KONTAN
Tayang pada
11 Februari 2026 pukul 00.00
Begini Rekomendasi Saham Bukit Asam (PTBA) di Tengah Gejolak Harga Batubara
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Laba bersih PT Bukit Asam Tbk (PTBA) turun di periode sepanjang Januari – September 2025. Fluktuasi harga batubara menjadi salah satu faktor penentu kinerja PTBA di tahun 2026.
PTBA mengantongi pendapatan Rp 31,33 triliun per kuartal III-2025, naik 2% secara year on year (yoy). Namun laba bersih merosot 56,25% menjadi Rp 1,4 triliun dalam sembilan bulan pertama 2025.
Sukarno Alatas, Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas mengatakan, kenaikan pendapatan didukung oleh volume penjualan batubara yang lebih tinggi meskipun ada tekanan dari harga jual rata – rata (ASP) yang lebih rendah.
Tercatat kinerja ekspor PTBA bervariasi, dengan pertumbuhan yang kuat ke Bangladesh (naik 287% yoy), Filipina (naik 239% yoy) dan Taiwan (naik 49% yoy). Tetapi diimbangi oleh penurunan tajam ke pasar utama seperti China (turun 75% yoy), India (turun 46% yoy), Korea (turun 51% yoy), dan Vietnam (turun 33% yoy).
Secara operasional, produksi batubara meningkat menjadi 35,9 juta Metrik Ton (MT), naik 9% yoy dan volume penjualan menjadi 33,7 juta MT (naik 8% yoy). “Namun, harga jual rata – rata (ASP) turun 6% yoy menjadi Rp 0,91 juta/ton, membatasi peningkatan pendapatan,” ujar Sukarno dalam risetnya pada 14 Januari 2026.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, prospek kinerja PTBA pada kuartal I-2026 masih cukup stabil. Tapi belum ada tanda akan menguat signifikan. Kinerja PTBA di awal tahun biasanya paling dipengaruhi harga batubara, volume penjualan, dan biaya/logistik.
“Jadi selama harga batubara masih fluktuatif dan pasar global belum benar-benar “risk-on”, pergerakannya akan cenderung naik-turun, walaupun bisnisnya tetap jalan,” ujar Ekky kepada Kontan, Senin (9/2/2026).
Ekky menambahkan, tantangan utama PTBA di kuartal I – 2026 ada di volatilitas harga batubara, kondisi demand ekspor (China/India), dan faktor cuaca yang bisa mengganggu produksi/angkutan. Serta kebijakan pemerintah (DMO, royalti, aturan teknis) yang bisa memengaruhi margin. Jadi sentimen yang perlu dicermati investor tetap tren harga batubara, update volume penjualan, dan perkembangan regulasi.
Sementara itu, Helen, Analis Philip Sekuritas Indonesia menyoroti ekspansi yang dilakukan PTBA. Kemajuan perluasan transportasi batubara Tanjung Enim–Keramasan yang telah mencapai 58%, diharapkan dapat memperkuat infrastruktur logistik end to end perusahaan.
“Optimalisasi kapasitas pelabuhan juga sedang berlangsung, dengan target peningkatan kapasitas Tarahan dari 27,5 juta MT menjadi 28,0 juta MT dan Kertapati dari 8,0 juta MT menjadi 8,5 juta MT,” kata Helen dalam risetnya pada 19 Desember 2025.
Helen juga melihat strategi bauran penjualan yang dilakukan perusahaan. PTBA mempertahankan portofolio penjualan yang seimbang, dengan penjualan ekspor menyumbang 44% dari total volume dan penjualan domestik mencapai 56%.
Segmen domestik tetap ditopang oleh PLN, yang menyerap 37% dari total penjualan PTBA. Pembangkit listrik di sekitar tambang menyumbang 9%. Sementara pembeli domestik lainnya menyumbang 10%.
“Risiko potensial terhadap PTBA meliputi fluktuasi harga batubara dan kebijakan iklim yang terus berkembang,” kata Helen dalam risetnya pada 19 Desember 2025.
Dilihat dari kinerja saham, Research Analyst BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana mengatakan, saham PTBA bisa menjadi pilihan bagi investor yang mencari dividen. Lutfi melihat pergerakan saham PTBA saat ini sudah memasuki fase uptrend.
“Untuk investor yang dividen hunter, PTBA ini salah satu dengan deviden terbesar,” ucap Lutfi, Senin (9/2/2026).
Sukarno memproyeksikan, potensi total imbal hasil dividen PTBA sebesar 7,7% pada tahun 2026 dan 5,7% pada tahun 2027 dengan asumsi dividend payout ratio (DPR) 75%. Risiko negatif utama meliputi perlambatan global, harga batu bara yang bergejolak, penguatan rupiah, transisi energi, dan perubahan regulasi.
Sukarno memperkirakan, pendapatan dan laba bersih PTBA tahun 2025 masing – masing sebesar Rp 43,6 triliun dan Rp 2,2 triliun.
Sedangkan, untuk pendapatan dan laba bersih tahun 2026 diperkirakan masing-masing mencapai Rp 42,9 triliun dan Rp 3,2 triliun. Adapun tahun 2024, PTBA mengantongi pendapatan Rp 42,7 triliun dan laba bersih Rp 5,1 triliun.
Sukarno dan Helen memberikan rekomendasi saham hold PTBA dengan target harga masing – masing Rp 2.670 per saham dan Rp 2.400 per saham.
Sementara Lutfi dan Ekky merekomendasikan Buy on Weakness saham PTBA dengan target harga masing – masing Rp 2.900 per saham dan Rp 2.900 – Rp 3.000 per saham.
Sumber:
Artikel Lainnya
Liputan 6
Tayang pada
1,76 Juta Metrik Ton Batu Bara Disebar ke 4 PLTU Jaga Listrik di Jawa Tak Padam
Bisnis Indonesia
Tayang pada
10 dari 190 Izin Tambang yang Dibekukan Sudah Bayar Jaminan Reklamasi
IDX Channel.com
Tayang pada
10 Emiten Batu Bara Paling Cuan di 2024, Siapa Saja?
METRO
Tayang pada
10 Negara Pengguna Bahan Bakar Fosil Terbesar di Dunia
CNBC Indonesia
Tayang pada