Valid News

Tayang pada

Calon Investor Gasifikasi Batu Bara Masih Hitung Keekonomian Proyek

JAKARTA - Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu mengungkapkan, rencana proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) masih terus berjalan sampai saat ini.

Ditegaskannya, proyek itu harus dijalankan dengan perhitungan mendalam. Karena itu, dia memaklumi calon investor yang masih menghitung kelayakan dan keekonomian proyek tersebut secara mendetail.

"Mungkin masih dalam tahap melihat feasibility-nya seperti apa ya," kata Todotua kepada awak media di sela gelaran Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis (3/9).

Todotua menegaskan, proses kajian mendalam diperlukan karena industri DME tidak bisa berdiri sendiri (stand alone). Artinya, seluruh industri pendukung harus disiapkan secara matang, termasuk soal industri yang akan menyerap produk tersebut.

"DME itu kan enggak stand alone karena nanti juga di industri penyerapannya dan lain-lainnya itu kan juga harus dihitung, jadi masih berproses," paparnya.

Sejauh ini, dia menuturkan, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih terus mencari mitra teknologi untuk menyukseskan agenda gasifikasi batu bara menjadi DME.

Jika mengacu secara internasional, Todotua mengatakan China tetap menjadi benchmark yang paling pas untuk proyek gasifikasi tersebut.

Hilirisasi Batu Bara Jalan di Tempat

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebelumnya telah mengakui nilai tambah hilirisasi batu bara tidak sebesar komoditas lain seperti nikel dan bauksit.

Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rizwan Aryadi Ramdhan menyampaikan, karakteristik keekonomian tersebut yang menjadi salah satu penyebab lambatnya proyek hilirisasi batu bara.

"Kalau dilihat nilai tambah, memang untuk turunan batu bara ini tidak terlalu besar dibandingkan dengan komoditas lain di mineral seperti nikel atau mungkin bauksit," jelas Rizwan, Kamis (30/7).

Dia menambahkan, nilai tambah hilirisasi batu bara menjadi produk seperti DME maupun metanol tidak lebih dari 10 kali lipat dibanding batu bara mentah. Sementara di sisi lain, perusahaan harus merogoh investasi yang cukup besar untuk membangun proyek hilirisasi batu bara.

"Jadi nilai tambah itu enggak lebih dari 10 kali lipat dari batu baranya sendiri. Jadi dengan nilai investasi seperti tadi itu (PT Bumi Etam Chemical/BEC) US$2,3 miliar, tapi nilai tambahnya tidak terlalu besar, kayaknya effort-nya terlalu besar dibandingkan dengan profit yang mungkin akan didapatkan," bebernya.

Artikel Lainnya

Liputan 6

Tayang pada

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas

IDX Channel.com

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Tayang pada

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh