Bisnis Indonesia Premium

Tayang pada

Prospek Panas Saham PTBA di Tengah Pasokan Ketat Batu Bara

Bisnis.com, JAKARTA — Prospek batu bara kembali menguat seiring dengan lonjakan harga dan pengetatan pasokan global komoditas emas hitam itu. Kondisi tersebut membuka peluang bagi emiten batu bara, terutama PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), meski ruang produksi Indonesia justru diproyeksikan menyusut pada 2026.

Di lantai Bursa Efek Indonesia, saham PTBA pada perdagangan kemarin, Selasa (7/10/2026) ditutup pada level Rp3.400 per lembar setelah dibuka dengan harga Rp3.280 per lembar.

Dengan harga Rp3.400 per lembar, saham PTBA tercatat melesat 46,55% pada periode berjalan 2026 (year-to-date/YtD) dan menguat 16,04% dalam 6 bulan terakhir, dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp39,17 triliun.

Sementara itu, harga batu bara Newcastle ditutup pada level US$152,25 per ton dalam perdagangan Selasa (6/10/2026), naik 1,50% atau 2,25 poin. Harga tersebut menjadi level tertinggi dalam empat bulan terakhir di tengah ketatnya pasokan dan tingginya permintaan.

International Energy Agency (IEA) dalam laporan tengah tahun memperkirakan permintaan batu bara global akan meningkat pada 2026. Kenaikan harga gas alam akibat konflik di Timur Tengah mendorong sejumlah negara kembali menggunakan batu bara sebagai sumber energi alternatif.

Peningkatan penggunaan batu bara terjadi di Eropa, Jepang, Korea Selatan, Cina, dan sejumlah pasar lainnya. Kondisi itu mengubah proyeksi sebelumnya yang memperkirakan permintaan batu bara global akan sedikit menurun secara tahunan.

IEA kini memperkirakan permintaan batu bara global tumbuh 1,2% pada 2026, sehingga konsumsi dunia mencapai rekor 8,94 miliar ton. Di sisi lain, Indonesia justru menghadapi prospek penurunan produksi. IEA memproyeksikan produksi batu bara Indonesia turun lebih dari 12 juta ton pada 2026.

Penurunan tersebut terjadi ketika permintaan dari importir utama Asia diperkirakan melemah sementara kewajiban pemenuhan pasar domestik meningkat. Kondisi tersebut menurunkan insentif bagi produsen untuk meningkatkan produksi.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai prospek batu bara masih konstruktif karena terdapat potensi pengetatan keseimbangan pasokan dan permintaan.

Menurut dia, peluang tersebut terutama berasal dari kemungkinan penurunan produksi Indonesia serta meningkatnya kebutuhan listrik di Cina dan India. Sejauh ini, imbuhnya, Cina masih menjadi pasar batu bara terbesar dengan konsumsi lebih dari 50% kebutuhan global.

Sementara itu, impor batu bara India meningkat 85,6% secara tahunan pada Agustus 2026, dengan sekitar 80% pasokan berasal dari Indonesia. “Penurunan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya [RKAB] dan produksi di Indonesia berpotensi mengetatkan pasokan batu bara seaborne di Asia, serta memberikan dukungan terhadap harga batu bara,” kata Sukarno dalam risetnya, dikutip Rabu (7/10/2026).

Kendati demikian, dia menilai penguatan prospek tersebut tetap dibayangi sejumlah risiko. Pelemahan harga batu bara, perlambatan permintaan dari Cina peningkatan pasokan global, serta normalisasi permintaan listrik dan pembangkit listrik tenaga air menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Di tengah dinamika tersebut, Kiwoom Sekuritas menjadikan PTBA sebagai salah satu saham batu bara yang direkomendasikan dengan target harga Rp3.800, lebih tinggi dibandingkan dengan target sebelumnya yang berada di Rp3.320 dengan harga terakhir Rp3.360.

Saham PTBA diperkirakan bullish karena perseroan tengah menyiapkan pengajuan usulan untuk RKAB 2027. Perencanaan tersebut akan mempertimbangkan persetujuan pemerintah, prioritas kebutuhan domestik, serta pasar ekspor.

Di sisi lain, perseroan menargetkan produksi batu bara sebesar 49,5 juta ton pada 2026. Pada semester I/2026, PTBA telah mencatatkan penjualan 10,77 juta ton atau sekitar 51% dari total penjualan.

Selain itu, PTBA juga telah mengajukan persetujuan penggunaan PT Satria Bahana Sarana sebagai afiliasi jasa kontraktor tambang. Pengajuan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memastikan kegiatan operasional berjalan sesuai ketentuan sekaligus suplai produksi untuk ketahanan energi nasional.

Dengan kondisi tersebut, Kiwoom menjadikan kejelasan RKAB 2027 dan persetujuan penggunaan Satria Bahana Sarana menjadi dua katalis yang dinilai penting bagi kesinambungan operasional PTBA.

Kinerja PTBA Semester I/2026

Adapun, PTBA berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,65 triliun pada semester I/2026. Kinerja tersebut ditopang pemulihan operasional pada kuartal II/2026 serta penguatan harga jual rata-rata batu bara.

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengungkapkan bahwa kondisi operasional yang lebih kondusif mendorong perseroan memulihkan produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan.

“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat kinerja penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan,” kata Bambang dalam pernyataan tertulis, Selasa (1/9/2026).

Menurut dia, momentum penguatan harga batu bara global dimanfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif. Langkah tersebut dibarengi dengan program efisiensi yang dinilai mampu menjaga disiplin biaya di tengah tantangan operasional.

PTBA juga mencatatkan pendapatan usaha senilai Rp22,03 triliun hingga Juni 2026, naik 8% secara tahunan. Kenaikan pendapatan terjadi meskipun volume penjualan turun 2% YoY. Perseroan terbantu oleh penguatan harga batu bara, tecermin dari Newcastle Index yang naik 25% YoY dan ICI-3 yang meningkat 15% YoY. Kondisi tersebut mendorong harga jual rata-rata (average selling price/ASP) PTBA naik 10% YoY.

Dari sisi pasar, penjualan domestik menyumbang sekitar 51% dari total penjualan, sedangkan ekspor mencapai 49%. Lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA adalah Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.

Secara nasional, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno sebelumnya mengatakan produksi batu bara Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 720 juta ton.

Hingga Juli 2026, produksi telah mencapai 423 juta ton. Dengan rata-rata produksi sekitar 60 juta ton per bulan dalam tujuh bulan pertama, realisasi sepanjang tahun diproyeksikan berada di bawah capaian 2025 yang mencapai 817 juta ton.

Dari total produksi hingga Juli 2026 tersebut, sebanyak 270 juta ton telah diekspor, sedangkan 113 juta ton disalurkan untuk kebutuhan domestik.

Penurunan produksi Indonesia menjadi faktor penting bagi pasar Asia. Sebagai salah satu pemasok batu bara termal terbesar ke pasar Asia, berkurangnya produksi atau ketersediaan ekspor Indonesia berpotensi memperketat pasokan batu bara melalui jalur laut.

Artikel Lainnya

Liputan 6

Tayang pada

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Tayang pada

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh