IDN FINANCIALS
Tayang pada
Kurangi impor, India kebut proyek gasifikasi batu bara US$3,9 miliar
SINGAPURA - India semakin gencar mengembangkan teknologi gasifikasi batu bara, bergabung dengan sejumlah negara Asia lainnya seperti China dan Indonesia yang memanfaatkan teknologi berusia ratusan tahun tersebut untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi.
Dorongan pemerintah India memperoleh urgensi baru setelah gangguan pelayaran di Selat Hormuz selama perang AS-Israel melawan Iran mengancam pasokan minyak mentah, gas petroleum cair (LPG), dan bahan baku pupuk bagi negara-negara yang bergantung pada impor seperti India, menurut para analis.
Seperti dikutip CNA, bagi India, gasifikasi batu bara tampak sebagai solusi yang logis mengingat negara itu memiliki cadangan batu bara yang sangat besar.
Namun, para pakar menilai India menghadapi tantangan yang lebih berat dibandingkan negara-negara lain di kawasan, mulai dari karakteristik batu bara domestik, tingginya kebutuhan air, keterbatasan pendanaan, hingga koordinasi kebijakan yang terfragmentasi.
Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga batu bara konvensional yang membakar batu bara secara langsung, gasifikasi batu bara mengubahnya menjadi gas sintetis (syngas).
Proses yang telah digunakan selama berabad-abad ini memanaskan batu bara dan mereaksikannya dengan oksigen serta uap air untuk menghasilkan syngas yang terutama terdiri dari karbon monoksida dan hidrogen.
Syngas kemudian dapat dimurnikan dan diolah menjadi berbagai produk seperti pupuk, metanol, dimetil eter (DME), gas alam sintetis, dan hidrogen. DME juga dapat digunakan sebagai pengganti LPG.
Bahkan karbon dioksida sisa proses tersebut dapat ditangkap dan diubah menjadi produk lain.
Para ahli menegaskan bahwa gasifikasi batu bara dapat menggantikan sebagian impor energi, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikannya karena kebutuhan industri sangat besar, beragam, dan sulit digantikan dalam waktu singkat.
Atanu Mukherjee, CEO Dastur Energy, perusahaan konsultan transisi energi, menyebut teknologi ini sebagai cara untuk menciptakan “opsi tambahan” dan meningkatkan ketahanan energi, bukan jalan untuk menghentikan ketergantungan pada impor energi sepenuhnya.
Menurut para ahli, gasifikasi batu bara masih menjadi teknologi yang terbatas penggunaannya karena proyeknya mahal, kompleks secara teknis, dan membutuhkan waktu lama untuk dikembangkan.
Mukherjee menunjuk China sebagai contoh. Menurutnya, pengembangan gasifikasi batu bara di negara tersebut membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun sebelum mencapai skala besar.
Meski demikian, teknologi ini kembali menarik perhatian karena negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas mencari perlindungan dari guncangan pasar energi fosil.
Kebut Program Gasifikasi
Bulan lalu, India menyetujui program senilai US$3,9 miliar untuk mendukung proyek gasifikasi batu bara. Insentif yang diberikan mencakup hingga 20% biaya pembangunan pabrik dan mesin bagi proyek baru.
Pemerintah berharap program tersebut mampu menarik investasi swasta dalam jumlah besar melalui proses lelang kompetitif.
Pejabat India menyebut program itu sebagai langkah memperkuat ketahanan energi, meningkatkan pemanfaatan batu bara domestik, dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar, pupuk, serta bahan baku industri kimia.
Negara-negara Asia lain telah mengambil langkah serupa.
China saat ini memiliki 13 proyek baru gasifikasi batu bara yang sedang dibangun atau direncanakan. Beijing ingin memanfaatkan batu bara domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor gas alam.
Sementara itu, Indonesia pada awal Februari dilaporkan meluncurkan enam proyek gasifikasi batu bara dengan nilai investasi US$9,8 miliar untuk memproduksi DME sebagai pengganti LPG.
Minyak mentah, produk minyak, dan LNG menyumbang sekitar seperempat tagihan impor India serta sekitar 15% impor Indonesia.
Di China, impor bahan bakar mineral mencakup sekitar 20% total impor.
Daya tarik gasifikasi batu bara bagi India sangat jelas. Negara itu memiliki cadangan batu bara terbesar kelima di dunia, tetapi masih mengimpor sekitar 88% kebutuhan minyak mentah dan hampir setengah kebutuhan gas alamnya.
Pada 2021, India meluncurkan National Coal Gasification Mission dengan target menggasifikasi 100 juta ton batu bara per tahun pada 2030.
Mukherjee memperkirakan investasi sebesar US$55 miliar hingga US$78 miliar selama 10–15 tahun dapat memangkas tagihan impor India sekitar US$20 miliar.
Meski ambisinya besar, para analis menilai India menghadapi berbagai tantangan. Salah satu hambatan utama adalah tingginya kandungan abu dalam batu bara India.
Kandungan abu yang besar menurunkan efisiensi proses dan membutuhkan desain reaktor gasifikasi yang khusus.
Menurut laporan lembaga pemikir pemerintah India, NITI Aayog, kandungan abu batu bara India umumnya mencapai 30–45%.
Sebagai perbandingan, batu bara di China dan Indonesia memiliki kandungan abu di bawah 20%.
Martin Grabner dari lembaga riset Jerman Fraunhofer IKTS mengatakan teknologi gasifikasi yang banyak digunakan di China tidak bisa langsung diterapkan di India karena perbedaan karakteristik batu bara.
“Tidak ada yang berani membangun gasifier skala dunia dan menjamin bisa beroperasi stabil dengan kandungan abu 35% hingga 40%,” katanya.
India telah mencoba mengatasi masalah tersebut. Pada Februari 2022, teknologi gasifikasi batu bara lokal berhasil memproduksi metanol berkualitas tinggi dari batu bara India berkadar abu tinggi di fasilitas percontohan.
Meski menjanjikan, sebagian besar teknologi tersebut masih memerlukan pembuktian dalam skala komersial.
Kebutuhan Air yang Besar
Tantangan lain adalah konsumsi air yang tinggi. Tergantung produk akhir dan teknologi yang digunakan, gasifikasi batu bara membutuhkan volume air yang besar.
Di India, kebutuhan air bahkan lebih tinggi karena kandungan abu batu bara yang tinggi.
Masalah ini menjadi serius karena banyak cadangan batu bara India berada di wilayah pedalaman yang mengalami tekanan ketersediaan air.
Meski penggunaan air dapat dikurangi melalui desain teknologi yang lebih baik dan sistem daur ulang, langkah tersebut akan meningkatkan biaya proyek.
Saat ini India hanya memiliki satu pabrik gasifikasi batu bara skala komersial yang mampu mengolah hampir 2 juta ton batu bara per tahun.
Untuk mencapai target 100 juta ton pada 2030, India harus membangun puluhan fasilitas baru dalam waktu sekitar empat setengah tahun.
Lydia Powell dari Observer Research Foundation (ORF) mengatakan target tersebut akan sangat sulit dicapai. Ia bahkan mengaku terkejut jika 10% target tersebut berhasil direalisasikan dalam jangka waktu itu.
Menurut para ahli, pembangunan ekosistem gasifikasi batu bara bukanlah proyek jangka pendek, melainkan proses yang dapat memakan waktu 10 hingga 15 tahun sebelum mencapai skala yang berarti.
Pembangunan satu fasilitas gasifikasi batu bara skala komersial memerlukan investasi sekitar US$2 miliar hingga US$4 miliar.
Mukherjee memperkirakan program insentif terbaru pemerintah dapat menarik sekitar US$35 miliar investasi swasta.
Namun, India juga membutuhkan jaminan kredit, kepastian pasokan batu bara, aturan harga yang jelas, serta kontrak jangka panjang bagi produk turunannya seperti metanol, amonia, DME, gas alam sintetis, dan bahan baku pupuk.
Koordinasi antarkementerian juga menjadi tantangan karena proyek gasifikasi melibatkan kementerian batu bara, energi, pupuk, kimia, baja, lingkungan hidup, dan sumber daya air.
Para pengamat menilai India perlu membentuk lembaga khusus yang dapat mengoordinasikan seluruh kebijakan gasifikasi batu bara secara terpusat, mirip dengan model yang digunakan dalam program energi nuklir negara tersebut.
Pelajaran dari Indonesia
Para ahli juga memperingatkan bahwa momentum proyek bisa melemah jika harga minyak kembali turun dan pasokan energi dari Timur Tengah kembali normal.
Hal serupa pernah terjadi di Indonesia. Laporan Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) pada 2022 menyebut proyek gasifikasi batu bara menjadi DME hanya ekonomis ketika harga LPG sangat tinggi.
Dalam banyak periode, LPG impor justru lebih murah dibandingkan DME hasil gasifikasi batu bara, sehingga proyek-proyek tersebut kehilangan daya tarik ekonominya.
Karena itu, para ahli menilai alasan terkuat bagi India untuk mengembangkan gasifikasi batu bara bukanlah sebagai respons jangka pendek terhadap krisis tertentu, melainkan sebagai bentuk “asuransi energi” jangka panjang.
“India membutuhkan waktu yang sangat lama. China berhasil karena sangat sabar,” kata Powell. (DK)
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada