VALID NEWS
Tayang pada
BKPM Ungkap Penyebab Hilirisasi Batu Bara 'Jalan Di Tempat'
JAKARTA - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengakui nilai tambah hilirisasi batu bara tidak sebesar komoditas lain seperti nikel dan bauksit.
Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rizwan Aryadi Ramdhan menyampaikan, karakteristik keekonomian tersebut yang menjadi salah satu penyebab lambatnya proyek hilirisasi batu bara.
"Kalau dilihat nilai tambah, memang untuk turunan batu bara ini tidak terlalu besar dibandingkan dengan komoditas lain di mineral seperti nikel atau mungkin bauksit," jelas Rizwan kepada awak media, Jakarta, dikutip Kamis (30/7).
Rizwan mengatakan, nilai tambah hilirisasi batu bara menjadi produk seperti Dimethyl Ether (DME) maupun metanol tidak lebih dari 10 kali lipat dibanding batu bara mentah.
Sementara di sisi lain, perusahaan harus merogoh investasi yang cukup besar untuk membangun proyek hilirisasi batu bara. Misalnya, PT Bumi Etam Chemical (BEC) yang merogoh kocek US$2,3 miliar untuk menyulap 'emas hitam' menjadi metanol.
"Jadi nilai tambah itu enggak lebih dari 10 kali lipat dari batu baranya sendiri. Jadi dengan nilai investasi seperti tadi itu (BEC) US$2,3 miliar, tapi nilai tambahnya tidak terlalu besar, kayaknya effort-nya terlalu besar dibandingkan dengan profit yang mungkin akan didapatkan," bebernya.
Kendala Teknologi Hilirisasi Batu Bara
Di samping itu, teknologi yang pas juga menjadi pekerjaan rumah dalam menyukseskan agenda hilirisasi batu bara. Saat ini, pemerintah masih terus mengulik teknologi paling efisien untuk menjalankan agenda hilirisasi batu bara sesuai peta jalan yang telah disusun.
"Ya teknologi ada, tapi memang kalau kami kan sudah sempat menyusun peta jalannya. Makanya mungkin ini belum ketemu teknologi yang bisa lebih efisien, lebih murah, dan mungkin demand-nya sudah dapat yang bisa membeli produk yang akan dihasilkan jadi bisa ketemu skala ekonominya," kata Rizwan.
Tapi di lain sisi, pemerintah menyambut baik inisitif BEC yang telah menandatangani dua perjanjian penting, yakni Front End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) bersama dua kontraktor kelas global, yaitu PT Istana Karang Laut dan China National Chemical Engineering Co. Ltd. (CNCEC).
Rizwan berharap, kemajuan proyek gasifikasi coal-to-methanol yang dijalankan perusahaan patungan PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia itu bisa memantik kegiatan hilirisasi batu bara oleh perusahaan lain.
"Ya memang ada beberapa minat investasi dari negara-negara lain yang masuk, tapi memang masih sebatas minat," imbuhnya.
Meski nilai tambah tak sebesar nikel atau bauksit, Rizwan menyebut saat ini industri hilirisasi batu bara sudah makin ekonomis dibanding beberapa tahun lalu, terutama saat Air Products memutuskan untuk mundur dari kerja sama dengan PT Bukit Asam Tbk.
"Kalau untuk proyek lainnya kan kemarin yang diumumkan Danantara kan ada juga tuh yang DME, tapi bukan yang metanol sih, dan itu mungkin kita akan coba kawal juga. Jadi harapannya bisa memberikan gambaran bahwa industri hilirisasi batu bara ini mempunyai nilai komersial yang lebih baik dari sebelumnya," pungkasnya.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada