Investor Daily
Tayang pada
29 Januari 2026 pukul 00.00
Harga Batu Bara Melemah, Tekanan Transisi Energi Makin Terasa
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara mayoritas melemah pada Selasa (27/1/2026). Pelemahan itu seiring tekanan transisi energi setelah China dan India memangkas emisi listrik secara bersamaan.
Harga batu bara Newcastle untuk Januari 2026 naik US$ 0,15% ke level US$ 108,8 per ton. Sedangkan Februari 2026 jatuh US$ 1 menjadi US$ 109 per ton. Sementara itu, Maret 2026 terkoreksi US$ 0,75 menjadi US$ 109,25 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Januari 2026 melemah US$ 0,2 menjadi US$ 98,5. Sedangkan, Februari 2026 terkoreksi US$ 1,5 menjadi US$ 97,75. Sedangkan pada Maret 2026 turun US$ 1,45 menjadi US$ 95,6.
Dikutip dari EnergyWorld, India dan China memangkas pertumbuhan emisi listrik, meredam lonjakan batu bara AS
Penurunan ini mengimbangi meningkatnya penggunaan batu bara di Amerika Serikat, sehingga membantu menahan laju pertumbuhan global polutan penyebab perubahan iklim. Kedua negara tersebut menambah kapasitas energi bersih dalam jumlah rekor, bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kenaikan permintaan listrik.
India dan China berhasil menurunkan emisi dari pembangkit listrik dengan mempercepat pengembangan energi bersih. Langkah ini, menurut para peneliti, mampu mengimbangi peningkatan penggunaan batu bara di AS sekaligus menahan pertumbuhan global emisi terkait perubahan iklim.
Emisi sektor ketenagalistrikan China dan India, dua pengguna batu bara terbesar di dunia yang menyumbang 93% kenaikan emisi karbon dioksida dalam satu dekade hingga 2024, turun secara bersamaan untuk pertama kalinya dalam 52 tahun. Hal ini terungkap dalam laporan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang dirilis bulan ini.
Penurunan emisi di China dan India pada 2025 dinilai sebagai sinyal tren ke depan. Sepanjang tahun lalu, kedua negara mencatat penambahan kapasitas pembangkit energi bersih dalam jumlah rekor, yang lebih dari cukup untuk memenuhi pertumbuhan permintaan listrik,” ujar Lauri Myllyvirta, analis utama CREA, lembaga riset independen yang berbasis di Finlandia.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada