Bloomberg Technoz
Tayang pada
7 Januari 2026 pukul 00.00
Ekspor Batu Bara hingga November 2025 Drop, Ini Biang Keroknya
Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengungkapkan terkontraksinya volume ekspor batu bara Indonesia sepanjang Januari—November 2025 dipengaruhi melemahnya permintaan di negara tujuan utama Indonesia dan ketidakpastian kebijakan.
Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menyatakan peningkatan produksi di negara tujuan ekspor utama, seperti China dan India, menjadi faktor utama turunnya kinerja ekspor batu bara Tanah Air.
“Penurunan kinerja ekspor batu bara sepanjang 2025 terutama dipengaruhi oleh melemahnya permintaan akibat peningkatan produksi domestik di negara tujuan utama, seperti China dan India,” kata Gita ketika dihubungi, Selasa (6/1/2026).
Di sisi lain, Gita menegaskan ketidakpastian kebijakan di dalam negeri turut menekan daya saing ekspor Indonesia di pasar global.
Produksi Melemah
Sementara itu, Gita mencatat produksi batu bara sepanjang Januari—November 2025 mencapai sebanyak 731,5 juta ton.
Jika dibandingkan dengan kinerja produksi batu bara Januari—November 2024, produksi batu bara Tanah Air terkontraksi sekitar 5,8% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 776,7 juta ton.
Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor batu bara secara volume terkoreksi 3,9% ke level 354,64 juta ton sampai periode yang berakhir November 2025, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 369,31 juta ton.
Berdasarkan nilainya, ekspor batu bara sepanjang Januari sampai November 2025 minus 20,27% ke level US$22,17 miliar atau sekitar Rp371,3 triliun (asumsi kurs Rp16.748 per dolar AS).
Torehan kinerja ekspor komoditas emas hitam itu terpaut lebar dari capaian sepanjang periode yang sama tahun sebelumnya di level US$27,8 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan koreksi nilai ekspor batu bara itu ikut dibarengi dengan susutnya pengiriman batu bara secara volume sepanjang Januari sampai November tahun ini.
“Secara kumulatif ekspor batu bara turun 20,27%,” kata Pudji dalam konferensi pers secara daring, Senin (1/5/2026).
Harga batu bara menutup perdagangan 2025 di jalur hijau. Namun, sepanjang tahun lalu, harga si batu hitam ambrol.
Pada Rabu (31/12/2025), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$ 107,5/ton. Menguat 0,8% dibandingkan hari sebelumnya.
Harga batu bara bangkit usai terkoreksi dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, harga terpangkas 2,2%. Sepanjang 2025, harga komoditas ini melorot 14,17%.
Seiring kesadaran akan kelestarian lingkungan yang makin tinggi, batu bara kurang mendapat tempat. International Energy Agency (IEA) melaporkan, permintaan batu bara global pada 2025 diperkirakan naik 0,5% ke 8,85 miliar ton. Ini memang menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Akan tetapi, ke depan permintaan akan melandai dan memuncak pada 2030. Ekspansi penggunaan energi baru-terbarukan kian menggusur peran batu bara.
Bahkan di China, konsumen batu bara terbesar dunia, puncak penggunaan batu bara sepertinya akan mencapai puncak sebelum 2030.
IEA memperkirakan permintaan batu bara China akan menurun secara bertahap selama lima tahun ke depan.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada