Bisnis Indonesia
Tayang pada
Bank Dunia Proyeksikan Produksi Batu Bara Indonesia Turun 12 Juta Ton pada 2026
Bisnis.com, JAKARTA — Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan produksi batu bara Indonesia turun 1,5% atau 12 juta ton pada 2026. Sejalan dengan itu, pasokan batu bara global diproyeksikan menyusut sebesar 0,7% atau 66 juta ton.
Penurunan produksi batu bara dunia terutama dipengaruhi oleh China yang produksinya turun sebesar 1,9% atau 91 juta ton karena banyaknya perusahaan tambang yang ditutup. Di sisi lain, penurunan produksi batu bara Indonesia diperkirakan turun lantaran target produksi yang dikurangi oleh pemerintah.
Di Australia, pasokan batu bara diperkirakan lebih rendah pada 2026, yang mencerminkan gangguan ekspor akibat kondisi cuaca yang terjadi lebih awal. Kemudian di Amerika Serikat (AS), produksi batu bara diproyeksikan terkontraksi sekitar 3% atau 15 juta ton.
Namun, penurunan pasokan batu bara dari China, Indonesia, Australia, dan AS, diperkirakan sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan produksi India sebesar 1,2% atau 13 juta ton. Angka proyeksi tersebut membuat India mencapai rekor tahunan sebesar 1.090 juta ton.
Sementara itu, produksi batu bara global diproyeksikan meningkat sekitar 26 juta ton atau 0,3% pada 2027. Hal ini didorong oleh ekspansi di China dan India. Untuk di China, peningkatan terjadi seiring dengan pelonggaran pembatasan akibat aturan keselamatan tambang yang diberlakukan pada 2026.
Sebaliknya, produksi batu bara Indonesia, Australia, Rusia, Amerika Serikat, diperkirakan kembali turun pada 2027. Penurunan juga terjadi di Uni Eropa karena kebijakan penghentian penggunaan batu bara secara bertahap (coal phase-out) terus berlanjut.
Wakil Kepala Ekonom sekaligus Direktur Prospects Group Bank Dunia, Ayhan Kose, menilai bahwa pasar komoditas dihantam sejumlah guncangan besar secara bersamaan.
"Kenaikan biaya energi dan gangguan perdagangan mendorong lonjakan harga berbagai jenis komoditas, sehingga berisiko memperburuk inflasi, kerawanan pangan, dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Prioritas utama harus diarahkan pada perlindungan masyarakat termiskin serta dukungan bagi negara-negara berpendapatan rendah yang saat ini sudah menghadapi tekanan berat akibat tingginya beban utang," ujar Kose dalam keterangan resmi, Rabu (28/10/2026).
Permintaan Batu Bara Meningkat pada 2026
Permintaan batu bara global diproyeksikan meningkat sebesar 1,2% atau setara dengan 103 juta ton pada 2026. Faktor yang mendorong peningkatan ini adalah peralihan penggunaan bahan bakar dari gas alam ke batu bara di sektor ketenagalistrikan, khususnya di kawasan Asia.
Secara wilayah, China diperkirakan mengalami peningkatan konsumsi batu bara sebesar 1% atau 46 juta ton, sehingga mencapai sekitar 5.000 juta ton. Kenaikan tersebut menggambarkan pemulihan permintaan setelah konsumsi batu bara China stagnan pada 2025.
Adapun kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya permintaan listrik, melemahnya produksi listrik tenaga angin, kenaikan harga gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG), serta meningkatnya produksi bahan kimia berbasis batu bara.
Kemudian di India, permintaan batu bara diproyeksikan tumbuh sebesar 4,2% atau 54 juta ton menjadi 1.350 juta ton. Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan aktivitas industri dan jasa, tingginya kebutuhan listrik, serta penurunan produksi listrik tenaga air imbas gelombang panas.
Sebaliknya, konsumsi batu bara di AS diperkirakan menurun sebesar 7% atau 28 juta ton. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh harga dan ketersediaan gas alam serta energi terbarukan yang mengurangi daya saing pembangkit listrik berbasis batu bara.
Di Uni Eropa, tingginya harga gas alam diperkirakan memperlambat laju penurunan permintaan batu bara. Namun, kondisi tersebut diperkirakan tidak dapat menghentikan tren penurunan permintaan batu bara yang telah berlangsung.
Konsumsi Batu Bara Naik Pada 2026
Konsumsi batu bara global diproyeksikan meningkat sebesar 1,2% pada 2026, dengan dipimpin oleh China dan India. Sementara itu, produksi batu bara pada 2027 diperkirakan turun 0,7%.
Untuk harga, World Bank memperkirakan batu bara akan dibanderol lebih murah pada 2027 dan 2028. Hal ini terjadi seiring dengan pemulihan pasokan LNG dan perluasan pembangkit listrik alternatif yang menggantikan batu bara.
Adapun pasar batu bara global semakin ketat karena kembali memanasnya konflik di Timur Tengah, ketidakpastian pasokan dari Indonesia, banyaknya penutupan tambang di China, hingga permintaan listrik yang tinggi di Asia.
Risiko yang berpotensi mendorong kenaikan harga batu bara adalah gangguan ekspor LNG dari kawasan Teluk yang berlangsung panjang serta penurunan ekspor Australia dan Indonesia yang lebih signifikan daripada perkiraan.
Selain itu, risiko penurunan harga juga terjadi karena pertumbuhan pembangkitan listrik dari energi terbarukan yang lebih cepat di China dan India, serta melemahnya permintaan dan impor batu bara China.
Sementara itu, risiko penurunan harga batu bara disebabkan pertumbuhan pembangkitan energi terbarukan yang lebih cepat di China dan India, serta melemahnya permintaan dan impor batu bara China.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara dengan Laba Paling Jumbo Semester I/2026, AADI & BYAN Teratas
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada