LAW JUSTICE
Tayang pada
20 April 2026 pukul 00.00
Indika Energy Incar Perbaikan Kinerja Lewat Diversifikasi Usaha
law-justice.co - PT Indika Energy Tbk (INDY) menyatakan bahwa ada peluang perbaikan kinerja pada tahun 2026. Tidak hanya memanfaatkan pemulihan harga batubara, emiten ini juga makin aktif mendiversifikasikan bisnisnya.
Sebagai kilas balik, INDY mengalami penurunan pendapatan 17,14% year on year (yoy) menjadi US$ 2,03 miliar pada 2025. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tergerus 40,18% yoy menjadi US$ 6,03 juta.
Head of Corporate Communications Indika Energy Ricky Fernando mengatakan, prospek kinerja INDY diperkirakan akan lebih stabil pada 2026 seiring dengan pergerakan harga batubara yang lebih kondusif meski tetap volatil. INDY menargetkan dapat memproduksi batubara sebanyak 30,3 juta ton pada tahun ini.
"Kami terus fokus pada efisiensi operasional dan optimalisasi biaya di seluruh lini bisnis, serta mendorong peningkatan kontribusi dari portofolio non-batubara," ujar dia, Senin (13/4/2026).
Salah satu proyek unggulan INDY di segmen non-batubara adalah Proyek Emas Awak Mas yang sedang dalam tahap pengembangan lanjutan dengan target produksi secara komersial pada awal 2027 nanti.
Selain itu, INDY juga terus memperluas ekosistem kendaraan listrik secara terintegrasi yang mencakup motor listrik melalui merek ALVA, kendaraan listrik komersial berbasis fleet as a service melalui Kalista, serta distributor bus listrik dan armada truk listrik untuk sektor pertambangan lewat INVI.
Untuk itu, INDY menyiapkan capital expenditure (capex) sebesar US$ 380,4 juta pada 2026 yang sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan Proyek Awak Mas, penguatan bisnis kendaraan listrik Kalista, hingga pengembangan bisnis logistik melalui Interport.
"Sumber pendanaan capex berasal dari kombinasi kas internal dan fasilitas pinjaman perbankan," tukas Ricky.
Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memprediksi pemulihan kinerja INDY cenderung terbatas dan masih sangat bergantung pada stabilitas harga batubara. Untuk segmen non-batubara, Proyek Awak Mas menjadi kandidat penopang utama kinerja laba INDY secara jangka panjang.
"Di sisi lain, segmen kendaraan listrik dan energi terbarukan masih capital intensive," kata dia, Senin (13/4/2026).
Untuk ke depannya, INDY perlu memperkuat efisiensi operasional bisnis batubara melalui Kideco Jaya Agung guna mengamankan arus kas sekaligus mempercepat komersialisasi Proyek Awak Mas. Tak hanya itu, dalam ekspansinya, INDY perlu memperhatikan risiko cost overrun, kenaikan beban utang, dan kompetisi ketat di segmen kendaraan listrik.
Lantas, Wafi merekomendasikan hold saham INDY dengan target harga di level Rp 3.500 per saham.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada