KONTAN
Tayang pada
13 Januari 2026 pukul 00.00
Sektor Batubara Masih Tertekan, Simak Rekomendasi Sahamnya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki tahun 2026, emiten sektor pertambangan batubara Indonesia masih akan menghadapi situasi yang menantang. Meskipun harga acuan batubara diprediksi stabil, profitabilitas emiten masih bisa tertekan akibat perubahan regulasi dan kenaikan biaya operasional.
Industri mencoba mengatasi ancaman itu dengan hIlirisasi. Terbaru holding industri pertambangan, Mind Id menggandeng Pertamina untuk percepatan hilirisasi batubara menjadi menjadi produk energi alternatif.
"Mind Id melalui Bukit Asam (PTBA) berperan sebagai pemasok," kata Direktur Utama Mind Id, Maroef Sjamsoeddin, akhir pekan lalu.
Pertamina memainkan peran sebagai offtaker Pertamina memastikan hilirisasi batubara terserap dan tersalur.
Sementara Inav Haria Chandra, Analis Sinarmas Sekuritas menilai, revisi produksi Indonesia di 2026 jadi penyeimbang harga di tengah melemahnya permintaan dari China. Sekaligus memperkuat perkiraan, batas bawah harga di US$ 100-US$ 110 per ton.
Pada level harga ini, sekitar 10% produsen global, termasuk 74% pasokan dari Rusia, beroperasi di bawah biaya tunai (cash cost). Hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya
pemangkasan pasokan di masa mendatang.
"Meski meredam risiko penurunan harga, kami melihat tekanan yang meningkat pada kualitas laba emiten," ujarnya dalam riset 7 Januari 2026.
Menurutnya, volume ekspor Indonesia yang berkurang dan alokasi domestic market obligation (DMO) yang lebih tinggi, akan mengurangi harga jual ratarata (ASP) dan menekan margin.Terutama terasa pada produsen yang punya paparan lebih besar terhadap batubara berkualitas tinggi, yang bergantung melemahnya pasar pengiriman laut.
Rizal Rafly, Analis Ajaib Sekuritas Asia Fundamental memproyeksikan, pajak ekspor, disiplin produksi, dan potensi pengetatan DMO akan mempengaruhi lanskap batubara Indonesia tahun 2026.
Prediksi Rizal, harga batubara akan stabil atau secara bertahap pulih menuju US$ 120-US$ 125 per ton pada tahun 2026. "Didukung oleh pengetatan pasokan dan permintaan ipor yang kuat secara struktural dari India dan Asia Tenggara, ucap Rizal dalam riset 12 Desember 2025.
Bea ekspor
Inav memperkirakan,sektor batubara Indonesia akan menghadapi risiko kebijakan tambahan menyusul persetujuan resmi Komisi XI DPR terhadap rencana pemerintah untuk memberlakukan kembali bea ekspor batubara.
Pemerintah mengisyaratkan bea ekspor hanya akan diaktifkan selama periode harga batubara yang tinggi. "Sehingga membatasi dampak negatif jangka pendek. Tapi menjadi variabel yang dapat membatasi potensi kenaikan harga di masa mendatang," jelas Inav.
Di sisi lain, Inav memandang rencana pemerintah untuk meluncurkan mandat biodiesel B50 pada semester II-2026 sebagai beban biaya struktural.
Analis Philip Sekuritas Indonesia, Helen mengatakan beberapa faktor kunci yang mempengaruhi kinerja emiten batubara antara lain paparan penjualan batubara yang signifikan terhadap pasar domestik dan rasio pembayaran dividen yang tinggi. Adapun risiko potensial meliputi fluktuasi harga batubara dan kebijakan iklim yang terus berkembang.
Pada tahun 2025, saham batubara yang memberi return lebih baik ialah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Indika Energi Tbk (INDY). Kinerja yang lebih baik ini kurang didorong oleh fundamental batubara dan lebih didorong oleh eksposur terhadap segmen non batubara.
Inav mempertahankan pandangan netral terhadap emiten sektor batubara. Menurutnya, emiten batubara yang terdiversifikasi kemungkinan besar berkinerja lebih baik dibanding emiten sejenis yang murni hanya berbisnis batubara. Saham top pick pilihan Inav adalah INDY, karena bertransformasi jadi pemain sumber daya yang terdiversifikasi.
Rekomendasi saham
Berikut ini rekomendasi saham emiten batubara:
PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
PTBA mengantongi sebesar Rp 31,33 triliun per kuartal III-2025 atau tumbuh 2% year on year (yoy). Namun, Beban pokok pendapatan terealisasi sebesar Rp 27,8 triliun per kuartal III-2025 atau naik sebesar 11% secara yoy.
Sehingga laba bersih merosot 56,25% menjadi sebesar Rp 1,4 triliun. Perkembangan perluasan angkutan batubara Tanjung Enim-Keramasan telah mencapai 58%, yang diharapkan dapat memperkuat infrastruktur logistik perusahaan.
Melalui proyek ini kapasitas angkutan batu bara eksisting PTBA dapat meningkat sebesar 20 juta ton per tahun, sehingga perusahaan semakin mampu memperkuat kontribusinya dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Rekomendasi: Hold
Target harga: Rp 2.400
Helen, Philip Sekuritas Indonesia dalam risetnya 19 Desember 2025
PT Indika Energi Tbk (INDY)
Meskipun harga batubara lesu, Kideco terus meningkatkan efisiensi biayanya pada kuartal ketiga tahun 2025, dengan biaya tunai menurun 15% secara tahunan menjadi US$ 44,5/ton.
Peningkatan ini didukung oleh skema royalti baru yang berlaku efektif Mei 2025 (dikurangi dari 28% menjadi 19%) dan rasio pengupasan (stripping ratio/SR) yang lebih rendah sebesar 5,1x (dibandingkan 6,1x), sebagian diimbangi oleh biaya bahan bakar yang lebih tinggi setelah implementasi biodiesel B40.
Akibatnya, margin laba kotor Kideco sedikit meningkat menjadi 11,7% (dibandingkan 11,5% pada kuartal ketiga tahun 2024), meskipun laba bersih masih turun 25% secara yoy menjadi US$21 juta, yang mencerminkan lingkungan ASP yang lebih lemah. Saham INDY disukai karena prospek pertumbuhan yang besar dari segmen emas yang akan mulai beroperasi pada semester kedua tahun 2026.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 3.300
Yoga Ahmad Gifari, Sucor Sekuritas dalam risetnya pada 4 November 2025
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)
ITMG memajukan strategi diversifikasinya melalui ekspansi energi terbarukan dan paparan selektif terhadap rantai nilai nikel.
Hingga kuartal ke-3 tahun 2025, kapasitas energi terbarukan berbasis surya kumulatif yang dikontrak ITMG mencapai 102 megawatt peak (MWp), naik 13% secara quarter on quarter (QoQ), yang menggarisbawahi meningkatnya permintaan akan energi rendah karbondi seluruh operasinya dan klien eksternal. Secara paralel, ITMG mengakuisisi 585 juta saham PT Adhi Kartiko Pratama Tok.
(NICE) senilai Rp 256,23 miliar dengan harga Rp 438 per saham, premium dari harga pasar sekitar Rp 410 per saham. Ini memberikan ITMG kepemilikan saham minoritas sebesar 9,62%.
Perusahaan mengklarifikasi bahwa pembelian tersebut merupakan investasi langsung yang tidak mengendalikan dan bukan repo, yang dimaksudkan untuk mengamankan paparan strategis jangka panjang terhadap sektor nikel Indonesia sebagai bagian dari pergeseran yang lebih luas menuju aset yang selaras dengan transisi energi.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 24.300
Rizal Rafly, Ajaib Sekuritas Asia dalam risetnya pada 12 Desember 2025
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada