CNBC INDONESIA

Tayang pada

Melejit 7% Lebih, Harga Batu Bara Sejengkal Lagi ke US$150/Ton

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara dunia melesat sepanjang minggu ini dan semakin mendekati level US$150 per ton. Kabar baik dari China sebagai pendorong utama harga si "emas hitam".

Berdasarkan data Refinitiv per Jumat (5/6/2026) harga batu bara dunia dengan kontrak pengiriman dua bulan tercatat di US$147,5 per ton atau naik 0,31% dibandingkan hari sebelumnya.

Posisi tersebut adalah yang tertinggi sejak 30 Maret 2026 di US$148,6 per ton.

Dalam sepekan, harga batu bara dunia melesat 7,8% dan merupakan pencapaian terbaik sejak pekan pertama Maret 2026 (17,45%).

Kabar baik dari China mendorong harga batu bara meroket hingga 6,87% dalam sehari pada perdagangan Senin (1/6/2026) yang berkontribusi terhadap kinerja amat positif selama minggu ini

Lonjakan terjadi setelah pertemuan keselamatan tambang di provinsi kaya batu bara, Shanxi, memperkuat kekhawatiran pasokan akibat penghentian produksi di sejumlah tambang pasca kecelakaan fatal bulan lalu.

Pemerintah Shanxi di China utara menggelar rapat khusus pada Sabtu terkait kampanye perbaikan risiko keselamatan dan bahaya tersembunyi di tambang batu bara, menurut media resmi lokal pada Minggu.

Pejabat di pusat produksi batu bara terbesar China itu berjanji menerapkan pendekatan "tanpa toleransi" untuk menindak praktik ilegal seperti terowongan tersembunyi, manipulasi sistem pemantauan keselamatan, dan penambangan ilegal di luar area izin.

Pada akhir Mei, kecelakaan tambang fatal di tambang Liushenyu, Shanxi, menewaskan sedikitnya 82 orang. Insiden tersebut memicu inspeksi keselamatan ketat yang menyebabkan sejumlah tambang menghentikan produksi dan memunculkan kekhawatiran pasokan ketat.

Sejumlah analis menilai skala dan tingkat keparahan kecelakaan sangat besar, sehingga ruang untuk pemulihan produksi cepat dalam jangka pendek menjadi terbatas.

Meskipun demikian, produksi domestik China tetap tinggi dan stok batu bara di pelabuhan maupun pembangkit listrik meningkat menjadi penahan laju batu bara. Permintaan listrik juga belum cukup kuat untuk menyerap kelebihan pasokan tersebut.

Pemerintah China sebelumnya mendorong peningkatan produksi batu bara demi menjaga ketahanan energi setelah krisis listrik beberapa tahun lalu. Akibatnya, pasokan batu bara domestik melimpah dan menekan harga di pasar domestik.

Selain itu, impor batu bara China mulai melemah karena pembeli lebih memilih pasokan domestik yang lebih murah. Kondisi ini membuat harga batu bara termal di tingkat tambang kehilangan momentum kenaikan.

Artikel Lainnya

Liputan 6

Tayang pada

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Tayang pada

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh