54% per Juli 2026 dan diperkirakan mulai beroperasi pada semester II/2026, dengan kapasitas tahunan sebesar 20 juta ton,” tutur Vinna.
Selain itu, lanjutnya optimalisasi kapasitas pelabuhan dan proyek hilirisasi batu bara, termasuk batu bara menjadi DME dan batu bara menjadi SNG, diharapkan mendukung pertumbuhan produksi ke depan serta memperkuat prospek bisnis jangka panjang PTBA.
Menurut dia, risiko utama bagi PTBA mencakup kenaikan harga bahan bakar, volatilitas harga komoditas global, serta ketidakpastian regulasi di sektor energi.
Sementara itu, CGS International Sekuritas Rut Yesika Simak dan Juan Christian Abimanyu dalam risetnya menjelaskan pihaknya memilih saham PTBA sebagai saham pilihan dalam menghadapi fenomena El Nino, yang didukung oleh pemulihan laba serta pertumbuhan volume yang didorong oleh perbaikan logistik.
“Kami menegaskan rekomendasi add untuk PTBA, target harga kami tetap tidak berubah di angka Rp3.500 per saham,” tutur Simak dan Abimanyu.
Katalis re-rating untuk saham PTBA mencakup harga batu bara yang lebih kuat, batas atas harga jual ke PLN yang lebih tinggi, percepatan peningkatan kapasitas logistik, serta dividen yang lebih besar.
Di sisi lain, risiko penurunan terhadap PTBA menurut CGS International Sekuritas meliputi harga batu bara yang lebih lemah, kekurangan volume pengiriman, peningkatan biaya, serta perubahan regulasi.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada