PT Adaro Indonesia | PT Adimitra Baratama Nusantara | PT Antang Gunung Meratus | PT Anugerah Bara Kaltim | PT Arutmin Indonesia | PT Asmin Bara Bronang | PT Bahari Cakrawala Sebuku | PT Baramutiara Prima | PT Berau Coal | PT Bhakti Energi Persada | PT Bharinto Ekatama | PT Bhumi Rantau Energi | PT Borneo Indobara | PT Bukit Asam (Persero) Tbk | PT Firman Ketaun Perkasa | PT Daya Bumindo Karunia | PT Bayan Resources Tbk. | PT Indominco Mandiri | PT Insani Bara Perkasa | PT Intitirta Primasakti | PT Jembayan Muarabara | PT Jorong Barutama Greston | PT Juloi Coal | PT Kalimantan Energi Lestari | PT Kaltim Prima Coal | PT Karbindo Abesyapradhi | PT Kartika Selabumi Mining | PT Karya Bumi Baratama | PT Kideco Jaya Agung | PT Mahakam Sumber Jaya | PT Manambang Muara Enim | PT Mandiri Inti Perkasa | PT Marunda Grahamineral | PT Multi Harapan Utama | PT Nuansacipta Coal Investment | PT Nusantara Berau Coal | PT Padangbara Sukses Makmur | PT Perkasa Inakakerta | PT Persada Kapuas Prima | PT Pesona Khatulistiwa Nusantara | PT Pipit Mutiara Jaya | PT Putra Muba Coal | PT Semesta Centramas | PT Singlurus Pratama | PT Sumber Kurnia Buana | PT Tunas Inti Abadi | PT Victor Dua Tiga Mega | PT Adani Global | PT Batubara Global Energy | PT Britmindo | PT Carsurin | PT Coalindo Energy | PT Dahana (Persero) | PT IOL Indonesia (Bureau Veritas Group) | PT Kalimantan Prima Persada | PT Leighton Contractors Indonesia | PT Lintas Wahana Indonesia | PT Oorja Indo KGS | PT Pinang Coal Indonesia | PT Prima Multi Mineral | PT SGS Indonesia | Superintending Company OF Indonesia (Sucofindo) | PT Surveyor Carbon Consulting Indonesia | PT TCRC INSPECTINDO | PT Thiess Contractors Indonesia | PT TbS Energi Utama Tbk. | PT VPR Laxmindo | PT Weir Minerals Indonesia | PT Duta Tambang Rekayasa | PT Accenture | PT Mandiri Herindo Adiperkasa | PT Pinang Export Indonesia | PT Glencore Indonesia | PT Sojitz Indonesia | PT Trafigura | PT Indika Energy Tbk | PT Mifa Bersaudara | PT Karya Lintas Prima | PT Alfara Delta Persada | PT Pamapersada Nusantara | PT Bara Prima Mandiri | PT Caraka Jasa Inspeksi | PT Kinerja Mahadaya | PT Mitrabara Adiperdana, Tbk | PT Tribhakti Inspektama | PT Mitra SK Analisa Testama | PT Bara Anugrah Sejahtera | PT Nan Riang | PT Jasa Mutu Mineral Indonesia | China Coal Solution PTE LTD | PT Garda Tujuh Buana | TNB Fuel Service SDN BHD | PT DNX Indonesia | PT Mitrabara Energy Sejahtera | PT Peabody Coaltrade Indonesia | PT Petrosea Tbk | PT Samindo Resources, Tbk. | PT Samindo Utama Kaltim | PT Servo Dharma Sejahtera | PT Servo Lintas Raya | PT SMG Consultants | PT Aditya Birla Global Trading Indo | PT Trasindo Murni Perkasa | PT ANINDYA WIRAPUTRA KONSULT | PT ASIATRUST TECHNOVIMA QUALITI | Hadiputranto Hadinoto & Partners Law Firm | PT SELUMA PRIMA COAL | Pt. Swiss niaga internasional | PT CIPTA KRIDATAMA | PT. HMS Bergbau Indonesia | PT Putra Perkasa Abadi | PT Tigadaya Minergy | PT Pertamina Lubriants | Powergen Resources Pte. Ltd. | PT Kutai Energi | PT Karya Putra Borneo (Oorja) | PT Indika Indonesia Resources | PT Indika Energy Trading | PT WHS Maritime Investments | PT Pelayaran Sinar Shipping Indonesia | PT Pelayaran Sinar Shipping Indonesia | PT Armada Indonesia Mandiri | PT Pelita Samudera Shipping Tbk. | PT Menara Bahtera Perkasa (Meranti Group) | PT Banyan Koalindo Lestari | PT Jambi Prima Coal | PT BATARA PERKASA | PT BINA INSAN SUKSES MANDIRI | PT Guruh Putra Bersama | PT Ade Putra Tanrajeng | PT Binuang Mitra Bersama Blok Dua | PT Trimata Benua | PT Bangun Nusantara Jaya Makmur | PT Pertamina Patra Niaga | PT Kapuas Bara Utama | PT Golden Great Borneo | PT Energi Batubara Lestari | PT Dizamatra Powerindo | PT Graha Panca Karsa | PT Tepian Indah Sukses | PT Nusa Persada Resources | PT Alam Bahtera Barito Raya | PT New Resources Mine Consulting | PT Duta Bara Utama | PT Priamanaya Energi | PT Komunitas Bangun Bersama | PT Arkara Prathama Energi | PT Perusahaan Bongkar Muat Putralintas Mandiritama | PT Kaldera Energi Nusantara | PT Truba Bara Banyu Enim | PT Welhunt Overseas Indonesia | PT Aplikanusa Lintasarta | PT Cakrawala Dinamika Energi | PT RMK Energy Tbk. | PT Baramulti Suksessarana Tbk.

APBI - ICMA Coal Price Chart

Detail Coal Chart Price

APBI - ICMA Coal Production Chart

Detail Chart

APBI - ICMA Activities

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menggelar rapat perdana Tim Koordinasi Strategis Proyek Innovation Regions for a Just Energy Transition (IKI-JET) di Movenpick Jakarta (13/06). APBI-ICMA menjadi salah satu asosiasi yang dilibatkan dalam tim koordinasi strategis proyek IKI-JET.Proyek IKI-JET merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah

More Activities

APBI Dorong Hilirisasi Batubara

APBI-ICMA mendorong pemerintah untuk serius mengembangkan industri hilirisasi batubara, serupa dengan industri nikel. Kristiono menilai bahwa pengolahan batubara memiliki banyak manfaat dan peluang untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi. Hal ini disampaikan oleh FH. Kristiono (Ketua Komite Sustainability).

Dalam acara Investortrust Power Talk, Kristiono menegaskan bahwa batubara tidak hanya dapat diolah menjadi metanol, tetapi juga dapat diubah menjadi syngas (gas sintesis) yang bisa digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai produk, termasuk plastik. Ia menyarankan agar pemerintah tidak hanya fokus pada produksi metanol saja, tetapi juga mengembangkan produk-produk lainnya seperti baterai, sebagaimana dilakukan dalam industri nikel.

"Syngas ini seperti feedstock, raw material. Bisa dipakai buat apa saja, mau produk metanol tadi, metanol kan bisa dibikin DME ya, atau dibikin yang paling gampang plastik. Itu bisa dari batubara," ujar Kristiono.

Meskipun hilirisasi batubara membutuhkan investasi yang besar, Kristiono meyakini bahwa manfaat yang diperoleh akan sebanding. Ia menbutkan bahwa investasi sebesar USD 2,4 miliar diperlukan untuk industrialisasi batubara, namun hal ini dapat mengurangi ketergantungan impor minyak dan gas. Lebih lanjut, Kristiono menyarankan agar Indonesia mencontoh China dalam hal teknologi gasifikasi batubara, dibandingkan dengan negara-negara Barat. Menurutnya, teknologi Eropa terlalu mahal dan kurang efisien dibandingkan dengan China yang memiliki kapasitas produksi jauh lebih besar. "Kenapa pakai teknologi Eropa sih? Toh dia paling setahun 2-3 juta ton kapasitasnya coal to chemical. Sedangkan di China 315 juta," tegasnya.

Dengan adanya hilirisasi batubara, Kristiono berharap industri batubara Indonesia dapat lebih berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

Read More

Diskusi Terkait Penyusunan Rencana Produksi Batubara Nasional Untuk 3 Tahun Kedepan

Dalam rangka penyusunan rencana produksi batubara nasional tahun 2025-2029, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara menggelar agenda rapat untuk mengumpulkan pandangan dari para pelaku usaha serta asosiasi yang terkait tentang potensi pasar secara domestik maupun ekspor di tahun 2025-2029 mendatang sebagai bahan penyusunan rencana produksi batubara nasional. Rapat yang dibuka oleh Andri Wijayanto selaku Koordinator Perencanaan Produksi dan Pemanfaatan Mineral & Batubara dilaksanakan secara hybrid pada kamis (13/6) di Bogor.

APBI-ICMA hadir memenuhi undangan dan turut berpartisipasi aktif memberikan paparan dalam agenda tersebut. Selain asosiasi, Ditjen Minerba juga mengundang produsen-produsen batubara untuk memaparkan pandangannya terkait potensi pasar domestik serta ekspor yang sesuai dengan negara tujuan ekspor masing-masing perusahaan, pergerakan harga batubara, serta peluang dan tantangan apa saja yang akan dihadapi oleh pelaku usaha di tahun 2025-2029 mendatang. perusahaan-perusahaan tersebut antara lain PT. Kaltim Prima Coal (KPC), PT. Berau Coal, dan PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN) yang juga merupakan anggota APBI-ICMA.

Pada dasarnya APBI-ICMA beserta dengan beberapa anggotanya yang memaparkan prospek perdagangan batubara 2025-2029 menyampaikan bahwa pasar kedepannya masih didominasi oleh permintaan dari Tiongkok, India, negara negara di ASEAN seperti Filipina, Malaysia, Thailand, serta Vietnam yang memiliki permintaan cukup melonjak sampai 2030.

Selain permintaan ekspor batubara, permintaan DMO juga masih mengalami peningkatan, apabila melihat tren nya pun perlahan memang meningkat dan secara tren, sudah 2 tahun belakangan realisasi DMO kita melebihi dari 25% yaitu mencapai angka 28%. Pembangkit listrik memiliki peranan penting dalam tren permintaan batubara nasional, menurut data dari RUPTL saja permintaan batubara masih diperkirakan mencapai 153 juta ton pada tahun 2030, selain itu adanya “pendatang baru” seperti kebutuhan batubara untuk smelter sendiri mengalami peningkatan, dari tahun 2022 angkanya mencapai 42,96 juta ton dan di tahun 2024 ini mencapai 60,20 juta ton dan sampai 2026 mencapai 84,24 juta ton. Dengan peningkatan ini, permintaan DMO tahun 2026 hampir mencapai 250 juta ton.

Menarik untuk dicermati adalah dengan posisi geopolitik semakin tidak menentu, maka pangsa pasar domestik sendiri harusnya bisa menjadi prioritas utama para penambang di Indonesia untuk menjual batubara mereka. Apalagi dari data sudah terlihat penjualan ke smelter sudah semakin meningkat dan harga penjualan batubara untuk smelter mengikuti harga pasar.  

APBI-ICMA pun menyampaikan beberapa hal yang sekiranya menjadi tantangan industri dalam penetapan produksi batubara nasional ini adalah terkait dengan volatilitas harga komoditas, disparitas harga jual aktual dan HBA. Menarik disini adalah dimana formula Harga Batubara Acuan (HBA) baru yang masih terdapat disparitas HBA dengan harga jual, karena acuan kalori yang dipakai adalah 6.322 GAR sehingga mempengaruhi kewajiban pembayaran royalti lebih tinggi, mungkin berdasarkan dari masukan beberapa anggota kami sendiri pun apakah sebaiknya acuan HBA-0 nya ini diacu berdasarkan kalori 5.000-5.500 GAR? Apalagi mayoritas penambang di Indonesia adalah di kalori tersebut, hanya sedikit Perusahaan yang memproduksi batubara 6.300 ke atas.

Tantangan lainnya adalah kewajiban pasokan batubara atau DMO. Hal ini menjadi tantangan karena tidak semua spesifikasi batubara dapat diserap oleh semua end user, selain itu masalah lainnya adalah capped harga batubara khusus yang sudah semakin jauh dengan harga market juga sepertinya harus dipertimbangkan kembali. Tentunya hal ini berhubungan juga dengan skema pungut salur batubara (skema MIP) yang sampai saat ini seluruh perusahaan batubara nasional sedang menunggu pemberlakuannya. 

Read More

PLN Siap Andil Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

PT PLN (Persero) kembali menggelar forum diskusi dan kolaborasi bisnis Road to PLN Investment Days 2024 dengan tema “Accelerating Renewable Energy Development: Opportunities & Challenges in Indonesia”.

Agenda ini bertujuan untuk menelisik peluang dan tantangan program Accelerated Renewable Energy Development (ARED) guna mengoptimalisasi pengembangan di Indonesia.

Adapun agenda yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan mulai dari sektor pemerintahan, bisnis, perbankan, akademisi, hingga investor dalam dan luar negeri merupakan upaya membangun kolaborasi dalam mengaksekerasi transisi energi bersih di tanah air.

Dalam sambutannya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo membahas mengenai masa depan manusia yang penuh ketidakpastian, penyebabnya adalah adanya emisi gas rumah kaca.

"Dari mana emisi gas rumah kaca? satu, kalau bapak ibu makan nasi beras di situ ada emisi gas metan, jadi kalau bapak ibu bahasa Jawanya semego makan banyak-banyak emisi gas rumah kaca semakin banyak lho. 1 liter bensin, 1 liter solar ada emisi gas rumah kaca, 1 KWH listrik ada emisi gas rumah kaca nya, 1 kg daging berapa ibu ada emisi gas rumah kaca," kata Darmawan dalam Road to PLN Investment Days 2024, Selasa (4/6/2024).

Darmawan menegaskan, PLN berkomitmen penuh mewujudkan visi Pemerintah Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Hal itu dilihat PLN telah meluncurkan laporan pertama bertajuk Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD).

Dikutip dari laman PLN, laporan TCFD berisi informasi penting terkait tata kelola, strategi hingga manajemen risiko yang berkaitan dengan dampak perubahan iklim terhadap bisnis PLN. Laporan ini juga mencakup roadmap dan strategi PLN untuk mencapai net zero emissions (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.

"I am here to announce bawa PLN fully commited to reduce the Greenhouse gas emissions. Kita tunjukkan kepada masyarakat Global bukan hanya kita bisa menurunkan emisi gas rumah, but we take own hand with take the leader of global community dalam memerangi perubahan iklim," pungkasnya.

Read More

APBI - ICMA News & Article

Bukit Asam (PTBA) Jajaki Kerjasama Proyek Gasifikasi Batubara

Baramulti Suksessarana (BSSR) Targetkan Produksi Batu Bara 18 Juta Ton 2024

Strategi Golden Energy Mines (GEMS) Genjot Produksi Batu Bara

Diincar Dunia, RI Kuasai 'Harta Karun' Kritis Ini

Melajunya Investasi Energi Bersih

APBI - ICMA Instagram

APBI - ICMA Coal Price Chart

Detail Coal Chart Price

APBI - ICMA Coal Production Chart

Detail Chart

APBI - ICMA Activities

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menggelar rapat perdana Tim Koordinasi Strategis Proyek Innovation Regions for a Just Energy Transition (IKI-JET) di Movenpick Jakarta (13/06). APBI-ICMA menjadi salah satu asosiasi yang dilibatkan dalam tim koordinasi strategis proyek IKI-JET.Proyek IKI-JET merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah

APBI - ICMA News & Article

Bukit Asam (PTBA) Jajaki Kerjasama Proyek Gasifikasi Batubara

Baramulti Suksessarana (BSSR) Targetkan Produksi Batu Bara 18 Juta Ton 2024

Strategi Golden Energy Mines (GEMS) Genjot Produksi Batu Bara

More Activities

APBI Dorong Hilirisasi Batubara

APBI-ICMA mendorong pemerintah untuk serius mengembangkan industri hilirisasi batubara, serupa dengan industri nikel. Kristiono menilai bahwa pengolahan batubara memiliki banyak manfaat dan peluang untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi. Hal ini disampaikan oleh FH. Kristiono (Ketua Komite Sustainability).

Dalam acara Investortrust Power Talk, Kristiono menegaskan bahwa batubara tidak hanya dapat diolah menjadi metanol, tetapi juga dapat diubah menjadi syngas (gas sintesis) yang bisa digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai produk, termasuk plastik. Ia menyarankan agar pemerintah tidak hanya fokus pada produksi metanol saja, tetapi juga mengembangkan produk-produk lainnya seperti baterai, sebagaimana dilakukan dalam industri nikel.

"Syngas ini seperti feedstock, raw material. Bisa dipakai buat apa saja, mau produk metanol tadi, metanol kan bisa dibikin DME ya, atau dibikin yang paling gampang plastik. Itu bisa dari batubara," ujar Kristiono.

Meskipun hilirisasi batubara membutuhkan investasi yang besar, Kristiono meyakini bahwa manfaat yang diperoleh akan sebanding. Ia menbutkan bahwa investasi sebesar USD 2,4 miliar diperlukan untuk industrialisasi batubara, namun hal ini dapat mengurangi ketergantungan impor minyak dan gas. Lebih lanjut, Kristiono menyarankan agar Indonesia mencontoh China dalam hal teknologi gasifikasi batubara, dibandingkan dengan negara-negara Barat. Menurutnya, teknologi Eropa terlalu mahal dan kurang efisien dibandingkan dengan China yang memiliki kapasitas produksi jauh lebih besar. "Kenapa pakai teknologi Eropa sih? Toh dia paling setahun 2-3 juta ton kapasitasnya coal to chemical. Sedangkan di China 315 juta," tegasnya.

Dengan adanya hilirisasi batubara, Kristiono berharap industri batubara Indonesia dapat lebih berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.

Read More

Diskusi Terkait Penyusunan Rencana Produksi Batubara Nasional Untuk 3 Tahun Kedepan

Dalam rangka penyusunan rencana produksi batubara nasional tahun 2025-2029, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara menggelar agenda rapat untuk mengumpulkan pandangan dari para pelaku usaha serta asosiasi yang terkait tentang potensi pasar secara domestik maupun ekspor di tahun 2025-2029 mendatang sebagai bahan penyusunan rencana produksi batubara nasional. Rapat yang dibuka oleh Andri Wijayanto selaku Koordinator Perencanaan Produksi dan Pemanfaatan Mineral & Batubara dilaksanakan secara hybrid pada kamis (13/6) di Bogor.

APBI-ICMA hadir memenuhi undangan dan turut berpartisipasi aktif memberikan paparan dalam agenda tersebut. Selain asosiasi, Ditjen Minerba juga mengundang produsen-produsen batubara untuk memaparkan pandangannya terkait potensi pasar domestik serta ekspor yang sesuai dengan negara tujuan ekspor masing-masing perusahaan, pergerakan harga batubara, serta peluang dan tantangan apa saja yang akan dihadapi oleh pelaku usaha di tahun 2025-2029 mendatang. perusahaan-perusahaan tersebut antara lain PT. Kaltim Prima Coal (KPC), PT. Berau Coal, dan PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN) yang juga merupakan anggota APBI-ICMA.

Pada dasarnya APBI-ICMA beserta dengan beberapa anggotanya yang memaparkan prospek perdagangan batubara 2025-2029 menyampaikan bahwa pasar kedepannya masih didominasi oleh permintaan dari Tiongkok, India, negara negara di ASEAN seperti Filipina, Malaysia, Thailand, serta Vietnam yang memiliki permintaan cukup melonjak sampai 2030.

Selain permintaan ekspor batubara, permintaan DMO juga masih mengalami peningkatan, apabila melihat tren nya pun perlahan memang meningkat dan secara tren, sudah 2 tahun belakangan realisasi DMO kita melebihi dari 25% yaitu mencapai angka 28%. Pembangkit listrik memiliki peranan penting dalam tren permintaan batubara nasional, menurut data dari RUPTL saja permintaan batubara masih diperkirakan mencapai 153 juta ton pada tahun 2030, selain itu adanya “pendatang baru” seperti kebutuhan batubara untuk smelter sendiri mengalami peningkatan, dari tahun 2022 angkanya mencapai 42,96 juta ton dan di tahun 2024 ini mencapai 60,20 juta ton dan sampai 2026 mencapai 84,24 juta ton. Dengan peningkatan ini, permintaan DMO tahun 2026 hampir mencapai 250 juta ton.

Menarik untuk dicermati adalah dengan posisi geopolitik semakin tidak menentu, maka pangsa pasar domestik sendiri harusnya bisa menjadi prioritas utama para penambang di Indonesia untuk menjual batubara mereka. Apalagi dari data sudah terlihat penjualan ke smelter sudah semakin meningkat dan harga penjualan batubara untuk smelter mengikuti harga pasar.  

APBI-ICMA pun menyampaikan beberapa hal yang sekiranya menjadi tantangan industri dalam penetapan produksi batubara nasional ini adalah terkait dengan volatilitas harga komoditas, disparitas harga jual aktual dan HBA. Menarik disini adalah dimana formula Harga Batubara Acuan (HBA) baru yang masih terdapat disparitas HBA dengan harga jual, karena acuan kalori yang dipakai adalah 6.322 GAR sehingga mempengaruhi kewajiban pembayaran royalti lebih tinggi, mungkin berdasarkan dari masukan beberapa anggota kami sendiri pun apakah sebaiknya acuan HBA-0 nya ini diacu berdasarkan kalori 5.000-5.500 GAR? Apalagi mayoritas penambang di Indonesia adalah di kalori tersebut, hanya sedikit Perusahaan yang memproduksi batubara 6.300 ke atas.

Tantangan lainnya adalah kewajiban pasokan batubara atau DMO. Hal ini menjadi tantangan karena tidak semua spesifikasi batubara dapat diserap oleh semua end user, selain itu masalah lainnya adalah capped harga batubara khusus yang sudah semakin jauh dengan harga market juga sepertinya harus dipertimbangkan kembali. Tentunya hal ini berhubungan juga dengan skema pungut salur batubara (skema MIP) yang sampai saat ini seluruh perusahaan batubara nasional sedang menunggu pemberlakuannya. 

Read More

PLN Siap Andil Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

PT PLN (Persero) kembali menggelar forum diskusi dan kolaborasi bisnis Road to PLN Investment Days 2024 dengan tema “Accelerating Renewable Energy Development: Opportunities & Challenges in Indonesia”.

Agenda ini bertujuan untuk menelisik peluang dan tantangan program Accelerated Renewable Energy Development (ARED) guna mengoptimalisasi pengembangan di Indonesia.

Adapun agenda yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan mulai dari sektor pemerintahan, bisnis, perbankan, akademisi, hingga investor dalam dan luar negeri merupakan upaya membangun kolaborasi dalam mengaksekerasi transisi energi bersih di tanah air.

Dalam sambutannya, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo membahas mengenai masa depan manusia yang penuh ketidakpastian, penyebabnya adalah adanya emisi gas rumah kaca.

"Dari mana emisi gas rumah kaca? satu, kalau bapak ibu makan nasi beras di situ ada emisi gas metan, jadi kalau bapak ibu bahasa Jawanya semego makan banyak-banyak emisi gas rumah kaca semakin banyak lho. 1 liter bensin, 1 liter solar ada emisi gas rumah kaca, 1 KWH listrik ada emisi gas rumah kaca nya, 1 kg daging berapa ibu ada emisi gas rumah kaca," kata Darmawan dalam Road to PLN Investment Days 2024, Selasa (4/6/2024).

Darmawan menegaskan, PLN berkomitmen penuh mewujudkan visi Pemerintah Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Hal itu dilihat PLN telah meluncurkan laporan pertama bertajuk Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD).

Dikutip dari laman PLN, laporan TCFD berisi informasi penting terkait tata kelola, strategi hingga manajemen risiko yang berkaitan dengan dampak perubahan iklim terhadap bisnis PLN. Laporan ini juga mencakup roadmap dan strategi PLN untuk mencapai net zero emissions (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.

"I am here to announce bawa PLN fully commited to reduce the Greenhouse gas emissions. Kita tunjukkan kepada masyarakat Global bukan hanya kita bisa menurunkan emisi gas rumah, but we take own hand with take the leader of global community dalam memerangi perubahan iklim," pungkasnya.

Read More

APBI - ICMA Instagram