Pakai Kapal Lokal Ditunda, Eksportir Tetap Wajib Pakai Asuransi Lokal

Pakai  Kapal Lokal  Ditunda, Eksportir  Tetap  Wajib  Pakai  Asuransi  Lokal
JAKARTA, APBI-ICMA : iNews.id 9 April 2018 memberitakan bahwa Kementerian Perdagangan (Kemendag) akhirnya mengakomodasi keluhan para eksportir untuk menunda kewajiban eksportir untuk menggunakan kapal lokal. Kemendag memutuskan untuk menunda aturan itu selama dua tahun, namun eksportir tetap wajib untuk menggunakan jasa asuransi lokal. Hal itu sudah dipastikan dalam revisi atas Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 82 Tahun 2017 tentang Ketentuan Penggunaan Angkutan Laut dan Asuransi Nasional untuk Ekspor dan Impor Barang Tertentu. "Diundur jadi dua tahun yang kapal," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di kantornya, Jakarta, Senin (9/4/2018). Dalam aturan sebelumnya, ada tiga kategori yang wajib menggunakan kapal dalam negeri adalah eksportir yang mengekspor batu bara dan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), importir beras, dan importir yang mengangkut barang pengadaan pemerintah. Mereka juga diwajibkan untuk menggunakan asuransi dalam negeri. Berbeda dengan kapal, Enggar mengatakan, mereka tetap wajib menggunakan asuransi dalam negeri. "Untuk asuransi enggak (berubah). Tetaplah ya, apa urusannya asuransi," katanya. Aturan tersebut sebenarnya bertujuan untuk memperbaiki neraca perdagangan jasa yang defisit sejak 2012. Pasalnya, para eksportir selama ini kerap menggunakan kapal dan asuransi asing. Dengan begitu, lewat aturan ini mereka diharapkan untuk menggunakan kapal dalam negeri. Indonesia National Shipowners Association (INSA) pun menyambut baik aturan ini karena akan membuat industri perkapalan dalam negeri yang selama ini menjadi penonton, bisa berkembang.Namun, para eksportir keberatan dengan aturan tersebut. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya mengatakan, industri perkapalan dalam negeri belum siap sehingga dikhawatirkan akan menghambat ekspor. Untuk mengangkut komoditas tersebut memerlukan kapal besar dengan berat minimal 70.000 DWT (deadweight tonnage). Memang tidak banyak perusahaan perkapalan lokal yang mempunyai kapal sebesar itu. Selain itu, dibutuhkan investasi setidaknya Rp 350 miliar untuk membuat satu kapal besar. Persoalan lain juga muncul terkait masalah tarif. Menhub mengatakan, para eksportir mengaku keberatan dengan kewajiban tersebut karena tarif kapal lokal biasanya lebih mahal dibandingkan kapal asing. Sumber : http://www.inews.id/finance/read/pakai-kapal-lokal-ditunda-eksportir-tetap-wajib-pakai-asuransi-lokal?sub_slug=bisnis

Related Regular News: