Investor Daily
Tayang pada
13 April 2026 pukul 00.00
Harga Batu Bara Mixed di Tengah Dinamika Global
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara mixed pada Kamis (9/4/2026), di tengah tekanan penurunan ekspor Indonesia serta dinamika kebijakan energi dan geopolitik global yang masih membayangi pasar.
Harga batu bara Newcastle untuk April 2026 stagnan di level US$ 135,5 per ton. Sedangkan Mei 2026 terpangkas US$ 0,05 menjadi US$ 132,4 per ton. Sementara itu, Juni 2026 naik US$ 0,05 menjadi US$ 133,25 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk April 2026 turun US$ 0,95 menjadi US$ 106,7 per ton. Sedangkan, Mei 2026 jatuh US$ 0,65 menjadi US$ 108,75 per ton. Sedangkan pada Juni 2026 terkoreksi US$ 0,65 menjadi US$ 111,85 per ton.
Kinerja ekspor batu bara Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, harga batu bara global bergerak variatif seiring perubahan kebijakan energi dan dinamika geopolitik dunia.
Berdasarkan data pengapalan, ekspor harian batu bara termal Indonesia turun tajam menjadi 930.000 ton dalam lima hari terakhir. Angka ini merosot 25% dibandingkan pekan sebelumnya (week-on-week) dan 29% di bawah rata-rata harian 2025 yang mencapai 1,31 juta ton.
Penurunan pasokan ini terjadi di tengah harga yang relatif stabil serta permintaan yang tetap kuat dari pembeli utama seperti India dan China. Harga spot FOB Kalimantan untuk batu bara 4.200 GAR tercatat stabil di level US$60 per ton. Sementara itu, harga batu bara 3.400 GAR dan 3.800 GAR masing-masing bertahan di US$36,35 dan US$48,30 per ton.
Dari sisi global, arah kebijakan energi turut memengaruhi prospek batu bara. Di Amerika Serikat (AS), kebijakan energi mengalami perubahan signifikan sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat.
Perubahan Kebijakan AS
Sebelumnya, pemerintahan Joe Biden bersama sejumlah perusahaan utilitas mendorong transisi menuju energi terbarukan dengan mengurangi penggunaan batu bara. Puluhan pembangkit listrik tenaga batu bara bahkan direncanakan untuk ditutup.
Namun, kebijakan tersebut kini berubah. Pemerintah AS disebut memberikan dukungan lebih besar terhadap industri batu bara dan menahan laju transisi ke energi bersih. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya listrik serta memperlambat upaya pengurangan emisi karbon.
Di Eropa, langkah serupa juga terlihat. Italia memutuskan menunda penutupan permanen empat pembangkit listrik tenaga batu bara hingga 2038. Kebijakan ini diambil setelah konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan biaya pembangkitan listrik berbasis gas.
Sementara itu, harga batu bara global menunjukkan tren melemah dalam jangka pendek. Pada 8 April 2026, harga batu bara tercatat di level US$135,50 per ton, turun 2,17% dibandingkan hari sebelumnya.
Dalam sebulan terakhir, harga batu bara telah terkoreksi sekitar 5,77%. Meski demikian, secara tahunan harga masih melonjak 40,41%, mencerminkan tingginya volatilitas pasar komoditas energi.
Sebagai perbandingan, harga batu bara pernah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level US$457,80 per ton pada September 2022. (berbagai sumber)
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada