KONTAN

Tayang pada

Saham Batubara Belum Aman, Risiko Regulasi dan Harga Komoditas Masih Menghantui

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Awan gelap belum benar-benar pergi dari sektor batubara. Ketika harga komoditas global masih bergerak melemah dan laba emiten mulai kembali normal, pasar kini kembali dihadapkan pada ketidakpastian baru; rencana kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis, termasuk batubara.

Reaksi pasar pun langsung terasa. Saham-saham pertambangan, terutama yang terkait batubara dan mineral, sempat terkoreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir. Kekhawatiran investor bukan semata pada potensi perubahan mekanisme ekspor, melainkan juga pada sinyal meningkatnya intervensi pemerintah terhadap sektor tambang.

Ryan Winipta, Analis Indo Premier Sekuritas mencatat saham emiten coal and metal miners di bawah cakupan mereka sempat turun intraday sekitar 3%–15% setelah muncul kabar mengenai potensi penerapan kebijakan ekspor satu pintu. Meski demikian, IPOT menilai pasar kemungkinan bereaksi terlalu agresif.

"Kami berpendapat bahwa ini mungkin merupakan reaksi yang berlebihan, mengingat detail yang tersedia masih sangat terbatas. Namun, hal ini menimbulkan tekanan tambahan bagi sektor tersebut," tulisnya dalam riset, Selasa (19/5).

Namun justru ketidakjelasan itu yang membuat investor cemas. Wajar saja, lanjut Ryan, sebab tidak hanya karena isu ekspor satu pintu, tetapi juga rangkaian kebijakan lain yang muncul hampir bersamaan.

Sebelumnya, pemerintah sempat melempar wacana kenaikan royalti tambang. Kini muncul pula pembahasan mengenai kemungkinan skema kontrak pertambangan yang lebih menyerupai production sharing contract (PSC) di sektor migas.

Rangkaian sentimen tersebut membuat kepercayaan investor terhadap sektor tambang belum sepenuhnya pulih, meski harga beberapa komoditas dasar sebenarnya tidak berubah drastis.

Analis Senior Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai aturan ekspor satu pintu memang berisiko menekan fleksibilitas operasional emiten batubara dan meningkatkan ketidakpastian ekspor.

Menurutnya, dampak kebijakan tersebut kemungkinan lebih terasa bagi emiten berukuran menengah dan kecil. Sementara pemain besar relatif lebih siap beradaptasi karena memiliki skala bisnis, jaringan distribusi, serta posisi keuangan yang lebih kuat.

Dia pun menilai koreksi saham batubara sebagian memang sudah price-in risiko regulasi dan pelemahan harga batubara. "Namun penurunan lebih lanjut masih terbuka jika implementasi aturan memicu gangguan ekspor atau tekanan jual lanjutan," ujarnya saat dihubungi KONTAN, Kamis (21/5).

Pemangkasan Rating

Pandangan tersebut sejalan dengan perubahan sikap IPOT yang menurunkan rating sektor metals & coal dari overweight menjadi netral. Bukan karena fundamental emiten tiba-tiba memburuk drastis, melainkan karena ketidakpastian kebijakan diperkirakan masih menjadi overhang dalam jangka pendek hingga menengah.

Di sisi lain, tekanan terhadap saham batubara sebenarnya sudah berlangsung bahkan sebelum isu ekspor satu pintu menguat. Harga batubara global terus bergerak dalam tren normalisasi setelah sempat menikmati lonjakan luar biasa beberapa tahun terakhir.

Hal itu mulai tercermin pada kinerja saham emiten batubara yang secara bertahap kehilangan momentum. Investor kini tidak lagi hanya mengejar dividend yield jumbo atau laba fantastis seperti saat era booming komoditas.

Sukarno menilai kebijakan baru tersebut berpotensi mempercepat berakhirnya era supernormal profit emiten batubara. Terlebih, pasar juga tengah menghadapi penurunan harga batubara global dan normalisasi permintaan dari sejumlah negara konsumen utama.

Meskipun demikian, ia menilai risiko terbesar sektor saat ini sebenarnya masih berasal dari pelemahan harga batubara global, karena dampaknya langsung menekan average selling price (ASP) dan profitabilitas perusahaan. Sementara aturan ekspor satu pintu lebih bersifat tambahan sentimen negatif di pasar.

Artinya, tekanan terhadap sektor batubara bukan hanya persoalan regulasi domestik. Investor juga mulai mempertanyakan seberapa kuat emiten mampu mempertahankan margin keuntungan ketika harga jual turun dan biaya maupun ketidakpastian regulasi meningkat bersamaan.

Dalam kondisi seperti ini, pendekatan investor pun cenderung berubah lebih defensif. "Wait and see masih relevan dalam jangka pendek, sementara akumulasi bertahap lebih cocok pada emiten dengan fundamental kuat, cash flow solid, dan biaya produksi rendah," papar Sukarno.

Artikel Lainnya

Liputan 6

Tayang pada

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Tayang pada

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Tayang pada

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh