INVESTOR
Tayang pada
Harga Batu Bara Beragam, Permintaan India Masih Lesu
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara beragam pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Pelemahan permintaan impor dari India masih membayangi pasar dan menekan harga batu bara Australia, sementara memanasnya konflik di Timur Tengah membatasi penurunan karena meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle kontrak Juli 2026 melesat US$ 1,05 menjadi US$ 128,75 per ton. Kontrak Agustus 2026 melemah US$ 0,15 ke level US$ 130,5 per ton, sedangkan September 2026 menguat US$ 0,15 menjadi US$ 131,3 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam kontrak Juli 2026 naik US$ 0,2 menjadi US$ 119,55 per ton. Kontrak Agustus 2026 stabil di US$ 119,4 per ton, sedangkan September 2026 terkerek US$ 0,05% ke level US$ 118,2 per ton.
Dikutip dari Trading Economics, harga batu bara kembali melemah pada Juli 2026 dan bergerak di bawah US$ 130 per ton, mendekati level terendah sejak awal Maret. Pelemahan dipicu berkurangnya permintaan impor dari India yang berhasil menekan ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Pelemahan nilai tukar rupee serta meningkatnya produksi batu bara domestik membuat perusahaan utilitas di India memperpanjang upaya mengurangi impor. Langkah tersebut didukung tingginya persediaan batu bara di dalam negeri sehingga kebutuhan pembelian dari pasar internasional semakin berkurang.
Sebagai konsumen batu bara terbesar kedua di dunia, penurunan impor India turut mengurangi persaingan pembelian di pasar global dan menekan harga batu bara Australia.
Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Meski demikian, penurunan harga masih terbatas karena pasar energi global kembali dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Meski demikian, penurunan harga masih terbatas karena pasar energi global kembali dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong kenaikan harga berbagai komoditas energi. Situasi semakin memanas setelah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) menunda pelayaran melintasi Selat Hormuz menyusul serangan terhadap salah satu kapal yang diduga dilakukan Iran.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan LNG global dan berpotensi mendorong kenaikan harga gas alam.
Di sisi lain, meningkatnya harga LNG diperkirakan akan mempertahankan permintaan batu bara berkualitas tinggi dari Australia, terutama oleh Jepang dan Korea Selatan yang selama ini menjadi konsumen utama batu bara termal premium.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan kebijakan impor energi negara-negara Asia, yang diperkirakan akan menjadi faktor utama penentu arah harga batu bara dalam jangka pendek.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada