Bloomberg Technoz
Tayang pada
ESDM: PLTU Captive Tak Dapat Batu Bara Murah Harga DMO US$70/Ton
Bloomberg Technoz, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive tidak akan mendapatkan harga batu bara murah melalui skema domestic market obligation (DMO) seniali US$70/metrik ton.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengungkapkan PLTU captive harus membeli batu bara dengan harga pasar, sehingga tidak termasuk dalam industri penerima harga batu bara khusus domestik atau domestic price obligation (DPO).
“Mereka kan belinya harga pasar, jadi enggak ada masalah,” kata Tri kepada awak media di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026).
Dia juga memastikan pasokan batu bara untuk PLTU captive dalam kondisi aman. “Pasti, pasti [pasokan terjaga],” tutur Tri.
Sekadar informasi, lembag riset energi Ember mencatat PLTU batu bara captive di Indonesia telah setara dengan sekitar 58% produksi listrik dari pembangkit batu bara on grid, dengan industri pengolahan logam menjadi sektor pengguna utama PLTU captive.
Adapun, PLTU captive merupakan pembangkit listrik yang dibangun perusahaan untuk memasok fasilitasnya sendiri, tidak disalurkan ke jaringan listrik PT PLN (Persero).
Ember mencatat produksi listrik dari PLTU captive pada 2026 mencapai 134 terawatt hour (TWh) atau setara dengan 58% produksi listrik PLTU batu bara yang terhubung ke sistem PLN sebesar 233 TWh.
“Pembangkit ini sebagian besar berada di luar komitmen transisi energi Indonesia, setara dengan sekitar 135 Mt emisi CO₂, serta tambahan 30 TWh pembangkitan dari pembangkit batu bara captive dibandingkan dengan data Buku Panduan Statistik Energi dan Ekonomi ESDM,” tulis Ember dalam riset berjudul Indonesia’s Captive Coal Giant: Better Data to Shape Industrial Competitiveness, dipublikasikan Kamis (24/9/2026).
Ember menyatakan PLTU captive tumbuh sangat pesat didorong ledakan hilirisasi logam di Indonesia.
Think tank energi yang berbasis di Inggris itu mencatat pada 2025 industri pengolahan nikel menyerap lebih dari 81 TWh listrik captive pada 2025 dengan lebih dari 94% di antaranya berasal dari PLTU batu bara.
“PLTU captive tumbuh sangat pesat didorong oleh ledakan hilirisasi logam di Indonesia, sehingga menempatkan pasokan listrik industri di pusat perencanaan nasional,” tegas Ember.
Di sisi lain, lembaga tersebut mencatat produksi listrik captive mencapai 161 TWh pada 2026 dan memiliki selisih sekitar 12% dibandingkan dengan data Kementerian ESDM yang tercatat dalam Buku Panduan Statistik Energi dan Ekonomi Indonesia (HESSI) 2025.
(azr/wdh)
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada