Tayang pada
APBI-ICMA Soroti Stabilitas Harga dan Logistik Batu Bara Asia

Dalam sesi Coal Trade Forum pada ICEE Indonesia–China Coal & Energy Conference 2026 (11/5), Ketua Komite Logistik APBI-ICMA sekaligus perwakilan PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Tulus Situmeang, menyoroti perubahan besar yang tengah terjadi pada perdagangan batu bara Asia di tengah tekanan geopolitik global dan meningkatnya biaya logistik internasional.
Menurutnya, pasar batu bara saat ini tidak lagi berada pada fase lonjakan ekstrem seperti periode krisis energi 2021–2022. Ia menilai kenaikan harga batu bara sejak April 2026 lebih banyak dipicu kenaikan biaya pengiriman dan risiko geopolitik dibanding persoalan fundamental pasokan.
“Pasar yang terlalu tinggi juga bukan kondisi yang sehat. Yang dibutuhkan industri adalah harga yang stabil dan bisa diterima pasar,” ujar Tulus.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah di berbagai negara kini semakin aktif menggunakan instrumen impor dan ekspor untuk menjaga keseimbangan supply-demand energi domestik.
Dalam paparannya, Tulus juga menegaskan bahwa Indonesia masih menjadi pemasok utama batu bara China dengan pangsa lebih dari 40% impor batu bara China, terutama untuk batu bara kalori menengah dan rendah.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pasar China kini semakin sensitif terhadap selisih harga antara batu bara impor dan domestik. Ketika harga impor terlalu tinggi, pembeli China cenderung mengurangi volume pembelian dan beralih ke pasokan domestik.
“Jika harga impor tidak lagi kompetitif dengan domestik China, maka tekanan terhadap impor akan semakin besar,” katanya.
Selain faktor harga, Tulus juga menyoroti pentingnya stabilitas indeks harga batu bara dan transparansi pasar dalam menjaga keberlangsungan perdagangan jangka panjang Indonesia–China.
Menurutnya, koordinasi antara pemerintah, asosiasi, produsen, pembeli, hingga pelaku logistik menjadi semakin penting untuk menjaga kestabilan pasar regional di tengah volatilitas global.
Ia menambahkan bahwa hubungan Indonesia dan China kini tidak lagi hanya sebatas hubungan dagang, tetapi telah berkembang menjadi kemitraan strategis dalam menjaga ketahanan energi kawasan Asia.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah komunikasi, koordinasi, dan stabilitas pasar yang bisa diterima semua pihak,” ujarnya.
Tulus menilai keberlanjutan rantai pasok, efisiensi logistik, dan kepastian kebijakan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah perdagangan batu bara Asia ke depan.



