Tribun
Tayang pada
Jadi Andalan Ekspor Kalsel, Wakil MPR RI Sebut Pemanfaatan Batu Bara Perlu Didorong Lewat Hilirisasi
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Wakil MPR RI, Eddy Soeparno menyebut Indonesia masih ketergantungan terhadap sumber energi batubara, di mana Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi salah satu penghasil energi fosil itu, hal ini menjadi tantangan dalam transisi energi.
Usai seminar kebangsaan MPR RI Goes to Campus di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, ia menyebut komoditas ini hingga kini masih menjadi salah satu andalan devisa ekspor Indonesia, dengan tingkat kebutuhan dari negara-negara tetangga dan negara industri yang masih tinggi.
Meski produksinya harus terus berjalan karena perannya bagi devisa negara, pemanfaatan batubara di dalam negeri dinilai perlu didorong melalui proses hilirisasi.
"Ya Kalsel ini kan memang memiliki sumber energi fosil yang besar, terutama batubara. Namun untuk pemanfaatan di dalam negeri, saya kira batubara perlu kita dalami lagi untuk teknologi hilirisasinya," jelasnya, Selasa (15/9/2026).
Di antara teknologi hilirisasi, menciptakan produk turunan yang lebih ramah lingkungan, misalnya dimethyl ether (DME) sebagai pengganti LPG serta produksi graphite.
Melalui hilirisasi, batubara sebagai sumber energi fosil tetap dapat dimanfaatkan dalam proses yang lebih bernilai tambah dan menghasilkan produk energi yang jauh lebih ramah lingkungan.
Upaya ini menjadi alternatif penting agar Kalsel tetap bisa memaksimalkan potensi sumber energi yang melimpah di tengah tren pengurangan pemanfaatannya di sektor kelistrikan.
Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak, khususnya kalangan akademisi dan kampus, terus dioptimalkan dalam mengawal transisi energi.
Berbagai masukan konstruktif terkait penanganan polusi, pencemaran air, hingga pengelolaan sampah kerap diterima dari perguruan tinggi termasuk Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
"Setiap kunjungan saya ke kampus-kampus, selalu kita menghasilkan masukan-masukan dari kampus untuk transisi energi di sektor tertentu, apakah di bidang polusinya, pencemaran airnya, penanganan sampah dan lain-lain," ungkapnya.
Pihaknya berharap kalangan mahasiswa dan akademisi dapat terus memberikan gagasan strategis terkait proses transisi energi ini.
Terlebih saat ini pemerintah sedang dalam proses merampungkan legislasi terkait Undang-Undang Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Undang-Undang Pengendalian Perubahan Iklim sebagai payung hukum masa depan energi nasional.
Senada, Rektor ULM, Prof Dr Ahmad Alim Bahri mengatakan, ketergantungan Indonesia terhadap energi batubara tidak bisa terus-menerus diandalkan karena jumlahnya yang terbatas.
"Indonesia membutuhkan inovasi-inovasi yang terkait dengan ketahanan energi nasional, misalnya dengan target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di masa yang akan datang," ujarnyа.
Ia pun menyambut baik adanya seminar kebangsaan MPR RI Goes to Campus di ULM, guna membahas transisi energi yang bisa diterapkan di Indonesia, khususnya Kalsel.
Ahmad menyebut kehadiran Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno juga menjadi kado indah Dies Natalis ke 68 ULM.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada