KONTAN

Tayang pada

8 Mei 2026 pukul 00.00

Harga Batubara Tetap Membara, Berkah Saham ADRO, BUMI, hingga BYAN Masih Terbuka

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga batubara yang masih bertengger di level tinggi menjadi katalis positif bagi emiten produsen emas hitam. Para pemain raksasa seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berpotensi mendulang untung.

Melongok data Refinitiv pada pekan ini, harga batubara pada perdagangan Selasa (5/5/2026) ditutup di level US$ 139,7 per ton, menguat 0,26%. Sementara dari dalam negeri, Harga Batubara Acuan (HBA) periode pertama bulan Mei 2026 yang ditetapkan pemerintah juga terkerek naik.

Contohnya, HBA dalam kesetaraan nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR, Total Moisture 12,26%, Total Sulphur 0,66%, dan Ash 7,34 ditetapkan sebesar US$ 106,57 per ton. Artinya, terdapat kenaikan jika dibandingkan dengan HBA periode kedua April 2026 yang bertengger di angka US$ 103,43 per ton.

Mundur sejenak ke bulan Maret 2026, lonjakan harga batubara tercatat melesat hingga 33,31% year on year (YoY) dibandingkan dengan Maret 2025. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, sempat memaparkan bahwa pergerakan harga komoditas dunia untuk kelompok energi menjadi salah satu yang mengalami penguatan paling signifikan.

“Pada Maret tahun 2026 secara umum, harga komoditas di pasar global bervariasi baik secara month to month ataupun secara year on year-nya. Kenaikan harga secara tahunan terjadi pada kelompok energi, logam mulia serta logam dan mineral,” ujar Ateng dalam keterangan resmi, Senin (4/5).

Melihat tren ini, CGS International memandang saham ADRO menjadi salah satu emiten yang ketiban durian runtuh di tengah ketidakpastian global berkat kokohnya harga batubara.

Dalam paparannya, Andrian A. Saputra, Retail Research Analyst CGS International Sekuritas Indonesia, melihat bahwa di tengah terjadinya foreign outflow di pasar modal, justru terlihat adanya inflow yang cukup deras masuk ke saham ADRO.

Terbaru, pada penutupan perdagangan Rabu (6/5), ADRO kembali menguat 0,80% ke level Rp 2.530 per saham.

Dari kacamata fundamental, ADRO mencetak kinerja kuartal I-2026 yang tergolong positif. Laba bersih perusahaan menembus sekitar US$ 128,13 juta, melesat 67% secara tahunan (YoY). Kenaikan ini ditopang oleh pendapatan usaha yang terkerek naik 26,71% menjadi US$ 470,90 juta, dari sebelumnya US$ 371,61 juta.

Faktor pendorong kenaikan harga energi ini memang masih dipengaruhi oleh beragam faktor global, seperti tingginya risiko pasokan energi, pemulihan rantai pasok yang belum sepenuhnya stabil, hingga ketegangan geopolitik yang terus berlanjut.

Tidak hanya itu, sejumlah negara turut memengaruhi dinamika permintaan batubara global. Korea Selatan, misalnya, mulai melonggarkan pembatasan penggunaan batubara untuk menjaga stabilitas energi.

Di sisi lain, China terus menggenjot produksi domestik sekaligus mempercepat proyek konversi batubara. Permintaan yang tetap kuat ini sukses menopang harga batubara bertahan di level atas, meski belum menyentuh posisi puncaknya.

“Ke depan, arah harga batubara akan sangat bergantung pada kondisi energi global. Jika pasokan energi seperti minyak kembali normal, maka harga batubara berpotensi mengalami tekanan,” lanjut Andrian.

Kebijakan Domestik dan Ketahanan Fundamental

Dari sisi kebijakan domestik, langkah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mematok kenaikan HBA periode awal Mei 2026 menjadi sentimen positif tersendiri. Kenaikan HBA ini berpeluang mengerek naik pendapatan maupun margin emiten tambang, termasuk ADRO.

Terkait dividen, manajemen ADRO juga telah menetapkan kurs acuan pembagian dividen, yang menjadi magnet daya tarik tambahan bagi para investor pemburu yield.

Secara keseluruhan, ADRO masih disokong oleh kinerja keuangan yang kokoh, tingginya harga komoditas, serta sentimen kebijakan yang suportif.

Namun, investor tetap perlu mencermati bahwa tingginya ketergantungan pada komoditas membuat prospek sektor ini amat sensitif terhadap perubahan cuaca energi global.

Nafan Aji Gusta, Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas menyatakan bahwa selama harga batubara sanggup bertahan di kisaran US$ 135 per ton, atau setidaknya tidak terjerembap di bawah level psikologis US$ 130 per ton, sentimen positif bagi emiten batubara masih akan menyala.

“Harga yang relatif tinggi tersebut menjaga profitabilitas sektor ini, meskipun dampaknya terhadap masing-masing perusahaan bisa berbeda tergantung pada strategi dan karakter bisnisnya,” kata Nafan kepada KONTAN, Selasa (5/5).

Nafan menambahkan, ADRO saat ini tidak lagi murni bergantung pada pengerukan batubara. Perusahaan yang terafiliasi dengan Thohir Bersaudara tersebut tengah agresif melakukan diversifikasi ke sektor energi hijau.

Kunci kekuatan ADRO terletak pada bantalan arus kas yang solid dari bisnis batubara, dan dana tersebut dapat digunakan untuk membiayai ekspansi energi hijau. Strategi ini membuat ADRO memiliki pijakan kuat dalam menghadapi transisi energi, sembari tetap mencicipi legitnya harga batubara saat ini.

Di sisi lain, ITMG yang dikenal dengan produksi batubara berkalori tinggi cenderung mendapat manfaat instan. Ketika harga batubara kalori tinggi melesat, produk ITMG yang berada di segmen bernilai tambah ini langsung menangguk untung. Artinya, sensitivitas kinerja ITMG terhadap fluktuasi harga batubara tergolong sangat tinggi.

Sementara itu, BYAN dan BUMI mengantongi keunggulan dari sisi skala produksi. Khusus untuk BUMI, besarnya volume produksi membuka celah peningkatan pendapatan secara masif saat harga komoditas menguat.

“Jika efisiensi biaya dapat dijaga, maka peningkatan ini juga akan mengalir ke laba bersih. BYAN pun serupa, dengan leverage yang kuat terhadap harga komoditas karena efisiensi operasional dan basis produksi yang besar,” ujar Nafan.

Proyeksi Harga Global dan Strategi Emiten

Memasuki sisa tahun 2026, prospek harga batubara diramal masih akan cukup kokoh, setidaknya pada paruh pertama tahun ini. Peluang harga merosot di bawah US$ 120 per ton dinilai cukup minim dalam waktu dekat.

Katalis utamanya adalah faktor musiman, seperti lonjakan konsumsi listrik kala musim panas di negara-negara populasi raksasa seperti China dan India.

Selain itu, dinamika geopolitik global juga sukses mengunci harga energi tetap mahal. Tingginya ketidakpastian pasokan energi alternatif menjadikan batubara tetap relevan sebagai instrumen substitusi andalan.

“Di sisi lain, faktor cuaca juga dapat memengaruhi pasokan. Curah hujan tinggi di area tambang, misalnya, bisa mengganggu produksi dan distribusi, sehingga menahan pasokan di pasar,” tambah Nafan.

Muhammad Wafi, Head of Research Korea Investment Sekuritas Indonesia (KISI) sepakat bahwa stabilnya harga batubara di kisaran US$ 130-US$ 140 per ton di awal 2026 sukses menjadi tulang punggung kinerja emiten tambang.

Kendati demikian, Wafi menilai berkah ini tidak dinikmati secara merata. Imbas positifnya amat bergantung pada portofolio biaya, strategi bisnis, serta seberapa jauh tingkat diversifikasi emiten.

Dalam kacamata Wafi, ADRO dan BYAN berada pada pole position karena keduanya kondang memiliki ongkos produksi yang efisien serta ruang margin yang tebal.

“Kondisi ini membuat keduanya lebih tahan terhadap fluktuasi harga sekaligus tetap mencetak profitabilitas yang solid,” kata Wafi.

Berdasarkan laporan kinerja kuartal I-2026, BYAN sempat mencatat koreksi pada lini maupun bottom line. Pendapatan BYAN berkurang 7,70% YoY menjadi US$ 821,65 juta, dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai US$ 890,15 juta.

Imbasnya, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk BYAN juga terpangkas 12,45% YoY menjadi US$ 190,79 juta, dari sebelumnya US$ 217,92 juta.

Lebih lanjut, Wafi memandang BUMI memiliki sensitivitas ekstra terhadap pergerakan harga komoditas lantaran struktur biaya dan tingkat leverage yang lebih tinggi.

Alhasil, lonjakan harga batubara tidak selalu terkonversi sempurna menjadi lonjakan laba bersih. Meskipun pendapatan berpotensi meroket, beban biaya masih dapat menahan laju keuntungan.

Meski begitu, rapor BUMI cukup mentereng di kuartal perdana 2026. Emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Grup Salim ini sukses mencetak pertumbuhan ganda.

Pendapatan BUMI melesat 19,75% YoY menjadi US$ 417,6 juta, dengan kontribusi dominan dari segmen batubara senilai US$ 384 juta. Sejalan dengan itu, laba bersih BUMI turut melonjak 40,73% YoY menyentuh US$ 24,15 juta di kuartal I-2026, dibandingkan capaian periode sebelumnya di US$ 17,16 juta.

Adapun ITMG dinilai berada di posisi moderat. Selain masih menyerap untung dari pengerukan batubara, perseroan juga mulai menggarap diversifikasi ke sektor non-coal.

Hal ini membuat roda bisnis ITMG tidak melulu disetir oleh harga batubara, meski imbasnya sensitivitas mereka terhadap percik lonjakan harga komoditas ikut menyusut.

Wafi ITMG belum merilis laporan resmi kuartal I-2026, riset Ciptadana Sekuritas yang terbit pada 28 April 2026 memprediksi bahwa kinerja perseroan masih akan tertahan secara volume akibat hambatan cuaca dan ketidakpastian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Namun secara tahunan, pendapatan ITMG diramal tetap tumbuh sebesar 26% YoY dengan lonjakan laba bersih mencengangkan hingga 57% YoY, semata mata berkat terdongkraknya harga jual rata-rata (ASP) batubara global.

Menimbang seluruh racikan data di atas, Wafi menyimpulkan bahwa saham ADRO dan BYAN masih menyajikan pesona investasi paling seksi di sektor ini.

“ADRO unggul dari sisi diversifikasi bisnis dan kekuatan arus kas, sementara BYAN memiliki keunggulan sebagai produsen berbiaya rendah yang mampu memaksimalkan margin di tengah harga batubara yang tetap solid,” tandasnya.

Artikel Lainnya

Liputan 6

Tayang pada

8 Mei 2026 pukul 00.00

08/05/26

1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam

Bisnis Indonesia

Tayang pada

8 Mei 2026 pukul 00.00

08/05/26

10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi

IDX Channel.com

Tayang pada

8 Mei 2026 pukul 00.00

08/05/26

10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?

METRO

Tayang pada

8 Mei 2026 pukul 00.00

08/05/26

10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia

CNBC Indonesia

Tayang pada

8 Mei 2026 pukul 00.00

08/05/26

10 Perusahaan Tambang RI Paling Tajir Melintir, Cuannya Gak Masuk Akal

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh

Alamat Sekretariat.

Menara Kuningan Building.

Jl. H.R. Rasuna Said Block X-7 Kav.5,

1st Floor, Suite A, M & N.

Jakarta Selatan 12940, Indonesia

Email Sekretariat.

secretariat@apbi-icma.org

© 2025 APBI-ICMA

Situs web dibuat oleh