KOMPAS
Tayang pada
Perang Iran Bikin Batu Bara Kembali Diburu, Produsen Raup Cuan
JAKARTA, KOMPAS.com - Perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran tidak hanya mengguncang pasar minyak dan gas dunia.
Konflik yang berlangsung sejak serangan ke Tehran pada 28 Februari 2026 itu juga membawa efek berantai ke pasar energi lain, termasuk batu bara.
Ketika pasokan minyak mentah dan gas alam terganggu akibat penutupan Selat Hormuz, sejumlah negara kembali mengandalkan batu bara untuk menjaga pasokan listrik.
Kondisi tersebut ikut mendorong kenaikan permintaan dan harga batu bara, sekaligus meningkatkan keuntungan perusahaan tambang.
Dikutip dari Al Jazeera, Kamis (20/8/2026), produsen batu bara termal asal Afrika Selatan, Thungela Resources, misalnya, melaporkan laba semester I-2026 yang meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh peningkatan produksi dari tambang Ensham di Queensland, Australia, serta kenaikan permintaan dan harga batu bara di Ensham maupun operasi perusahaan di Afrika Selatan.
Situasi ini menjadi paradoks di tengah agenda transisi energi global.
Batu bara merupakan salah satu bahan bakar fosil yang paling banyak menghasilkan emisi karbon, sementara sejumlah negara sebelumnya telah berkomitmen untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi tersebut.
Namun, ketika perang mengganggu rantai pasok minyak dan gas, batu bara kembali menjadi pilihan yang tersedia dan relatif murah untuk menjaga pembangkit listrik tetap beroperasi.
Selat Hormuz jadi titik kunci
Gangguan tersebut bermula dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran setelah serangan terhadap Tehran dimulai pada 28 Februari 2026.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair atau LNG dunia melewati jalur tersebut.
Hingga kini, negosiasi untuk membuka kembali selat itu masih berlangsung.
Penutupan Selat Hormuz kemudian mengurangi pasokan minyak dan gas ke pasar global. Harga minyak melonjak, sementara sejumlah negara yang bergantung pada impor energi harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik.
Batu bara menjadi salah satu pilihan karena harganya juga meningkat, tetapi masih jauh lebih murah dibandingkan minyak.
Selain itu, batu bara relatif lebih tersedia sehingga dapat digunakan untuk menggantikan sebagian kebutuhan energi yang sebelumnya dipenuhi gas.
Dampaknya paling terasa di Asia. Kawasan ini sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA), sekitar 82 persen pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz pada 2022 ditujukan ke Asia.
China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama pengiriman tersebut.
Gangguan pasokan energi juga diperparah oleh serangan terhadap fasilitas energi di negara-negara kawasan Teluk.
Qatar, misalnya, terpaksa menyatakan force majeure atas kontrak pengiriman LNG pada Maret setelah serangan pesawat nirawak Iran menghantam fasilitas Ras Laffan, kompleks LNG terbesar di dunia.
Serangan tersebut membuat 17 persen ekspor LNG Qatar terganggu pada Maret 2026, menurut pejabat negara tersebut.
Fasilitas energi lain juga terkena dampak. Di Uni Emirat Arab, sejumlah fasilitas seperti terminal LNG Das Island, terminal minyak Fujairah, serta kompleks kilang Ruwais turut diserang.
Fasilitas energi di Arab Saudi dan Oman juga terdampak konflik.
Negara Asia kembali mengandalkan batu bara
Gangguan pasokan gas membuat sejumlah negara Asia meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.
Jepang melonggarkan pembatasan terhadap pembangkit batu bara lama yang memiliki emisi tinggi untuk menghadapi guncangan energi.
Sementara itu, Korea Selatan menunda penutupan sejumlah pembangkit batu bara yang sebelumnya dijadwalkan dihentikan secara bertahap hingga 2040.
Di Bangladesh, pemerintah sempat memberlakukan pemadaman listrik, menutup universitas, dan melakukan pembatasan penjualan bahan bakar untuk kendaraan.
Setelah itu, pemerintah meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara.
Thailand, Filipina, dan Vietnam juga meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara untuk menjaga cadangan gas yang semakin menipis.
Pakistan mencatat peningkatan yang lebih tajam. Data National Electric Power Regulatory Authority menunjukkan, hingga Juli 2026, listrik yang dihasilkan dari batu bara impor meningkat 90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
China dan India sendiri merupakan dua konsumen batu bara terbesar dunia. Keduanya menyumbang sekitar 70 persen konsumsi batu bara global sekaligus menjadi produsen utama komoditas tersebut.
Di India, kebutuhan listrik meningkat, salah satunya akibat gelombang panas yang semakin intens.
Pemerintah negara itu berencana meluncurkan sejumlah proyek pertambangan batu bara baru yang menurut Global Energy Monitor dapat meningkatkan pasokan global sebesar 2,5 miliar ton per tahun.
Di Eropa, Jerman menyatakan tidak akan mempertaruhkan pembangkitan listriknya demi memenuhi komitmen iklim yang dibuat sebelumnya. Italia bahkan mendorong mundur rencana penghentian penggunaan batu bara dari akhir 2025 menjadi 2038.
Harga naik, produsen batu bara raup keuntungan
Kenaikan permintaan tersebut memberikan keuntungan bagi negara dan perusahaan produsen batu bara.
Indonesia menjadi eksportir batu bara terbesar di dunia, disusul Australia dan Rusia. Pada Maret 2026, pemerintah Indonesia membalikkan rencana sebelumnya untuk mengurangi produksi batu bara dan menekan kelebihan pasokan.
Langkah tersebut dilakukan ketika harga batu bara meningkat.
Harga batu bara tercatat 131,85 dollar AS per ton pada Juli 2026, naik dari 102,20 dollar AS per ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan harga dan permintaan juga tercermin dalam kinerja Thungela Resources.
Perusahaan tersebut mencatat produksi batu bara dari tambang Ensham di Queensland meningkat 38 persen pada semester pertama 2026, yakni ketika konflik berada dalam periode puncaknya.
Produksi meningkat menjadi 2,2 juta ton dari 1,6 juta ton pada periode sebelumnya.
Thungela juga membukukan headline earnings per share (HEPS), salah satu indikator utama profitabilitas yang digunakan di Afrika Selatan, sebesar 4,80 rand atau sekitar 0,30 dollar AS. Angka tersebut meningkat signifikan dari 1,92 rand atau 0,12 dollar AS pada Juni tahun sebelumnya.
Perusahaan mengatakan harga batu bara kemungkinan tetap tinggi ketika pasar Eropa dan Asia bersiap menghadapi musim dingin.
Transisi energi belum berhenti
Kenaikan penggunaan batu bara akibat krisis energi tidak serta-merta berarti agenda transisi energi global berhenti.
Pada 2021, lebih dari 40 negara, termasuk Indonesia dan Vietnam, berkomitmen mengurangi penggunaan batu bara dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau COP26.
Namun, China dan India tidak ikut menandatangani komitmen tersebut.
Korea Selatan kemudian bergabung dengan Powering Past Coal Alliance, sebuah aliansi yang membantu negara-negara yang bergantung pada batu bara melakukan transisi energi.
Analis transisi energi dari Zero Carbon Analytics di Afrika Selatan, Nick Hedley, mengatakan krisis di Timur Tengah telah mengganggu agenda tersebut karena banyak negara belum memiliki kapasitas energi terbarukan yang cukup untuk menjadi alternatif ketika pasokan gas terganggu.
“Untuk negara seperti Bangladesh, mudah untuk meningkatkan penggunaan batu bara ketika pasokan gas global terganggu karena negara tersebut telah berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur batu bara dalam beberapa dekade terakhir, dan sebagian besar kapasitas tersebut sebelumnya menganggur,” kata Hedley.
Menurut dia, batu bara menjadi lebih murah dibandingkan gas impor ketika harga gas melonjak.
Walakin, batu bara tetap tidak mampu bersaing dari sisi biaya dengan energi terbarukan.
Di sisi lain, peningkatan penggunaan batu bara di sejumlah negara juga diimbangi dengan penurunan jangka panjang di wilayah lain, terutama Eropa.
Produksi batu bara domestik China juga turun tahun ini setelah pemerintah memperketat pengawasan menyusul ledakan mematikan di tambang batu bara Liushenyu pada Mei 2026. Insiden tersebut menewaskan 82 orang.
Pada saat yang sama, China terus melakukan investasi besar dalam energi terbarukan.
Hedley juga melihat terganggunya rantai pasok energi fosil global dapat membuat energi bersih menjadi semakin kompetitif dan mendorong lebih banyak negara meningkatkan investasi pada energi tersebut.
“Pelajarannya adalah negara-negara Asia perlu mempercepat peralihan menuju energi bersih dan elektrifikasi untuk melindungi diri dari krisis global di masa depan,” ujar Hedley.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada