BLOOMBERG TECHNOZ

Tayang pada

Laba Tambang Batu Bara India Tergerus Mahalnya Solar dan Peledak

Bloomberg, Laba Coal India Ltd., BUMN tambang India, pada kuartal I-2026 diproyeksikan sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dipicu oleh kenaikan harga bahan baku, seperti material peledak dan diesel setelah perang di Timur Tengah.

Rata-rata perkiraan menunjukkan laba Coal India sebesar 86,4 miliar rupee (US$895 juta), sekitar 1% lebih rendah dari tahun sebelumnya, menurut pandangan analis yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Biaya produksi yang lebih tinggi dapat menghapus keuntungan perusahaan tersebut meski permintaan batu bara meningkat pada kuartal pertama tahun ini.

Perusahaan mengatakan pada April bahwa mereka menyerap biaya yang lebih tinggi untuk menghindari "efek berantai" pada perekonomian.

Perang Iran mengakibatkan penutupan efektif Selat Hormuz, jalur pasokan utama untuk energi dan komoditas ke India, menyebabkan kekurangan bahan bakar seperti solar, gas alam, dan gas LPG, serta menyebabkan lonjakan harga.

Pada awal April, biaya bahan peledak yang digunakan untuk meledakkan lapisan tanah di atas deposit mineral telah naik 26% dari tingkat sebelum perang, sementara harga solar—yang digunakan untuk bahan bakar mesin pertambangan — telah naik sekitar setengahnya sejak pertengahan Maret, menurut Coal India.

Secara operasional, kuartal I-2026 ditandai dengan pertumbuhan penjualan karena permintaan listrik untuk menjalankan peralatan pendingin lebih kuat selama musim panas.

Meskipun pengiriman meningkat hampir 4% dari tahun sebelumnya, perusahaan tambang tersebut juga menjual lebih banyak batu bara dalam lelang yang menghasilkan premi 44% di atas harga dasar.

Permintaan listrik puncak mencatat rekor baru selama periode tersebut, mendorong pemanfaatan di pembangkit listrik tenaga batu bara negara itu naik dan meningkatkan produksi sebesar 8% dari tahun sebelumnya, menurut data kementerian energi.

Namun, kontribusi bahan bakar tersebut dalam produksi listrik India selama kuartal tersebut tetap stagnan di sekitar 70%, sementara energi terbarukan semakin meningkat dengan pangsa rekor 19%.

Hal itu membuat persediaan batu bara Coal India yang tidak terjual tetap tinggi, memaksa perusahaan tambang tersebut untuk memangkas produksi sekitar 8% selama kuartal pertama.

Penyebaran energi terbarukan yang cepat serta meningkatnya persaingan dari perusahaan tambang lain telah menantang posisi dominan Coal India di pasar batu bara India.

Meskipun batu bara diperkirakan akan tetap menjadi bagian penting dari bauran energi negara setidaknya selama satu dekade, tantangan di masa depan telah mendorong Coal India untuk melakukan diversifikasi ke energi terbarukan dan penambangan mineral penting.

Artikel Lainnya

Liputan 6

Tayang pada

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Tayang pada

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Tayang pada

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh