PATROL MEDIA
Tayang pada
27 April 2026 pukul 00.00
Harga BBM nonsubsidi melonjak, pengusaha batubara Sumsel: Operasional semakin berat, kami menyerah
Kenaikan Harga BBM Berdampak Luas pada Berbagai Sektor Ekonomi
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya solar, yang melonjak hampir dua kali lipat telah memberikan tekanan berat pada sejumlah sektor ekonomi di Indonesia. Salah satunya adalah industri batubara di Sumatera Selatan (Sumsel), yang kini semakin terpuruk akibat beban biaya operasional yang meningkat tajam.
Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Sumsel, Andi Asmara, menyatakan bahwa para pengusaha batubara menghadapi tantangan yang semakin berat. Sebelumnya, mereka sudah kesulitan karena kebijakan pemerintah yang memaksa angkutan batubara melewati jalan khusus. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha terpaksa menutup usaha mereka. Kini, kenaikan harga BBM tambah memperparah situasi.
“Naiknya harga BBM cuma menambah berat operasional tambang, pokoknya posisi (pengusaha) manyun,” ujar Andi saat diwawancarai oleh wartawan.
Dampak pada Sektor Jasa Pengiriman
Di sektor jasa pengiriman, kenaikan harga BBM juga menjadi perhatian serius. Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (ASPERINDO), Haris Jumadi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga BBM berpotensi mendorong naiknya tarif pengiriman barang dan dokumen. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa biaya bahan bakar merupakan komponen utama dalam biaya operasional perusahaan jasa pengiriman.
Meski demikian, Haris mengatakan bahwa saat ini para pelaku usaha masih bersikap “wait and see” dan belum terburu-buru menaikkan tarif. Namun, peluang kenaikan harga tetap terbuka seiring dengan meningkatnya biaya operasional. Untuk sementara, mereka mencoba menyiasati kondisi ini dengan melakukan efisiensi di berbagai sektor guna menekan dampak kenaikan harga BBM terhadap biaya operasional.
“Intinya, ruang kenaikan tarif itu ada, tapi waktunya akan sangat bergantung pada seberapa besar tekanan biaya yang terjadi ke depan,” kata Haris.
Dampak pada Industri Sawit
Selain itu, industri kelapa sawit juga mengalami tekanan akibat kenaikan harga BBM. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menjelaskan bahwa dampak Perang Teluk terhadap industri sawit menyebabkan gejolak ekonomi. Harga pupuk naik dan langka, serta harga BBM industri di lapangan yang meningkat.
Pertamina mulai membatasi pengiriman BBM ke daerah, sehingga memengaruhi berbagai faktor biaya seperti transportasi produksi Tandan Buah Segar (TBS) ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan pengapalan Crude Palm Oil (CPO) ke pabrik refinery. Biaya alat berat dan kemungkinan tuntutan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) juga turut meningkat.
Di sektor pemasaran, biaya transportasi naik, terutama untuk tujuan Eropa yang harus mengelilingi Benua Afrika. Demikian juga biaya asuransi meningkat, terutama karena faktor keamanan dan keselamatan. Namun, dari sisi output ekspor ke Timur Tengah justru anjlok.
Kesimpulan
Dari berbagai sektor yang terdampak, dapat disimpulkan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak hanya memengaruhi biaya operasional langsung, tetapi juga berdampak pada rantai pasok dan harga pasar. Pelaku usaha terus beradaptasi dengan melakukan efisiensi dan menunggu perkembangan lebih lanjut. Namun, potensi kenaikan tarif di berbagai sektor tetap terbuka jika tekanan biaya terus meningkat.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada