Bloomberg Technoz
Tayang pada
2 Januari 2026 pukul 00.00
Harga Batu Bara Merosot 14% Lebih di 2025, Apa Kabar 2026?
Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga batu bara menutup perdagangan 2025 di jalur hijau. Namun sepanjang tahun lalu, harga si batu hitam ambrol.
Pada Rabu (31/12/2025), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$ 107,5/ton. Menguat 0,8% dibandingkan hari sebelumnya.
Harga batu bara bangkit usai terkoreksi dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, harga terpangkas 2,2%.
Sepanjang 2025, harga komoditas ini melorot 14,17%.
Seiring kesadaran akan kelestarian lingkungan yang makin tinggi, batu bara kurang mendapat tempat. International Energy Agency (IEA) melaporkan, permintaan batu bara global pada 2025 diperkirakan naik 0,5% ke 8,85 miliar ton. Ini memang menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Akan tetapi, ke depan permintaan akan melandai dan memuncak pada 2030. Ekspansi penggunaan energi baru-terbarukan kian menggusur peran batu bara.
Bahkan di China, konsumen batu bara terbesar dunia, puncak penggunaan batu bara sepertinya akan mencapai puncak sebelum 2030. IEA memperkirakan permintaan batu bara China akan menurun secara bertahap selama lima tahun ke depan.
Mengutip riset BCA Sekuritas, Indonesia berencana untuk mengurangi produksi batu bara pada 2026. Ini dilakukan sebagai upaya untuk menstabilkan harga.
Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar dunia. Pengurangan pasokan dari Indonesia tentu akan mempengaruhi harga di tingkat global.
“Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana untuk menurunkan produksi batu bara sebanyak 700 juta ton pada 2026. Lebih rendah ketimbang proyeksi produksi 2025 yang sebanyak 750 juta ton,” sebut riset itu.
Pada 2024, ekspor batu bara Indonesia mencapai 555 juta ton. Angka yang menjadikan Indonesia menyumbang 33-35% permintaan batu bara dunia.
“Kementerian ESDM menilai penurunan produksi sebagai upaya untuk menyeimbangkan volume dan harga,” lanjut riset BCA Sekuritas.
Sementara US Energy Information Administration (EIA) memperkirakan konsumsi batu bara Amerika Serikat (AS) pada 2025 akan naik 9%. Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan kebutuhan untuk pembangkit listrik.
“Pada 2026, konsumsi batu bara diperkirakan turun karena peningkatan penggunaan sumber energi baru-terbarukan untuk pembangkit listrik. Namun penurunan produksi lebih rendah ketimbang konsumsi, sehingga akan ada sedikit kenaikan ekspor dan inventori,” sebut keterangan tertulis EIA.
Sedangkan S&P Global memperkirakan konsumsi batu bara di Eropa akan turun pada 2026. Koreksi yang disebabkan kombinasi antara kenaikan pasokan gas alam, penurunan harga gas, dan penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di berbagai negara Benua Biru.
“Impor batu bara Uni Eropa diperkirakan turun 15-20% pada 2026 menjadi sekitar 30 juta ton. Pembangkitan listrik tenaga batu bara mengalami penurunan struktural,” sebut keterangan tertulis S&P Global.
Glenn Rickson, Associate Director for Europe Power and Renewables Research di S&P Global, memproyeksikan pembangkitan listrik dari PLTU di Eropa Barat pada 2026 bisa turun lebih dari 40% pada 2026 menjadi rata-rata 3 gigawatt. Jerman menjadi penyumbang penurunan terbesar.
“Sedangkan pembangkitan listrik oleh PLTU di Italia diperkirakan jatuh 50% seiring beberapa pembangkit yang beralih status menjadi cadangan’” tambah Rickson.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada