Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melanjutkan tren pelemahannya di tengah produksi yang berlimpah dari India maupun China.

Dilansir dari Refinitiv, harga batu bara pada 25 Maret 2025 tercatat sebesar US$98,25/ton atau turun 1,36% apabila dibandingkan penutupan perdagangan 24 Maret 2025 yang sebesar US$99,6/ton.

Posisi ini merupakan yang terendah sejak Mei 2021 atau sekitar empat tahun terakhir di mana pada periode tersebut masih dilanda pandemi Covid-19.

Dilansir dari mining.com, Glencore Plc mengumumkan pemangkasan produksi batu bara yang direncanakan, seiring dengan upaya eksportir terbesar bahan bakar paling kotor di dunia ini untuk menghentikan penurunan harga yang berkepanjangan.

Raksasa perdagangan komoditas ini akan memproduksi 5 hingga 10 juta ton lebih sedikit dari perkiraan sebelumnya di tambang Cerrejon di Kolombia. Tambang tersebut diperkirakan akan menghasilkan antara 11 hingga 16 juta ton batu bara tahun ini.

"Alasan utama pemangkasan ini didorong oleh harga batu bara termal ekspor yang tidak berkelanjutan," kata Glencore dalam pernyataannya pada Selasa.

Glencore memiliki sejarah panjang dalam mengurangi produksi saat harga lemah dan sebelumnya telah menyatakan kesiapan untuk bertindak guna mendukung salah satu komoditas terpentingnya.

Langkah ini dilakukan di tengah harga batu bara yang masih terpuruk. Penurunan ke level terendah sejak pertengahan 2021 disebabkan oleh produksi yang mencapai rekor tertinggi di India dan China, yang menyebabkan lonjakan stok batu bara di kedua negara tersebut.

Futures batu bara Newcastle di Australia telah turun menjadi sekitar US$100 per ton, merosot sekitar 20% sejak awal tahun. Sebelumnya, harga sempat mencapai rekor lebih dari US$450 per ton pada September 2022, menyusul invasi Rusia ke Ukraina. Sejak saat itu, produksi batu bara melonjak karena kenaikan harga dan kekhawatiran terhadap keamanan energi.


CNBC INDONESIA RESEARCH

(rev/rev)

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/research/20250326063126-128-621746/dihajar-china-india-harga-batu-bara-jatuh-ke-terendah-dalam-4-tahun