RRI
Tayang pada
Ekspor Jambi Turun Terimbas Pembatasan Batu Bara dan Isu Selat Hormuz
RRI.CO.ID,Jambi - Kinerja ekspor Provinsi Jambi sepanjang semester pertama (Januari–Juni) 2026 tercatat mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat, koreksi ini dipicu oleh kebijakan pembatasan ekspor batu bara serta dinamika jalur pelayaran internasional.
Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidil Adha, menyampaikan bahwa komoditas bahan bakar mineral—yang didominasi batu bara—mengalami penurunan nilai ekspor sekitar 13 persen.
"Jadi batu bara itu ada pembatasan sekarang ini ekspornya. Nah, itu yang sebenarnya menyebabkan kita turun di ekspor dibandingkan tahun sebelumnya," kata Aidil saat rilis resmi BPS, Senin 3 Agustus 2026.
"Sebagian besar penurunan 13 persen itu karena batu bara. Batu bara kita dibatasi ekspornya sehingga ekspor batu bara mengalami penurunan. Itu menyebabkan penurunan yang paling tinggi untuk ekspor kita," ujarnya menambahi.
Berdasarkan data BPS, total nilai ekspor Jambi pada periode Januari–Juni 2026 tercatat sebesar 1.021,9 juta dolar AS. Angka ini melandai jika disandingkan dengan capaian periode yang sama pada tahun 2025 yang menembus 1.051 juta dolar AS.
"Jadi sebenarnya ekspor kita turun dibandingkan periode yang sama, yaitu Januari–Juni 2025 dengan Januari–Juni 2026," tutur Aidil.
Kondisi tersebut turut mengikis capaian surplus neraca perdagangan daerah. Pada Januari–Juni 2025, surplus perdagangan Jambi sempat menyentuh 1.031 juta dolar AS, namun tergerus menjadi 949 juta dolar AS pada periode yang sama tahun ini.
"Itu karena ekspor kita sedikit turun, sementara impor naik, sehingga surplus kita juga sedikit turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," ucapnya.
Selain sektor pertambangan, kontraksi cukup tajam juga membayangi sektor pertanian yang merosot hampir 35 persen. Aidil menerangkan, penurunan ekspor pertanian salah satunya terimbas oleh terganggunya pengiriman komoditas pinang akibat persoalan keamanan jalur pelayaran di kawasan Selat Hormuz.
"Jadi sektor pertanian kita turun, pertambangan kita turun, sedangkan industri pengolahan naik pada periode Januari–Juni," tegasnya.
"Jadi ke sana agak kurang aman. Sehingga untuk ekspor pinang ada pembatasan. Teman-teman eksportir agak menahan diri karena khawatir terjadi masalah," lanjut Aidil menjelaskan kehati-hatian para pelaku usaha.
Meski demikian, BPS menilai potensi pasar internasional untuk komoditas pinang lokal sebenarnya masih relatif terjaga.
"Kalau permintaan saya kira masih tetap. Cuma karena kondisi di sana beberapa waktu lalu, dalam beberapa bulan ekspor kita turun," pungkasnya.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada