INVESTOR.ID
Tayang pada
Harga Batu Bara Jatuh, Tekanan Permintaan Global Masih Berlanjut
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara mayoritas jatuh pada Senin (220/4/2026), di tengah tekanan permintaan dan meningkatnya peran energi terbarukan dalam bauran energi dunia.
Harga batu bara Newcastle untuk April 2026 naik US$ 0,3 ke level US$ 132,6 per ton. Sedangkan Mei 2026 terpangkas US$ 2,05 menjadi US$ 120,4 per ton. Sementara itu, Juni 2026 jatuh US$ 2 menjadi US$ 120,9 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk April 2026 turun US$ 0,3 menjadi US$ 101,6 per ton. Sedangkan, Mei 2026 jatuh US$ 0,9 menjadi US$ 99 per ton. Sedangkan pada Juni 2026 terkoreksi US$ 1,2 menjadi US$ 101,7 per ton.
Dikutip EuroNews, Laporan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menyebut, produksi listrik berbasis batu bara secara global justru stagnan pada Maret, bahkan turun di sejumlah wilayah di luar China.
Secara rinci, pembangkit listrik batu bara global tercatat tidak mengalami pertumbuhan, sementara di luar China turun sekitar 3,5%. Di China sendiri, terjadi kenaikan tipis sekitar 2% akibat peralihan sementara dari gas ke batu bara.
Pengiriman batu bara melalui jalur laut juga menurun 3% secara global, mencapai level terendah sejak 2021 saat pandemi Covid-19.
Secara keseluruhan, pembangkit listrik berbasis fosil turun 1% dibanding tahun sebelumnya, dengan gas alam mencatat penurunan 4%.
Menariknya, kondisi ini terjadi di tengah krisis energi global akibat pembatasan di Selat Hormuz yang mengganggu pasokan minyak dan gas dunia.
Namun, energi terbarukan justru berperan sebagai penyangga utama. Produksi energi surya naik sekitar 14%, sementara energi angin meningkat 8% di negara-negara utama.
Energi Terbarukan Naik
CREA mencatat, tambahan kapasitas energi surya dan angin pada 2025 saja sudah cukup untuk mengimbangi dampak gangguan pasokan energi fosil.
Meski sempat muncul kekhawatiran “kebangkitan batu bara” seperti yang terjadi saat krisis gas Eropa akibat perang Rusia-Ukraina, data terbaru menunjukkan hal berbeda.
Tidak ada pembangkit batu bara yang kembali dioperasikan atau ditunda penutupannya selama Maret. Bahkan, di beberapa negara seperti AS, India, Uni Eropa, Turki, dan Afrika Selatan, penggunaan batu bara justru menurun.
CREA menilai, alasan utamanya adalah struktur biaya yang tidak lagi kompetitif, karena energi terbarukan semakin murah dan efisien.
Sejumlah negara Eropa seperti Prancis dan Inggris bahkan mempercepat elektrifikasi, penggunaan heat pump, dan ekspansi energi surya untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil.
Isu transisi energi ini juga akan dibahas dalam pertemuan internasional di Kolombia pada 24–29 April, yang fokus pada percepatan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada