BISNIS INDONESIA

Tayang pada

Menakar Prospek Hilirisasi Batu Bara Jadi Metanol saat DME Mandek

Bisnis.com, JAKARTA — Investasi pengembangan gasifikasi batu bara menjadi metanol dinilai memiliki prospek bisnis lebih menjanjikan ketimbang dimethyl ether (DME) yang hingga kini masih tersendat.

Langkah terbaru hilirisasi batu bara datang dari PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). BEC resmi memulai tahap rekayasa dasar atau front-end engineering design (FEED) dan engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC) framework agreement proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol pada Rabu (29/7/2026).

Proyek strategis nasional (PSN) senilai US$2,3 miliar atau setara Rp41,54 triliun (asumsi kurs Rp18.063 per US$) itu, ditargetkan beroperasi penuh pada 2030.

Pabrik di Kutai Timur, Kalimantan Timur itu ditargetkan mampu memproduksi 2 juta ton metanol per tahun pada tahap awal. Dalam jangka panjang, kapasitasnya akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 3,6 juta ton per tahun.

BEC memilih untuk mengembangkan metanol lantaran melihat permintaan domestik yang jauh lebih besar.

Presiden Direktur BEC Rio Supin menjelaskan, kebutuhan metanol Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 1,9 juta ton. Namun sekitar 68% atau setara 1,3 juta ton masih harus dipenuhi melalui impor.

Nilai impor tersebut mencapai sekitar US$400 juta atau sekitar Rp7,1 triliun per tahun. Bahkan pada 2026, nilainya diperkirakan meningkat seiring melonjaknya harga metanol akibat tensi geopolitik di Timur Tengah.

"Kondisi geopolitik membuat harga metanol naik signifikan. Hal inilah yang mendasari pemilihan kami kepada produk metanol dibandingkan beberapa produk lain yang dapat dihasilkan dari gasifikasi batu bara," ujar Rabu (29/7/2026).

Selain itu, pasar domestik dinilai semakin terbuka karena metanol merupakan bahan baku penting industri petrokimia, manufaktur hingga biodiesel.

Rio menyebut, salah satu pasar utama yang dibidik ialah produsen fatty acid methyl ester (FAME) sebagai bahan baku program biodiesel B50 yang terus diperluas pemerintah.

Mengapa DME Masih Sulit Bergerak?

Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rizwan Aryadi Ramdhan menekankan bahwa rantai nilai industri batu bara tidak berhenti pada satu produk.

Oleh karena itu, pemerintah masih berupaya menghidupkan kembali proyek gasifikasi batu bara menjadi DME yang sempat terhenti setelah hengkangnya Air Products dari proyek PT Bukit Asam (PTBA).

Rizwan mengklaim telah muncul sejumlah minat investasi baru, termasuk proyek DME yang sebelumnya diumumkan Danantara. Namun seluruhnya masih berada pada tahap penjajakan.

"Memang kami sudah lagi koordinasi sama teman-teman Danantara untuk proyek-proyek yang sudah diumumkan bisa dikawal secara bersama-sama," ujarnya.

BKPM, kata Rizwan, juga membuka peluang bagi investor swasta maupun asing untuk masuk ke proyek-proyek hilirisasi batu bara. Artinya, proyek DME tidak hanya untuk badan usaha milik negara (BUMN).

Dia lantas menyebut, hilirisasi batu bara menjadi metanol merupakan suatu langkah strategis. Menurutnya, ini jadi bukti bahwa batu bara pun dapat diolah menjadi berbagai produk termasuk metanol, DME, kokas, amonia, hingga syngas sebelum akhirnya masuk ke berbagai industri hilir yang digunakan masyarakat sehari-hari.

"Kita harapannya tidak berhenti di sini. Transformasi Indonesia bukan lagi hanya mengekspor bahan mentah, tetapi membangun industri nilai tambah tahap demi tahap hingga industri paling hilir," katanya.

Dia juga berharap proyek BEC menjadi bukti bahwa industrialisasi batu bara masih memiliki prospek komersial sehingga dapat menarik investasi baru.

Sementara itu, Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli berpendapat mandeknya proyek DME bukan disebabkan keterbatasan teknologi.

Rizal menilai teknologi gasifikasi untuk memproduksi DME sudah terbukti dan dikuasai Air Products sebagai pemegang lisensi teknologi. Persoalan utamanya justru berada pada sisi keekonomian.

"Beberapa parameter yang digunakan dalam analisa keekonomian proyek dinilai belum cukup menguntungkan tanpa subsidi dari pemerintah agar proyek bisa berjalan secara ekonomis," kata Rizal kepada Bisnis, Kamis (30/7/2026).

Dia mengatakan bahwa produksi DME memerlukan tahapan lanjutan setelah metanol terbentuk. Proses tambahan tersebut membuat kebutuhan investasi, konsumsi energi, hingga biaya operasional menjadi lebih tinggi.

Akibatnya, tingkat pengembalian investasi menjadi kurang menarik apabila dibandingkan dengan menjual metanol secara langsung yang pasarnya sudah terbentuk.

"Untuk menjadikan metanol menjadi DME masih memerlukan tahapan proses lanjutan lagi. Umumnya memerlukan teknologi yang relatif kompleks dan mahal sehingga pilihan KPC dan Arutmin dinilai sudah tepat untuk memproduksi metanol," ujar Rizal.

Namun di sisi lain, dia berpendapat bahwa hilirisasi batu bara menjadi metanol juga mampu menjadi batu loncatan menuju industri kimia yang lebih berdaulat. Sebab, secara teknologi, metanol sejatinya bukanlah produk akhir dari gasifikasi batu bara.

Rizal menjelaskan, jalur hilirisasi batu bara dimulai dari proses gasifikasi menjadi syngas. Selanjutnya, syngas diolah menjadi metanol yang kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kimia bernilai tambah tinggi.

Produk turunannya meliputi DME, formaldehida, metil asetat, etilena, propilena hingga berbagai bahan baku industri lainnya. Menurut Rizal, negara-negara seperti Cina maupun Afrika Selatan telah lama mengembangkan rantai industri tersebut.

"Cina dan Afrika Selatan sudah bergerak lebih maju dengan melakukan hilirisasi batu bara menjadi bahan bakar cair dan di Cina menjadi bahan kimia lainnya. Bahkan serat benang untuk pembuatan pakaian pun mereka buat dari turunan batu bara," ujarnya.

Artikel Lainnya

Liputan 6

Tayang pada

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Tayang pada

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Tayang pada

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh