Kabar Bursa
Tayang pada
8 Januari 2026 pukul 00.00
Permintaan Batu Bara China Meningkat, RI Justru Batasi Pasokan
KABARBURSA.COM – Pergerakan harga batu bara global mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah dua hari tertekan tajam. Harga batu bara untuk kontrak Februari 2026 ditutup di level USD107 per ton, menguat 2,05 persen.
Stabilnya harga batu bara global tidak terlepas dari permintaan China yang meningkat. Harga batu bara termal di pelabuhan China utara relatif lebih tinggi seiring aktivitas destocking oleh pedagang.
Meski volume transaksi masih tergolong rendah dan stok belum turun signifikan, Sebagian pelaku pasar memilih menahan barang sambil menunggu lonjakan permintaan musim dingin. Strategi inilah yang membuat penawaran tidak lagi dilepas agresif, sehingga tekanan harga tertahan.
Kondisi serupa terlihat pada batu bara impor. Harga impor termal di China mengalami kenaikan karena pasokan domestik diperketat, kebutuhan utulitas yang meningkat secara musiman, serta biaya angkut laut yang relative kompetitif.
Kesenjangan ini membuka ruang bagi impor untuk masuk sehingga mendorong permintaan tambahan di musim dingin. Utilitas pun Kembali mengisi stok, mengurangi persediaan di Pelabuhan, dan secara langsung memberi tekanan ke sisi harga.
Di segmen batu bara metalurgi, sentiment pasar masih jauh lebih hati-hati. Pasar kokas mencerminkan kondisi fundamental yang lemah, dengan tekanan harga yang berlanjut setelah penyesuaian terakhir.
Pemulihan tertahan lantaran permintaan dari sektor baja belum memberikan dorongan berarti.
Ekspor Kolombia Turun 14 Persen
Dari sisi global, tekanan datang dari Kolombia. Negara Amerika Latin ini melaporkan ekspor curah batu bara dan kokas, termasuk kokas coking, non-coking, dan metalurgi, turun 14 persen menjadi 48,64 juta ton di sepanjang 2025.
Faktor domestik di Indonesia menjadi katalis utama penguatan harga. Diketahui, harga batu bara Newcastle Januari 2026 melonjak ke USD107,25 per ton, sedangkan untuk kontrak Februari naik ke USD107 per ton.
Untuk kontrak Maret, angkanya terkerek ke USD106,8 per ton. Begitu pula untuk batu bara Rotterdam yang pada Januari 2026 naik ke USD98,65 per ton. Untuk kontrak Februari naik ke USD96,7 dan Maret ka USD94,95.
Penguatan ini dipicu respons terhadap kebijakan pemerintah Indonesia yang memperketat produksi melalui revisi aturan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Mengutip BigMint, Kementerian ESDM menerbitkan pedoman operasional baru yang mewajibkan perusahaan tambang mengajukan revisi RKAB sesuai regulasi terbaru. Kebijakan ini secara langsung mengirim sinyal bahwa pasokan batu bara lokal tidak akan lagi longgar seperti tahun-tahun sebelumnya.
Walau begitu, pemerintah tetap membuka ruang transisi agar operasional tidak terganggu, terutama di awal tahun. Perusahaan yang telah mengajukan penyesuaian RKAB dan memenuhi persyaratan administrasi, masih diperbolehkan beroperasi hingga 31 Maret 2026.
Namun, produksinya dibatasi maksimal 25 persen dari target tahunan yang sebelumnya disetujui. Setelah RKAB disetujui, baru akan menjadi dasar operasional untuk sisa tahun berjalan.
Kebijakan pemangkasan produksi batu bara ini sebenarnya sudah berlangsung sejak Juli 2025. ESDM memangkan masa berlaku RKAB dari tiga tahun menjadi satu tahun, terhitung 2026. Hal ini bertujuan untuk memperkuat kendali pasokan dan merespons tren penurunan harga ko,oditas global sejak 2024.
Dengan pengendalian ini, Indonesia menempatkan stabilisasi harga sebagai prioritas kenbijakan.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada