RRI
Tayang pada
5 Januari 2026 pukul 00.00
Permintaan Batu Bara Global 2026 Diprediksi Stabil
KBRN, Nabire: Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) memproyeksikan permintaan batu bara dari China dan India pada 2026 akan tumbuh secara moderat di kisaran 0,2 hingga 1 persen. Kendati masih mencatatkan pertumbuhan, outlook pasar batu bara tahun ini dinilai lebih menantang seiring penyesuaian regulasi yang mulai berlaku sejak awal 2026.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengatakan penyesuaian prospek permintaan batu bara termal dari China dan India diperkirakan terjadi secara terbatas dan tidak akan berdampak signifikan terhadap dinamika pasar global. Hal ini sejalan dengan transformasi bauran energi serta kondisi pasokan domestik di masing-masing negara.
“Untuk Tiongkok, permintaan impor batu bara termal pada 2026 diproyeksikan mengalami penyesuaian moderat sekitar 0,2 hingga 0,3 persen dibandingkan tahun 2025,” ujar Gita yang dikutip dari Bloomberg Technoz.
Dalam konteks tersebut, Indonesia tetap mempertahankan posisi strategis sebagai pemasok utama. Hingga November 2025, Indonesia berkontribusi sekitar 55 persen terhadap total impor batu bara China, menegaskan peran penting Indonesia di pasar global.
Sementara itu, permintaan impor batu bara India secara global pada 2026 diperkirakan masih tumbuh sekitar 1 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan kebutuhan listrik, meskipun realisasinya tetap dipengaruhi oleh pengelolaan stok batu bara domestik.
Gita menjelaskan hingga November 2025, Indonesia menyumbang sekitar 51 persen dari total impor batu bara India.
“Kondisi tersebut menegaskan peran dominan Indonesia sebagai mitra pasokan utama,” sambungnya.
Untuk pasar Asia Tenggara, peluang impor batu bara masih terbuka meski relatif terbatas dan sangat bergantung pada kebutuhan masing-masing negara. Gita mencontohkan permintaan dari Malaysia masih mencatat kenaikan, sementara pembelian Vietnam cenderung stagnan. Adapun pasar Jepang, Korea, dan Taiwan dinilai relatif stabil dengan kecenderungan permintaan pada spesifikasi tertentu.
Memasuki 2026, Gita menilai prospek pasar batu bara akan semakin menantang. Para pelaku usaha dihadapkan pada kombinasi penyesuaian regulasi, termasuk rencana ekspor dan kebijakan retensi devisa hasil ekspor (DHE), di tengah kenaikan biaya produksi serta ketidakpastian volume produksi yang disetujui pemerintah.
“Pelaku usaha akan lebih berhati-hati dengan fokus pada efisiensi, pengamanan kontrak jangka menengah, serta diversifikasi pasar yang realistis sesuai permintaan aktual,” ujarnya.
Dari sisi harga, batu bara menutup perdagangan akhir 2025 di jalur positif. Pada Rabu (31/12/2025), harga batu bara ICE Newcastle kontrak pengiriman bulan terdekat ditutup di level 107,5 dolar AS per ton, menguat 0,8 persen dibandingkan hari sebelumnya. Meski demikian, sepanjang 2025 harga batu bara tercatat turun 14,17 persen.
Di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap kelestarian lingkungan, peran batu bara diperkirakan terus tertekan dalam jangka panjang. International Energy Agency (IEA) mencatat permintaan batu bara global pada 2025 masih tumbuh 0,5 persen menjadi 8,85 miliar ton atau tertinggi sepanjang sejarah, namun diperkirakan akan melandai dan mencapai puncaknya pada 2030 seiring ekspansi energi baru dan terbarukan.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada