Kabar Bursa
Tayang pada
13 April 2026 pukul 00.00
Cofiring Batu Bara Jadi Strategi Transisi Menuju Energi Lebih Bersih
KABARBURSA.COM — Di tengah tekanan global untuk menurunkan emisi karbon, Indonesia masih menghadapi dilema lama. Ketergantungan pada batu bara belum benar-benar surut di tengah target transisi energi.
Data pemerintah menunjukkan, lebih dari separuh bauran energi nasional masih bertumpu pada batu bara. Kondisi ini membuat transisi menuju energi bersih tidak bisa dilakukan secara drastis. Di sinilah teknologi cofiring batu bara dan biomassa kembali didorong sebagai jalan tengah.
Cofiring sendiri merupakan teknologi pembakaran campuran antara batu bara dan bahan bakar biomassa dalam satu sistem pembangkit listrik. Biomassa yang digunakan biasanya berasal dari limbah organik seperti sekam padi, cangkang sawit, serbuk kayu, hingga sampah rumah tangga yang telah diolah.
Melalui metode ini, sebagian porsi batu bara digantikan oleh biomassa, sehingga intensitas emisi karbon dapat ditekan tanpa harus mengubah secara total infrastruktur pembangkit listrik tenaga uap yang sudah ada.
Alih-alih langsung mematikan pembangkit listrik tenaga uap, pemerintah dan pelaku riset melihat cofiring sebagai solusi transisi. Teknologi ini memadukan batu bara dengan biomassa sehingga emisi bisa ditekan tanpa harus menghentikan operasi PLTU secara langsung.
Pendekatan ini dinilai realistis dalam jangka pendek. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan apakah cofiring benar-benar solusi energi terbarukan atau sekadar cara menunda peralihan dari energi fosil.
Indonesia sebenarnya memiliki modal kuat untuk mengembangkan cofiring. Sumber biomassa tersedia dalam jumlah besar, mulai dari limbah pertanian hingga sampah rumah tangga.
Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menunjukkan potensi biomassa domestik cukup melimpah. Hutan tanaman energi di Indonesia mencapai sekitar 991 ribu ton, serbuk gergaji 2,4 juta ton, serpihan kayu 789 ribu ton, cangkang sawit 12,8 juta ton, hingga sampah rumah tangga mencapai 68,5 juta ton.
Angka ini menunjukkan satu hal penting. Secara bahan baku, Indonesia tidak kekurangan sumber energi alternatif. Tantangannya justru ada pada bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi sistem energi yang benar-benar efisien dan terintegrasi.
Di level implementasi, teknologi cofiring belum sepenuhnya tanpa masalah. Salah satu isu utama adalah slagging dan fouling, yakni pembentukan kerak dalam proses pembakaran suhu tinggi yang bisa menurunkan efisiensi pembangkit.
Periset BRIN, Datin Fatia Umar, menjelaskan tantangan ini mulai menemukan solusi melalui pendekatan teknologi material.
“BRIN telah berhasil membuktikan bahwa penggunaan biomassa sekam padi dan cangkang sawit serta penambahan mineral kaolin magnesit serta abu arang dapat melepaskan slag yang terbentuk pada saat pembakaran,” ujarnya, dilansir dari laman BRIN, Sabtu, 11 April 2026.
Temuan ini membuka peluang bahwa hambatan teknis bisa diatasi. Namun skala implementasi masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Cofiring Bukan Nol Emisi
Meski sering disebut sebagai bagian dari energi terbarukan, cofiring tetap menghasilkan emisi karbon. Bedanya, emisi tersebut bisa ditekan dan sebagian dapat diserap kembali melalui skema seperti hutan tanaman energi.
Dalam konteks ini, cofiring lebih tepat diposisikan sebagai solusi transisi, bukan solusi akhir menuju net zero emission.
Pendekatan ini menjadi kompromi antara kebutuhan menjaga pasokan listrik dan tuntutan pengurangan emisi. Namun bagi investor dan pelaku industri, posisi ini juga membuka ruang pertanyaan baru.
Bagi pemerintah, cofiring menawarkan solusi praktis. Infrastruktur PLTU tetap bisa digunakan, biaya transisi lebih terkendali, dan pasokan listrik relatif aman.
Namun bagi investor, arah ini perlu dibaca lebih dalam. Di satu sisi, cofiring membuka peluang bisnis baru di sektor biomassa dan pengelolaan limbah. Di sisi lain, ketergantungan pada batu bara masih menjadi risiko jangka panjang di tengah tekanan global terhadap energi fosil.
Di titik ini, cofiring berada di wilayah abu-abu. Ia bisa menjadi pintu masuk energi terbarukan, tetapi juga berpotensi menjadi penahan laju transformasi.
Ke depan, keberhasilan cofiring tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kebijakan dan ekosistem pendukung. Tanpa integrasi rantai pasok biomassa, insentif ekonomi, serta arah kebijakan yang jelas, teknologi ini berisiko berhenti di tahap pilot project.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada