Bloomberg Technoz
Tayang pada
13 Januari 2026 pukul 00.00
RI Mau Pangkas Produksi Batu Bara, Harga Belum Tentu Balik Arah
Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) menilai rencana pemangkasan produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 belum tentu mengkerek harga komoditas tersebut.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengungkapkan pasar batu bara bersifat global dan sangat responsif. Dengan demikian, jika terjadi penyesuaian produksi dari salah satu negara produsen, pasar bakal bereaksi mencari alternatif pasokan.
Kondisi tersebut, kata Gita, berpotensi membuat negara-negara konsumen batu bara utama yang memiliki cadangan dan kapasitas produksi domestik seperti China dan India meningkatkan produksi dalam negerinya.
“Negara-negara konsumen utama yang memiliki cadangan dan kapasitas produksi domestik, seperti China dan India, dapat meningkatkan produksi dalam negerinya. Selain itu, pembeli juga memiliki opsi pasokan dari negara produsen lain,” kata Gita ketika dihubungi, Senin (12/1/2026).
“Karena itu, pengaruh terhadap harga tidak bersifat linier dan tidak bisa dilihat hanya dari sisi Indonesia,” tegas Gita.
Meskipun begitu, Gita mengaku belum dapat memproyeksikan rentang pergerakan harga batu bara ketika Indonesia berencana memangkas produksi menjadi sekitar 600 juta ton.
“Belum bisa diproyeksi harga,” ungkap dia.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan target produksi batu bara dalam RKAB 2026 akan dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton, lebih rendah dari target tahun lalu sebanyak 735 juta ton.
Bahlil menegaskan belum menetapkan angka target produksi batu bara pada tahun ini, tetapi dia menyatakan dalam RKAB 2026 target produksi akan berada di sekitar 600 juta ton.
“Urusan RKAB, Pak Dirjen Minerba lagi menghitung. [Hal] yang jelas di sekitar 600 juta. Kurang lebih. Bisa kurang, bisa lebih dikit,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers Kinerja Kementerian ESDM, Kamis (8/1/2026).
Bahlil berharap pemangkasan produksi yang akan dilakukan Indonesia dapat mengerek harga batu bara ke depannya.
Dalam kesempatan itu, Bahlil turut mengungkapkan produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton.
Realisasi produksi batu bara itu anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sebesar 836 juta ton. Kendati demikian, produksi itu lebih tinggi dari target yang dipatok tahun ini sebesar 739,6 juta ton.
“Saya harus jelaskan dalam forum ini agar tidak ada simpang siur, total produksi batu bara kita di 2025 sebesar 790 juta ton,” kata Bahlil.
Bahlil menerangkan sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi.
Sementara itu, realisasi penyaluran batu bara untuk pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) mencapai 254 juta ton atau 32%.
Adapun, stok batu bara yang dicadangkan sampai akhir 2025 sebesar 22 juta ton atau 2,8% dari keseluruhan produksi tambang.
Sepanjang pekan lalu, harga batu bara cenderung menanjak. Pada Jumat (9/1/2026), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$ 107,4/ton, naik 0,47% dari hari sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sepanjang perdagangan awal tahun ini.
Dalam perdagangan pekan lalu, harga batu bara membukukan kenaikan 0,8% secara point to point.
Namun, cecara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), batu bara masih berada di zona bearish. Hal itu tecermin dari indeks Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 48.
RSI di bawah 50 mengindikasikan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Namun, RSI batu bara belum jauh di bawah 50 sehingga bisa dikatakan cenderung netral.
Lalu, indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 38. Menghuni area jual (short) yang kuat. Kemudian, indikator Average True Range (ATR) 14 hari ada di 2. Hal ini memberi sinyal bahwa volatilitas harga batu bara sepertinya akan rendah.
Untuk perdagangan pekan ini, harga batu bara diprediksi masih akan bergerak terbatas. Target resisten terdekat ada di US$108—US$109 per ton. Sementara itu, target support ada di level US$106—US$104 per ton.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada