CNBC Indonesia
Tayang pada
Masa Kritis India & China Sudah Lewat, Harga Batu Bara langsung Ambles
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terus melandai setelah reli panjang.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (8/9/2026) ditutup di posisi US$ 151,15 per ton. Harganya turun 0,56%.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya dengan turun 1,3% dalam dua hari beruntun.
Harga batu bara sempat reli panjang delapan hari dengan penguatan mencapai 10,5% dalam dua pekan terakhir.
Pelemahan harga disebabkan meredanya kekhawatiran pasokan baik di India dan China yang merupakan konsumen terbesar.
Harga batu bara termal di tingkat tambang China mulai turun, terutama untuk jenis batu bara yang sebelumnya mengalami kenaikan harga paling tajam. Pelemahan terjadi karena pembeli mulai menolak penawaran harga tinggi dan memilih menunggu perkembangan pasar.
Setelah harga melonjak, pembeli di sektor hilir mulai mengurangi pembelian spot dan memilih menunggu harga yang lebih rendah.
Namun, penurunan harga diperkirakan tidak terlalu dalam karena pasokan batu bara domestik masih terbatas dan pembelian untuk kebutuhan nyata tetap berlangsung.
India Genjot Pengiriman Batu Bara ke PLTU
India meningkatkan pengiriman batu bara melalui jalur kereta api ke pembangkit listrik setelah persediaan bahan bakar di sejumlah pembangkit turun ke level kritis.
Kementerian Batu Bara India menyebut jumlah pembangkit yang memiliki stok batu bara kurang dari 25% kebutuhan atau hanya cukup untuk pembangkitan kurang dari tiga hari meningkat menjadi 58 pembangkit per 5 September, dari 46 pembangkit pada akhir Agustus.
Dari jumlah tersebut, 53 pembangkit menggunakan batu bara domestik, berdasarkan data Central Electricity Authority (CEA).
Pemerintah India kini mempercepat distribusi batu bara dari Coal India, anak usahanya, serta tambang swasta. Jumlah kereta pengangkut batu bara yang dikirim ke pembangkit naik menjadi 444 rangkaian pada 6 September, dari 370 rangkaian pada 3 September.
Namun, hujan deras di sejumlah wilayah penghasil batu bara utama seperti Odisha, Jharkhand, dan Chhattisgarh mengganggu aktivitas tambang dan memperlambat distribusi.
Batu bara menjadi sumber sekitar tiga perempat pembangkit listrik India, sehingga kelancaran pasokan menjadi kunci menjaga keandalan jaringan listrik.
Meski demikian, Coal India, produsen batu bara terbesar di dunia, menyatakan masih memiliki stok sekitar 76 juta ton di lokasi tambangnya.
Menteri Batu Bara India G Kishan Reddy mengatakan produksi batu bara India naik 4,5% secara tahunan. Pemerintah menyatakan tidak perlu khawatir soal pasokan batu bara untuk pembangkit listrik.
India saat ini memiliki sekitar 123 juta ton batu bara, yang disebut cukup untuk cadangan 51 hari. Selain itu, sekitar 100 juta ton batu bara sedang dalam perjalanan menuju pengguna. Perusahaan pembangkit listrik juga disebut memiliki stok sekitar 23 hari.
Harga Baja India Diproyeksi Terus Naik, Didorong Permintaan dan Biaya Batu Bara Kokas
Harga baja India diperkirakan terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Permintaan dari sektor infrastruktur dan otomotif diperkirakan menguat setelah musim hujan, sementara kenaikan harga batu bara kokas (coking coal) meningkatkan biaya produksi pabrik baja.
Kenaikan harga baja dapat membantu produsen memperbaiki margin yang tertekan akibat lonjakan biaya batu bara kokas. Namun, bagi perusahaan infrastruktur, konstruksi, dan otomotif, kondisi ini berarti biaya input yang lebih tinggi ketika permintaan mulai pulih.
India merupakan produsen baja mentah terbesar kedua di dunia setelah China. Data pemerintah menunjukkan harga sejumlah produk baja seperti hot-rolled coil (HRC) hanya turun tipis sekitar 280 rupee atau US$2,96 per ton antara Juni dan Juli.
Namun, harga HRC kemudian melonjak sekitar INR4.000 per ton sepanjang Agustus hingga awal September dan mencapai level tertinggi dalam empat tahun.
"Kami memperkirakan harga baja akan naik sekitar INR3.500 per ton dalam beberapa pekan ke depan," kata Vedant Goel, Direktur Enlight Metals, kepada Reuters.
Batu bara kokas merupakan salah satu komponen penting dalam biaya produksi baja. Karena itu, produsen baja mulai meneruskan kenaikan biaya tersebut ke harga jual, menurut Shankhadeep Mukherjee, analis utama baja di konsultan CRU yang berbasis di London.
Pemulihan harga baja yang tajam didukung oleh penghentian sementara sejumlah pabrik untuk pemeliharaan, ketersediaan baja di pasar spot yang semakin ketat, serta stok distributor yang rendah, menurut BigMint.
Kenaikan harga lebih lanjut masih berpotensi terjadi dalam jangka pendek. Pendorongnya antara lain penghentian pabrik untuk pemeliharaan, pengisian kembali stok setelah musim hujan, meningkatnya permintaan selama musim festival, permintaan proyek serta kenaikan biaya batu bara kokas.
Meski demikian, kenaikan harga baja yang signifikan dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan terbatas. Lonjakan impor, terutama dari China, dapat membatasi kemampuan produsen baja India menaikkan harga.
India sebelumnya memberlakukan bea pengamanan (safeguard duty) terhadap sejumlah impor baja untuk menekan lonjakan produk dari luar negeri. Pada Juni, India juga membuka penyelidikan antidumping terhadap impor HRC dari China, Jepang, dan Rusia.
Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya menahan arus impor.
India tercatat menjadi importir bersih baja jadi pada April-Juli, sementara impor baja jadi melonjak 36,6% secara tahunan. China menyumbang 31% dari total impor baja India, menjadikannya pemasok terbesar.
Menurut Fitch Ratings, meningkatnya impor menjadi risiko utama terhadap margin produsen baja India jika tekanan persaingan kembali menguat.
Intinya: harga baja India masih berpotensi naik karena permintaan pascahujan dan biaya batu bara kokas yang tinggi. Namun, banjir impor-terutama dari China-bisa menjadi rem bagi kenaikan harga dan menekan margin produsen baja India.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada