BISNIS INDONESIA

Tayang pada

Risiko El Nino Mengintai Pasar Batu Bara dan Pangan Asia

Bisnis.com, JAKARTA — Pola cuaca El Nino tahun ini diperkirakan menimbulkan guncangan sistemik bagi pasar global. Analis industri pelayaran menyoroti potensi gangguan terhadap permintaan batu bara Asia dan arus perdagangan pertanian seiring perkembangan peristiwa iklim ini hingga pertengahan 2026.

World Economic Forum (WEF) menyatakan dalam laporannya bahwa El Nino harus dilihat lebih dari sekadar persoalan cuaca. Lembaga itu memperingatkan bahwa El Nino pada 2026-2027 dapat menjadi guncangan bagi sistem pangan yang sudah rapuh, keuangan publik yang lemah, pasar energi yang tertekan, dan meningkatnya ketidakstabilan geopolitik.

Organisasi tersebut mengatakan fenomena ini kemungkinan akan menguji ketahanan lembaga-lembaga mendekati batas kemampuannya, dengan konsekuensi yang luas bagi pasar komoditas dan rantai pasokan.

Peringatan ini muncul setelah Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 2 Juni 2026 mengkonfirmasi kemungkinan 80% terjadinya peristiwa El Nino antara Juni dan Agustus 2026, sementara Pusat Prediksi Iklim Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) memperkirakan probabilitas 96% pola tersebut akan berlanjut hingga awal 2027.

Analis pasar perkapalan mengatakan waktu terjadinya peristiwa cuaca ini bertepatan dengan puncak permintaan listrik di Asia, risiko monsun India, dan pembentukan tanaman biji-bijian di seluruh wilayah penghasil utama, yang berpotensi menciptakan volatilitas pada tarif pengiriman.

Untuk pasar barang curah kering, dampak terbesar diperkirakan terjadi melalui pergerakan batu bara ke Asia.

Batu bara masih menyumbang lebih dari 70% pembangkit listrik India, dan musim panas yang lebih panas dan kering diperkirakan akan memperpanjang permintaan pembangkit listrik tenaga batu bara dan memperlambat pembangunan kembali cadangan domestik.

Impor batu bara termal Asia diperkirakan mencapai 76,26 juta metrik ton pada Mei 2026, naik 23% dari April 2026 dan di atas level Mei tahun lalu. Pengiriman batu bara melalui jalur laut dari China diproyeksikan mencapai 22,63 juta metrik ton, sementara dari India diperkirakan mencapai 13,78 juta metrik ton.

Peningkatan pergerakan batu bara diperkirakan akan mendukung peningkatan impor ke India, terutama dari Indonesia, Australia, dan Afrika Selatan, membantu menyerap pasokan kapal Panamax dan Kamsarmax di Samudra Hindia dan Pasifik.

"El Nino kembali menjadi faktor [penentu] untuk 2026, dan dampak angkutannya kemungkinan akan dirasakan terutama melalui permintaan listrik Asia, risiko panen, dan pergeseran arus perdagangan," kata analis perkapalan di Intermodal dalam laporan pasar pada 26 Mei 2026.

Sementara itu, dampak pada komoditas pertanian menghadirkan gambaran yang lebih kompleks bagi industri pengapalan.

El Nino menyebabkan penurunan curah hujan di Australia, Indonesia, dan sebagian Asia Selatan, sementara kondisi kelembapan membaik di sebagian Amerika Selatan bagian selatan.

Proyeksi saat ini menunjukkan penurunan produksi gandum Australia sebesar 19% menjadi 29 juta metrik ton pada 2026-2027, dengan ekspor turun 2,5 juta metrik ton menjadi 23,5 juta metrik ton.

WEF mengatakan El Nino mengancam akan semakin mengganggu pasar komoditas yang sudah menunjukkan dampak risiko ekonomi, dan memperingatkan bahwa dunia harus siap menghadapi guncangan iklim yang tumpang tindih dengan lonjakan biaya hidup.

Organisasi tersebut menggarisbawahi beras sebagai indikator penting karena merupakan komoditas yang diperdagangkan dan kebutuhan sehari-hari bagi miliaran orang.

Petani Asia telah mengurangi penanaman padi di tengah melonjaknya biaya energi dan pupuk akibat perang di Timur Tengah, dan El Nino mengancam pasokan makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi di dunia.

WEF menambahkan, rantai pasokan global juga menghadapi gangguan karena kekeringan menurunkan permukaan sungai dan menghambat transportasi darat, banjir merusak jalan, pelabuhan, gudang, dan pabrik pengolahan, serta panas mengurangi produktivitas tenaga kerja di berbagai sektor. Sektor pertanian sangat rentan karena biaya input meningkat tepat saat risiko iklim meningkat.

Pergeseran arus perdagangan

Untuk angkutan pertanian, analis perkapalan mengatakan dukungan mungkin lebih berasal dari pergeseran arus perdagangan daripada volume yang lebih tinggi.

Musim hujan India yang lebih lemah dapat meningkatkan impor minyak nabati, kacang-kacangan, biji-bijian pakan, dan pupuk, sementara pasokan minyak sawit Indonesia dan Malaysia dapat mengalihkan perdagangan minyak nabati.

Amerika Selatan dapat memperoleh pangsa ekspor relatif dalam kedelai dan tepung kedelai jika cuaca membaik sementara panen di Asia mengalami penurunan, menciptakan lebih banyak pengalihan arus permintaan dan reposisi kapal, terutama di segmen Supramax dan Panamax.

"El Nino lebih konstruktif untuk angkutan batu bara daripada angkutan biji-bijian dalam jangka pendek. Ini mendukung pemanfaatan kargo curah kering Pasifik melalui permintaan listrik Asia, sementara menciptakan risiko penurunan ekspor biji-bijian Australia dan risiko kenaikan tonase biji-bijian dan minyak nabati Atlantik," kata Intermodal.

Para analis juga mengatakan respons terkuat pada sisi angkutan akan terjadi jika gelombang panas, curah hujan monsun yang lemah, dan gangguan pasokan dari Indonesia terjadi bersamaan. Tanpa kombinasi tersebut, El Nino diperkirakan akan bertindak sebagai pendorong volatilitas daripada peristiwa bullish secara menyeluruh untuk tarif angkutan.

Artikel Lainnya

Liputan 6

Tayang pada

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Tayang pada

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Tayang pada

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Tayang pada

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Tayang pada

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

admin@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh