Investor.id
Tayang pada
Harga Batu Bara Melesat, Ada 3 Pemicu dari Asia
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara melesat pada perdagangan Senin (12/10/2026), seiring mengetatnya pasokan di China dan terganggunya pengiriman dari Indonesia. Kenaikan harga energi di tengah perang AS-Iran turut memperkuat tekanan, sementara permintaan batu bara China berpotensi meningkat menjelang musim dingin.
Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle kontrak Oktober 2026 naik US$ 0,5 ke level US$ 149,35 per ton. Kontrak November 2026 melesat US$ 1,05 ke level US$ 151,55 per ton, sedangkan kontrak Desember 2026 melejit US$ 1,05 menjadi US$ 152,75 per ton.
Baca Juga:
Harga Batu Bara Pekan Depan, Ada Peluang Ngacir ke Level Ini
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Oktober 2026 terkerek US$ 0,7 menjadi US$ 144,8 per ton. Kontrak November 2026 melonjak US$ 1,25 menjadi US$ 148 per ton, sementara kontrak Desember 2026 naik US$ 0,8 menjadi US$ 147,05 per ton.
Mengutip Mining.com, harga batu bara termal China mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir akibat pertumbuhan produksi domestik yang lambat dan gangguan pasokan dari Indonesia. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga energi yang dipicu perang AS-Iran.
Harga acuan batu bara untuk pembangkit listrik mencapai 1.004 yuan atau sekitar US$150 per ton pada Senin, menembus level 1.000 yuan untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Harga tersebut telah meningkat sekitar 25% sejak pertengahan Juli.
Batu bara masih menjadi sumber utama pembangkit listrik China, dengan kontribusi sekitar separuh dari bauran listrik negara tersebut. Namun, produksi domestik hingga Agustus turun lebih dari 3% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pengetatan pengawasan keselamatan tambang setelah kecelakaan fatal di Provinsi Shanxi pada Mei turut menghambat pemulihan produksi. Rencana pemulihan kapasitas produksi tahunan sekitar 31 juta ton di Shanxi juga berjalan lebih lambat dari perkiraan karena persetujuan pembukaan kembali tambang tertunda.
Tekanan pasokan diperkirakan berlanjut karena pemeliharaan jalur kereta batu bara utama China berlangsung hingga 26 Oktober.
Dari sisi pasokan global, pengiriman batu bara Indonesia ke China dilaporkan turun tajam tahun ini. Kebijakan pemerintah Indonesia untuk membatasi produksi guna memulihkan harga dan meningkatkan penerimaan negara ikut memengaruhi ketersediaan pasokan.
Baca Juga:
Masih Jadi Primadona, Penggunaan Batu Bara yang Efisien Dorong Konsumsi Jangka Panjang
Kondisi cuaca kering yang dikaitkan dengan El Nino juga menurunkan permukaan air sungai di sejumlah wilayah pertambangan batu bara Indonesia. Akibatnya, kapal tongkang harus mengurangi muatan sehingga distribusi batu bara terganggu.
Di sisi permintaan, konsumsi batu bara China biasanya meningkat selama musim dingin. Kenaikan harga gas alam cair (LNG) di tengah konflik Timur Tengah juga dapat menambah tekanan pada pasar energi dan menopang permintaan batu bara.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada