TRIBUN
Tayang pada
28 Januari 2026 pukul 00.00
Pendapatan Negara di Kalteng Capai Rp 9,84 Triliun Berkat Batu Bara dan CPO
TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA — Realisasi pendapatan negara di Kalimantan Tengah memang menembus target pada 2025.
Namun capaian tersebut tetap menyisakan kerentanan, terutama karena APBN daerah masih sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas utama seperti batubara dan crude palm oil (CPO).
Berdasarkan data Realisasi I-Account APBN Regional Kalimantan Tengah per 31 Desember 2025, pendapatan negara tercatat mencapai Rp9,84 triliun atau 112,32 persen dari target.
Secara tahunan, capaian ini tumbuh 5,03 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Di balik kinerja tersebut, dinamika harga komoditas menunjukkan arah yang berlawanan.
Harga Batubara Acuan (HBA) sepanjang 2025 tercatat mengalami tren penurunan, sementara harga referensi CPO justru menguat dengan kenaikan sebesar 10,14 persen.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Kalimantan Tengah, Herry Hernawan mengakui, struktur pendapatan negara di daerah tetap sensitif terhadap pergerakan harga komoditas.
“Kalau bicara sensitivitas, pasti sensitif. Ketika harga batubara turun atau harga CPO turun, apalagi ditambah permintaan luar negeri yang melemah, itu otomatis menekan produksi,” kata Herry, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, pelaku usaha cenderung menahan produksi ketika harga komoditas berada pada level rendah. Kondisi tersebut berdampak langsung pada penerimaan negara.
“Ngapain nambah produksi kalau harganya jelek. Biasanya pelaku usaha akan menunggu. Dampaknya pasti terasa,” ujarnya.
Herry menjelaskan, penurunan harga dan volume produksi akan berpengaruh pada penerimaan negara dari sektor royalti dan Dana Bagi Hasil (DBH).
“Kalau harga batubara turun, royaltinya pasti turun. DBH juga ikut terpengaruh. Pagu DBH kita sekarang saja sudah turun, kalau realisasinya nanti harga dan volumenya sama-sama turun, dampaknya bisa lebih besar,” jelasnya.
Meski demikian, Herry menilai Kalimantan Tengah relatif lebih terlindungi dibanding daerah lain karena memiliki basis komoditas yang lebih beragam.
“Untungnya di Kalteng ini diversifikasi produknya cukup banyak. Jadi tidak hanya bertumpu pada satu komoditas,” katanya.
Namun ia menegaskan, diversifikasi tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan risiko fiskal, terutama jika penurunan harga komoditas berlangsung dalam waktu lama dan diikuti pelemahan permintaan global.
“Kita tetap harus waspada, karena kalau penurunannya sampai fatal, pengaruhnya ke penerimaan negara pasti signifikan,” pungkasnya.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada