Investor Daily
Tayang pada
Harga Batu Bara Menguat, Produksi Batu Bara China Terendah Sejak 2021
JAKARTA, investor.id - Harga batu bara dunia menguat pada perdagangan Senin (17/8/2026), setelah sempat melemah dalam dua hari sebelumnya. Penguatan itu ditopang penurunan produksi batu bara China yang menyentuh level terendah sejak September 2021.
Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle kontrak Agustus 2026 menguat USS 0,05 menjadi US$ 129,3 per ton. Kontrak September 2026 naik US$ 0,45 ke level US$ 134 per ton, sedangkan kontrak Oktober 2026 terkerek USS 0,25 menjadi USS 136,35 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Agustus 2026 naik USS 0,35 menjadi US$ 122,25 per ton.
Kontrak September 2026 stabil di level US$ 120,95 per ton, sementara kontrak Oktober 2026 terpangkas US$ 0,25 menjadi US$ 123,35 per ton.
Dikutip dari Reuters, produksi batu bara China anjlok 10,1% secara tahunan menjadi 343,21 juta ton pada Juli 2026.
Penurunan terjadi di tengah pengetatan pengawasan keselamatan tambang setelah kecelakaan maut menewaskan puluhan pekerja.
Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan, produksi batu bara pada juli merupakan yang terendah untuk periode bulanan tunggal sejak September 2021. Angka tersebut tidak memperhitungkan Januari dan Februari yang dilaporkan secara gabungan untuk menghilangkan pengaruh libur Tahun Baru Imlek terhadap produksi.
Penurunan produksi terjadi meski permintaan batu bara China tidak melemah secara signifikan.
"Penurunan produksi kali ini bukan disebabkan oleh pelemahan permintaan, melainkan pengetatan aturan keselamatan tambang batu bara domestik yang terus berlangsung." kata analis Galaxy Futures dalam catatannya.
Pada Mei 2026, sebanyak 82 orang tewas akibat ledakan gas di tambang Liushenyu, Provinsi Shanxi. Kecelakaan tersebut menjadi insiden tambang paling mematikan di China dalam 17 tahun terakhir.
Penutupan Tambang di Shanxi
Peristiwa itu mendorong penutupan sejumlah tambang di Shanxi untuk menjalani pemeriksaan keselamatan.
Penyelidikan awal menemukan tambang tersebut menggunakan terowongan tersembunyi dan pintu palsu untuk menyembunyikan sejumlah area dari pengawasan regulator, menurut laporan media pemerintah China.
Setelah kembali beroperasi, banyak tambang memilih mengurangi kapasitas produksi secara sukarela. Penurunan paling signifikan terjadi di Shanxi, salah satu wilayah penghasil batu bara utama China.
Galaxy Futures memperkirakan produksi batu bara China pada Agustus akan turun 796-9%6 secara tahunan. Untuk sepanjang 2026, produksi diperkirakan turun 3%-5% karena pengawasan yang lebih ketat memaksa perusahaan tambang mengurangi produksi yang sebelumnya tidak dilaporkan.
Secara kumulatif, produksi batu bara China sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai sekitar 2,7 miliar ton, turun 2,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada